Al Abwab Al Mughlaka
Ini film beneran ala festival, bok! Bikin garuk kepala! Tema yang menurut saya rada basi juga (walaupun jelas ini salah saya juga soalnya telat nontonnya) mengenai fundamentalisme dan kungkungan yang picik dalam beragama. Namun film yang telah meraih banyak penghargaan ini memang cukup berhasil menggambarkan bagaimana sebuah proses dan berkecamuknya batin seorang remaja menuju transformasinya.
Setting di Mesir pada tahun 1990 (Filmnya dibuat pada 1999) saat terjadinya perang teluk. Seorang remaja lelaki yang dipanggil Hamada (Muhammad) sedang diberatkan dengan berbagai macam pikiran. Sekolahnya gak gitu baik dan dia agak terganggu dengan kenyataan bahwa nampaknya dia sedang jatuh hati kepada seorang perempuan manis yang sesungguhnya dia sendiri pun tidak mengerti apakah si cewek itu sebenernya ada atau hanya projeksi dari khayalannya semata. Di sisi yang lain, dia merasa udah gede udah mulai merasa bertanggung jawab atas beban keluarganya. Ibunya adalah orangtua tunggal yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ayah Hamada, pergi meninggalkan mereka semua setelah memutuskan untuk kawin lagi beberapa saat sebelumnya. Sebetulnya Hamada memiliki kakak lelaki yang telah memutuskan untuk berhenti sekolah dan menjadi tentara sukarela di Irak. Sang kakak ini tidak pernah kembali lagi.
Saya kira, Hamada yang telah begitu banyak kehilangan ini sedang mencari-cari figur lelaki superior dalam hidupnya. Guru di sekolahnya yang sering melakukan kekerasan jelas bukanlah orang yang dicarinya. Kemudian datang seorang lelaki kenalan Sang Ibu yang nantinya akan menjadi kekasih ibunya, tapi dia pun nampaknya bukan orang yang dicari-carinya. Hidup kemudian membawanya kepada seorang ulama yang bukan hanya kemudian memberi rasa aman dan dimengerti, namun juga membawanya kepada suatu pandangan-pandangan yang baru, atau semacam penguatan dari apa yang selama ini memang sudah menjadi pemikirannya.
Masa perang teluk adalah salah satu masa yang penting dalam sejarah bangsa Arab, walaupun jarang di bahas. Ini bukan hanya soal invasi Irak kepada Kuwait yang kemudian digrecokin oleh Amerika. Tapi itulah moment masuknya arus westernisasi yang lebih deras pada negara-negara timur tengah yang pada akhirnya merubah gurat wajah dunia arab. Masyarakat bukan hanya akan terbiasa dengan McDonald dan Hollywood, namun juga mulai melonjaknya arus penentangnya yang pada akhirnya akan memunculkan kaum-kaum fundamentalist modern di sana.
Menampik bahwa saya emang sial dapet film dengan kualitas minta ampun buruknya (susah dicari soalnya), saya kira film ini memang terlalu bergizi. Terlalu banyak yang ingin dikupas oleh Atef Hetata (puteranya Nawal el Saadawi), si sutradara yang merangkap penulis kisah. Dari kegelisahan kaum muda sampai ketidakberdayaan perempuan. Dari masalah ekonomi yang menekan sampai kepada pelecehan seksual dalam dunia kerja. Dan semua konflik terus terjalin semakin menanjak dan menyesakkan sampai pada klimaks yang merupakan sebuah eksekusi yang keren menurut saya.

I found the information on this post useful.
I found the info on this post beneficial.