Watson: What are you doing?

Holmes: Nicotin patch. Helps me think. Impossible to sustain a smoking habit in London these days. Bad news for brain work.

Watson: It’s good news for breathing.

Holmes: Oh… Breathing! Breathing’s boring.

Watson: Is that…three patches?

Holmes: It’s a three-patch problem.

Beberapa waktu yang lalu saat seorang kawan baik memberitahu mengenai seri tv baru mengenai Sherlock Holmes dengan setting tahun 2010, tanggapan saya hanyalah tepokan di jidat.

Tidaaaak!! Adaptasi lagi? Settingnya jaman sekarang?

Bukan ribet banyaknya adaptasi tapi saya lebih suka kalau ciri khasnya gak ilang, terimakasih! Jangan drama mikir tau-tau jadi film action superhero gitu, doooong!

Yep, yang saya maksud tentu saja dua Sherlock Holmes film layar lebarmu yang terakhir ini, Mr. Guy Richie! Bukannya gak keren, sebaliknya malah, keren banget! Tapi tetep rasanya sungguh gak rela kalau karya ini diobok-obok sampe segitunya.

Dan dari sisi manapun, ternyata saya jauh lebih suka versi adaptasi tv seri yang dari BBC ini.

Ada London yang masih keliatan dingin dan basah, walaupun gak sesuram atau kelabu jika kita membayangkan dari karya aslinya. Tapi Sherlock yang ini lebih mirip dengan yang digambarkan oleh Arthur Conan Doyle: sociopath.

Seneng banget saat salah seorang polisi memperingatkan John Watson tentang Sherlock Holmes:

‘Stay away from Sherlock Holmes. He is psychopath, and psychopath get bored.’

Sherlock Holmes, dr. Watson, dan Inspector Lestrade

Sherlock Holmes, dr. John Watson, dan Inspector Lestrade

Jadi kisah Sherlock dimulai dari John Watson, dokter angkatan darat kerajaan Inggris yang sedang menjalani terapi paska trauma sepulang perang di Afghanistan. John berkeputusan untuk menetap di London dan sedang mencari tempat untuk tinggal. Seorang kawan lama semasa praktek di St Bartholomew’s Hospital mempertemukannya dengan Sherlock Holmes, yang katanya seorang consultant detective, yang kebetulan sedang mencari teman serumah juga (atau teman satu flat lebih tepatnya). Dan yang selanjutnya adalah petualangan mereka.

Saya suka cara Stephen Moffats dan Mark Gatiss menerjemahkan dan mempertahankan beberapa elemen yang penting dari kisah yang sudah melegenda ini. Taksi salah satunya. Walaupun jaman sudah berubah di mana si Sherlock bukan lagi memegang kaca pembesar melainkan iPhone dan laptop, tapi dia tetap bertahan untuk tidak memiliki kendaraan pribadi. Maka taksi, sebagaimana iPhone, kemudian menjadi penggantinya. Dan begitu pula nicotine patch yang otomatis menggeser pipa tembakau tanpa meninggalkan kenyataan bahwa Sherlock adalah seorang pecandu nikotin kelas berat. Sementara mengenai kecanduan kokainnya sampai saat ini belum diulas.

Menggelitik tentu saja pertanyaan apakah relevan seorang Sherlock Holmes, seorang pria Victorian, tau-tau ngubek-ngubek London pada era Elisabeth II? Salah satu hal yang membuat karya Arthur Conan Doyle ini meledak adalah ini pertama kalinya analisis secara ilmiah diperkenalkan kepada publik. Pertama kalinya ada orang yang ribet mencari sidik jari atau pola percikan darah yang kemudian menjadi cikal bakal forensik (gak heran karena penulisnya memang seorang dokter). Pada saat Sherlock muncul pertama kali, penyelidikan polisi menggunakan cara klasik ala Agatha Christie, walaupun kenyataannya Hercule Poirot muncul selepas era Sherlock Holmes, dan sering ngata-ngatain Holmes, namun gaya Christie inilah yang jauh lebih diterima polisi pada masa itu yang lebih menitik beratkan pada aspek psikologi.

Nah, apakah Sherlock kita ini mampu bersaing dengan segambreng tim forensik Scotland Yard?

Mengejutkannya bisa tanpa keliatan maksa juga.

Karena tanpa peralatan canggih, kelebihannya Sherlock tentu adalah sel-sel abu-abunya (itu kata-kata Hercule Poirot, woy!!) di balik tengkorak kepalanya yang luarbiasa keras! Kecepatan berpikirnya itu! Kuenceng minta ampun ampe yang nonton bengong ketinggalan, lalu memutuskan untuk nyari subtitlenya yang ternyata biarpun dengan itu, teteup ketinggalan juga lalu dengan pasrah mencari subtitle bahasa Indonesianya, hehehe… Okeh, itu saya aja sih! Gak tau yang lain mah.

Dan begitu juga tim forensik yang masih ngumpulin bukti di TKP, si Sherlocknya udah ngacir lari entah kemana.

Irene Adler, Prof. Jim Moriarty, dan Mycroft Holmes

Irene Adler, Prof. Jim Moriarty, dan Mycroft Holmes

Bentuk fisik para pelakonnya juga yang mau gak mau, saya jadi ngebanding-bandingin dengan Sherlocknya Guy Ritchie yang keliatan terlalu gemuk (dan awut-awutan) untuk seorang gantelman sekaligus pecandu kokain. Ini Inggris bukan amrik! Benedict Cumberpath jauh lebih masuk ke profil dengan badan pucet kurus si tukang mengurung diri dan muka masa-bodo-gua-bosen tapi tetep mencoba untuk santun walaupun gagal. John Watson bertahan sebagai penulis diam yang lebih suka menepi tapi diam-diam menyukai petualangan yang berbahaya, sementara Prof. Jim Moriarty si gay (anda yang nonton pasti ngerti ini ledekan buat Sherlocknya bukan Jim), well, dia beneran tipikal otak kriminal! Aneh..tapi seram. Tapi aneh.

Walaupun menurut saya sih terlalu muda dan terlalu cepet nungulnya. Masa baru episode ke-3 aja udah nungul.

Eniwey, saya senang karena season ke-2 nya akhirnya tayang juga setelah seharusnya berakhir di season pertama saja. Sebagaimana karya BBC lainnya, jarang yang berlanjut lama. Kalaupun ada, biasanya bukan tayang di BBC juga tapi dijual ke TV lain. Seperti Sherlock Holmesnya Conan Doyle juga, seharusnya sudah berakhir pada air terjun yang sungguh bikin garuk kepala itu. Etapi muncul lagi gara-gara protes para fans yang gak rela kalo kisah ini berakhir.

Di season ke-2 ini muncul (yang juga kecepetan) satu-satunya cewek yang

Sir Arthur Ignatius Conan Doyle

Sir Arthur Ignatius Conan Doyle

sempat bikin Sherlock Holmes terpesona yaitu Irene Adler yang paling enggak menghapus stigma gay yang nempel di Sherlock dan John selama ini. Tahun 2010 gini dua laki tinggal serumah kemana-mana berdua tentu gak heran kalo pemilik restoran otomatis mengatakan:

‘Sherlock… Anything on the menu, whatever you want, free, on the house you and your date.’ John Watsonnya bengong.

Tribute untuk Sir Arthur Ignatius Conan Doyle!

The game, Mrs. Hudson, is on!