Barang ‘terlarang’ yang paling familiar dalam hidup saya adalah rokok. Saya kira hampir semua menganggukan kepala untuk pernyataan ini. Hampir seluruh hidup saya dilakonin sama para perokok. Dan bahkan sampai saat ini.

Ayah saya seorang perokok kelas cukup berat nampaknya. Tiada hari tanpa rokok. Walaupun tidak sebrengsek itu sampai di dalam rumah masih mengebulkan asap, tidak. Dan tidak pernah juga beliau sebegitu bangsatnya (maafkan kata-kata saya ini tapi ini memang maksudnya buat menyindir!) sampe nyuruh anak untuk beli rokok di warung. Biasanya beliau merokok itu di warung depan rumah atau di pelataran kebun bersama rekan-rekannya.

Hidup bersama kami juga pada beberapa tahun awal hidup saya adalah dua orang adik laki-lakinya ibu yang walaupun mereka menempati kamar di bagian kedua rumah, tapi tetap saja ada pintu penghubung langsung masuk ke dalam ruang tengah sehingga saya pun saat kecil sering bermain-main di kamar mereka.

Dua-duanya perokok. Dua-duanya nampaknya sangat bangga mengenai itu sampai-sampai membuat seakan plakat yang dikumpulkan dari bungkus-bungkus rokok bekas.

Maka bungkus bekas rokok itupun menjadi salah satu permainan saya ketika kecil.

Main lego pakai bungkus rokok.

Kalau main orang-orangan (gambar-gambaran) bungkus rokok itupun menjadi salah satu benda yang berharga. Bagaimana tidak, itu bisa dipergunakan sebagai mobil-mobilan si tokoh. Bisa pula dijadikan tempat tidurnya. Bahkan kalau sudah kebanyakan, bisa digunting-gunting untuk dijadikan meja dan kursi segala.

Bagaimana dengan penganan?

Uwoh banyak pula!

Ada permen serbuk berbentuk rokok-rokok-an yang biasa kami beli dan makan bersama-sama. Tapi sebelum dimakan, permen itu akan kami isap-isap dengan gaya perokok yang kami lihat setiap kali.

Fiuuuuuuhhhh!

Selain permen serbuk, dulu pun ada cokelat-cokelat murah yang bungkusnya persis seperti bungkus rokok. Kemudian permen karet yang dibentuk seperti rokok. Bahkan suatu kali Bang Ama, sepupu sekaligus sahabat saya saat kecil pernah membuat dompet-dompetan pakai bungkus rokok. Dan memang benda itu bisa dibentuk aneka ragam prakarya kalau kita, dan memang kita dulu, kreatip.

Belon banyak saluran TV, bok! Jadi waktu main banyak!!

Saat saya menulis ini, teman saya Rambo nambah-nambahin bahwa dulu waktu masa kecilnya, beberapa guru bahkan dengan enak bisa aja merokok di dalam kelas. Dan itu sudah biasa.

Well, kalo yang terakhir itu Alhamdulillah, deh, saya gak pernah mengalami. Soalnya dari kecil saya sekolah di sekolah swasta yang cukup ketat. Kayaknya salah satu peraturan di sekolah saat itu adalah tidak memperbolehkan guru untuk merokok di kelas. Dan begitupun saat mondok dulu. Saat itulah saya otomatis bersih melihat orang merokok di sekitar saya saat di asrama.

Tidak bisa dipatok secara umum, loh, ini..

Salah satu kawan saya pernah mengatakan soalnya bahwa di pesantrennya dulu justru disitulah dia belajar merokok. Para kiayi-nya ngajar sambil ngerokok, bok!

Intinya sepanjang atas itu sebenernya adalah bahwa kita ini begitu dibiasakannya dengan rokok! Dari sekitar kita. Gak usah dihitung jaman dulu berapa adegan orang ngerokok di film!

Sementara benda-benda terlarang yang lain, katakanlah minuman beralkohol maupun daging babi itu sangat jauh-jauh dari pandangan. Sampai saat ini saya bahkan gak pernah melihat orang lagi makan daging babi secara liv. Melihat bentuk dagingnya pernah! Di supermarket. Itu juga udah berbentuk sosis-sosis gitu. Sementara minuman beralkohol pun gak pernah lihat secara live, walaupun saya pernah pacaran dengan seseorang yang suka minum juga sesekali kalau lagi ngumpul bareng temen-temen senimannya. Tapi toh saya tidak pernah melihatnya secara langsung walaupun sempat beberapa kali ikut membersihkan sisa-sisa dosanya, hehe..

Atau mungkin memang dibentuk dari pendapat di sekitar aja. Makan babi itu menjijikan (maaf untuk nonmuslim, ini cuma pendapat umum di keluarga saya yang muslim taat yang bilang daging babi menjijikan padahal nyobain aja belon pernah), orang minum beralkohol itu brengsek. Kalo gak percaya liat aja di TV orang suka mabok itu tukang pukul anak istri, nganggur, judi, dan mati! Sementara orang merokok… eh, maaf, salah! Laki-laki merokok itu biasa. Beneran, itu biasaaa… Bahkan Ibu saya dulu sering bilang:

‘Mama gak suka laki-laki masih minta duit sama orangtua aja ngerokok! Kalau udah punya duit sendiri, terserah, deh! Pokoknya anak laki Mama musti kerja dulu baru boleh ngerokok!’

Saya suka menimpali:

Kalo anak perempuan juga?

Jawabannya:

‘Perempuan ngerokok itu binal!’

*gabruk!!!

Jadi kenapa saya tau-tau ngoceh panjang lebar mengenai ini?

Gara-garanya kemarin, kami melihat pemandangan yang menarik plus miris saat ada anak kecil main masak-masakan dan rumah-rumahan pake bungkus-bungkus rokok bekas. Awalnya rada nostalgia juga, sih! Saya gak pernah lihat lagi anak kecil mainan bungkus rokok sudah sangat lama.

Kemudian jadinya sebel.

Misuh-misuh pula sama si Rambo yang cuma ngomong:

‘Ya, coba Lo tegor aja orangnya? Ngapain ngomel melulu.’

Males, gak, sih?

Kenapa gak Lo yang negor. Kayaknya lebih pas, tuh.

‘Kan, Elo yang ngomel-ngomel. Gua gak pernah ngerokok, sih. Jadi gua gak segitu bencinya sama perokok.’

Tapi kan itu tugas Lo sebagai penganyom kesehatan masyarakat, Ram.

*pasangmukaserius

*dijitakRambo

Well…

Saya coba, dah!

Samperin.

Kebetulan si bapak nungul.

‘Eh, Bu Guru. Aya naon, nya?’

Maaf, ya, Pak. Kalo bisa anaknya jangan mainan bungkus rokok, Pak. Dibuang aja bungkusnya. Nanti kasihan, Pak, anaknya. Jadi kan rasanya Bapak ngajarin anaknya buat terbiasa sama rokok.

‘Oooow… Gitu, ya, Bu…’

Bapak tau kan kalau rokok itu gak bagus buat kesehatan.

‘Iya, saya juga tau Bu Guru. Tapi gimana, ya. Mau berhenti teh hese pisan!’

Iya tapi kalo dikumpulin dan buat mainan anak itu jadinya ngajarin, loh, Pak. Nyruh anak beliin rokok juga sama aja. Gak usahlah mereka meneruskan kebiasaan buruk kita, kan, Pak?

‘Iya, iya… Makasih, ya, Bu Guru..’

Dia langsung mengambil bungkus-bungkus rokok dan dengan tanpa memerdulikan protes anaknya, dibuangnya itu semua ke tempat sampah. Diinjek-injek sampai hancur semuanya.

Weh… Ternyata berjalan lancar, bok!

Walaupun katanya Anne sih ya mungkin karena dia menghormati saya aja makanya langsung nurut. Karena yang ngasih tau Bu Guru (inget kita di desa) yang lagi jalannya juga sama Pak Dokter. Coba kalo yang negur itu tukang sampah. Pasti langsung disewotin dianggap ikut campur.

Yaaa, itu bisa aja, sih! Tapi saya ingat cerita seorang kawan jaman kuliah dulu saat kami naik angkot menuju kampus dan ada bapak-bapak merokok di angkot, dia tegur gitu aja.

‘Pak, jangan ngerokok di sini, dong.. Kan gak enak asapnya dihirup semua orang.’

Tanggapan orang itu?

Dia minta maaf dan langsung mematikan rokoknya.

Maka saya pun teringat dengan tulisannya Ahmad Deedat pada suat subjek yang jauh berbeda. Beliau menulis, kalau tidak salah tentu saja karena sangat mustahil saya ingat lengkap redaksionalnya, pernahkah kita pernah mencoba untuk menjelaskan dengan baik-baik? Kalau tidak, cobalah sesekali. Karena kita tidak pernah tau tentang orang yang berhadapan di depan kita. Mungkin dia memang orang yang terbuka, hanya tidak tahu atau tidak ada yang memberi tahu.

Jadi bilang aja, daripada sewot sendirian dan ngasih muka asem! Kalo gak mau, yaudah! Pasang masker!