Beranda > hidup > Paraji II: Satu Oksigen Berdua

Paraji II: Satu Oksigen Berdua

Kisah-kisah sedih dalam keluargaku seringnya datang dari keluarga yang berdomisili di KM. Etapi jangan kira kalau saudara-saudara dari sana selalu penuh air mata jika berbincang-bincang. Sebaliknya malahan, mereka orang-orang yang selalu ceria dengan kisah yang lucu minta mampus. Ketawa melulu. Sebagaimana ciri khas orang Betawi.

Walaupun kisah yang mereka utarakan tekadang sedihnya gak kira-kira.

Keluarga yang tinggal di KM adalah keluarga betawi yang terkadang rasanya berbeda sekali dengan lingkungan betawi di kampung tempat saya tumbuh besar. Pada suatu hari barulah saya mengerti bahwa yang namanya orang betawi pun selalu sama. Bahkan sebenernya ada tiga masyarakat betawi yaitu masyarakat Betawi tengah atau Betawi gedong, pinggir dan udik. Betawi tengah (gedong) yang walaupun banyak tetap memegang teguh agama dan tradisi pun tinggal di daerah-daerah kampong di Jakarta maupun Jawa Barat, namun biasanya berpendidikan tinggi  dan menyesuaikan diri dengan modernitas. Tapi walaupun begitu, biasanya kehidupan  tetap sederhana dan memang begitulah pandangan masyarakat betawi pada umumnya. Orang yang dihormati pada masyarakat betawi itu adalah orang yang baik, bukan orang yang kaya ataupun punya jabatan.

Masyarakat betawi udik adalah masyarakat betawi yang paling rendah dalam tingkat ekonomi dan pendidikannya. Sangat terpengaruh oleh budaya Cina (betawi itu memang hasil kawin campuran dari berbagai suku termasuk keturunan China dan Arab) dan merupakan satu-satunya masyarakat betawi yang tidak terlalu kental peran agama islamnya. Sementara itu masyarakat betawi pinggir sama menekankan bidang pendidikan dengan betawi tengah (gedong) namun dalam berbeda pandangan. Jika masyarakat Betawi tengah mengutamakan pendidikan umum sama besarnya dengan pendidikan agama, pada betawi pinggir justru sangat menekankan pendidikan agama. Dahulu mereka bahkan menolak untuk memasukkan anak-anak mereka ke sekolah formal dan lebih memilih pengajian serta pesantren-pesantren tradisional, sampai saat ini pun masih tetap bertahan dengan pendapat agama secara tradisional. Perbedaan pandangan ini pada akhirnya mempengaruhi budaya juga.

Jadi walaupun satu suku, terkadang rasanya sungguh berbeda.

Dulu Ibu berkisah bahwa pertama kalinya Ayah (Betawi) berkunjung ke KM adalah saat nganterin paman (Sunda. Adiknya Ibu) untuk melamar istrinya yang orang betawi asli di situ. Maksudnya sih kan ayah orang Betawi, jadi bisa lebih ngerti, dong!

Ternyata enggak, tuh! Sama ruwetnya. Sampai sempat terjadi salah paham segala dan salah satu laki-laki dari keluarganya bibi sempat mengeluarkan golok langsung dihunuskan ke depan wajah ayah sembari berteriak:

‘LO ORANG BETAWI BUKAN?’

*jegrek!

Ibu pingsan.

Eniwei, dua orang anggota keluarga berpulang pada bulan ini saya kira itupun sudah terlalu banyak, tau-tau datang kabar bahwa dua anaknya sepupu yang tinggal di KM meninggal dunia satu hari setelah mereka dilahirkan. Kaget bukan kepalang tentu saja. Setahu saya mereka baik-baik saja.

Tapi saya ingat, keadaan tidak terlalu baik-baik saja juga.

Beberapa waktu sebelumnya, sepupu pernah dirawat di RS karena ada masalah pada kandungannya. Saat itu, Ibu saya sempat berdebat dengan keluarga dari pihak sepupu ini. Ibu saya kekeuh surekeuh memohon agar sepupu mempertahankan kandungannya sampai cukup usia untuk dilahirkan sedangkan keluaganya berpendapat agar dilahirkan saja. Toh sudah tujuh bulan. Banyak kok yang bayinya lahir masih tujuh bulan dan oke-oke aja.

Ibu saya sampe bawa-bawa saya segala katanya biar keliatannya oke, tapi namanya lahir prematur itu pasti ada apa-apanya. Liat aja si AL. Jantungnya bermasalah.

*kabur ah!

Kata-kata ibu saya ini didukung sama dokter yang merawat sepupu. Bukan bahwa bayi lahir premature pasti kelainan jantung, ya. Bukaaaaan. Didukungnya mengenai agar bayinya di pertahankan dengan alasan bahwa berat badan si bayi masih sangat kecil dan bayinya pun masih terlalu muda.

Tapi, yah, ternyata mereka ngangguk-ngangguk aja di depan dokternya. Sampe di rumah, dibawalah sepupu ke paraji (dukun beranak) setempat. Alasannya, sih, tadinya niat cuma mau pijit aja. Trus kata parajinya, sepupu saya udah siap untuk melahirkan.

Di sini saya bener-bener gak ngerti, deh! Gak ngerti gak ngerti!!!

Kisah terus berjalan dan semakin membuat saya gak habis pikir tentang apa yang terjadi.

Bagaimanapun, bayinya yang kembar itu dilahirkan dengan selamat, untuk sementara. Tapi toh butuh perawatan intensif minimal dua minggu. Kami tentu saja menyarankan untuk segera di bawa ke rumah sakit saja dan sang suami mengiyakan.

Tapi iya ternyata hanya tinggal iya.

Dia membawa dua-dua bayinya ke rumah sakit terdekat yang langsung meminta biaya seratus juta rupiah atau duapuluh juta pehari selama dua minggu untuk perawatan. Mendengar bahwa harganya segitu, dia langsung mundur begitu saja.

Jangan kepikiran kalo sepupu saya yang ini miskin. Sebaliknya malahan. Dia cukup mampu hanya saja baru  habis-habisan keluar duit untuk penyelenggaraan pesta nujuh bulanan.

Doh, rasanya ingin berteriak sambil nampar. Tradisi itu tetep dijalankan dengan kesadaran, dong, Bang! Kalo lo kaya raya kagak papa dah mau nujuhbulanannya pesta nasi kebuli sebulan penuh, kek! Tapi kalo pas-pasan, udahlah gak usah belagak segala! Nyang penting itu persiapan buat melahirkan yang pastinya bakalan butuh banyak duit! Jangan ngedumel aja sepanjang jalan Thamrin kalo disuruh Caesar sama Bidan tapi ho-oh aja pas disuruh bikin selametan meriah sama yang maha mulia Habib!

Mana tuh buktinya manaaa! Udah selametan tiga hari tiga malem sekampung kekenyangan nasi kebuli toh tetep gak selamet juga, kan?!

Lebih pengen nampar lagi dengan kenyataan bahwa hal itu disimpennya sendiri dan gak cerita-cerita ke sodara.

Akhirnya, dua bayi itu dibawa lagi ke rumah Paraji. Saat itu tentu keadaannya sudah jauh lebih buruk. Sang bayi telah semakin lemah. Dan satu-satunya asupan yang diberikan adalah air puth pakai gula yang disendokkan ke mulut sang bayi.

Soalnya katanya, air susu ibunya juga belon keluar.

Jadi pake aer sama gula aja.

*gampardiri

Lagian kesian emaknya masih kecapekan harus nyusuin bayinya.

*lah?

Yaitulah namanya ibu dari Sabang sampe Marauke, dari Kutub Utara sampe Kutub Selatan emang gitu kerjaannya. Habis melahirkan musti kudu merengkuh dan nyusuin anaknya! Sama kayak laki-laki itu kudu mau nyari duit untuk menafkahi istri dan anak-anaknya!

Kemudian, baru lepas Isya, Sang bayi mulai kesulitan bernafas. Paraji minta agar keluarga membelikan oksigen. Tapi gak taulah gimana ceritanya itu bayi ada dua si suami cuman beliin satu oksigen. Katanya kan bisa gentian.

Lo kira balon bisa gentian?

Jam 3 pagi, Paraji ngasih tau kalo oksigennya sudah sekarat, dan selang satu jam kemudian habis total. Salah satu bayi pun meninggal dunia saat itu juga.

Tanya: kenapa gak langsung ngacir untuk beli yang baru?

Jawab: Abisnya masih malem.

*nariknafas

JANGANKAN RUMAH SAKIT OR APOTEK, PUSKESMAS AJA ADA YANG BUKA 24 JAM MONYONG!!

Tuhan, tolong beri hambamu ini kekuatan untuk menahan tangan ini nonjok mukanya!

Satu bayi masih bertahan ternyata. Tapi hanya beberapa jam saja. Karena pada jam delapan paginya, bayi yang kedua ini pun meninggal dunia juga.

Tanya: Udah mati satu masih juga gak beli oksigen?

Jawab: Abis dikirain gak perlu oksigen lagi. Kan yang satunya gak papa tadinya.

Tanya: Tapi kenapa gak ngasih tau kita? Dikirain udah di RS dan hari ini kita baru mau jenguk.

Jawab: Takut ngerepotin.

Well, pada tahap ini rasa pengen ngamuknya udah kalah sama rasa pengen nangis. Bukan karena sedih, tapi karena marah!

Categories: hidup
  1. AL
    22 Oktober 2011 pada 13:14 | #1

    Ralat: Ternyata alasan kenapa si bayi dikasih air gula dan bukan susu adalah berdasarkan petunjung Sang Paraji. Katanya biar bayinya kuat.

  2. ReiRae
    23 Oktober 2011 pada 11:53 | #2

    Hhhhhh

    Trus dukun beranaknya disalahin gak Bu?

  3. ReiRae
    23 Oktober 2011 pada 11:55 | #3

    Hhhhhh

    Trus dukun beranaknya disalahin gak Bu?

    Dulu, pas nyokap hamil anak pertama(kakakku) karena ketidaktahuan dan kepolosan ibu muda, Beliau konsulnya sama dukun beranak trus dipijit perut. Alasannya sih supaya cepat dan mudah melahirkan. Eh akhirnya malah di caesar :(

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.