Ranggalawe Sang Penakluk Mongol

Apa yang ada dalam pikiran dan hati para penguasa? Tak lain adalah ketakutan! Mulai bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan saat tidur. Ketakutan menjadi hantu dalam mimpi-mimpi mereka

Buku ini mengisahkan tentang periode sejarah antara proses perebutan kembali tahta Jawa Timur setelah Singasari dijatuhkan oleh Jayakatwang sampai dengan pemberontakan Ranggalawe. Yaaa, iya… Bosen banget, sih! Itu yang pertama dalam pikiran saya saat pertama kali melihat buku ini di Gunung Agung, toko buku langganan saya dari jaman masih bocah sampai saat ini. Sehingga, yaudah, saat itu langsung saja saya letakkan kembali buku tersebut di rak.

Begitu sampai di rumah, beneran ini serius, saya langsung balik lagi, cuy, ke Gunung Agung. Bukan apa-apa, saya jadi kepikiran aja. Satu hal yang menarik saya sehingga balik lagi adalah: ini ditulis berdasarkan sudut pandangnya Ranggalawe. Si pemberontak itu sendiri.

Nah, belum pernah saya baca, tuh!

Kisah pemberontakan Ranggalawe tercatat pada Pararaton, bukan Nagarakretagama. Tentu saja, Nagarakretagama adalah pujasastra. Nampaknya Prapanca tidak menganggap bahwa kisah tentang seorang pahlawan besar yang memberontak perlu untuk dituliskan.

Kisah Menurut Pararaton

Dalam Pararaton, kisah pemberontakan Ranggalawe ini terjadi karena hasutan dari seorang tokoh bernama Mahapati (Halayudha). Konon akar permasalahannya adalah Ranggalawe tidak rela kalau jabatan Mahapatih Majapahit (nah jangan ketuker antara Mahapati dan Mahapatih ya) diberikan pada Nambi yang menurut Ranggalawe memiliki sifat pengecut. Lebih baik kalau jabatan Mahapatih itu diberikan kepada Lembu Sora saja.

Ranggalawe yang punya sifat keras dan emosional segera datang ke istana dan membuat kegaduhan. Berteriak-teriak di dalam istana, mengamuk di halaman seraya memanggil Nambi untuk diajak berkelahi. Tapi yang keluar ke halaman justru Lembu Sora yang menasihati Ranggalawe. Menerima nasihat Lembu Sora, Ranggalawe pun menurut dan pulang ke Tuban.

Mahapati yang licik itu kemudian menghasut Raden Wijaya. Memfitnah bahwa Ranggalawe sedang menyusun kekuatan untuk memberontak kepada Majapahit. Raden Wijaya yang kena hasut segera mengirimkan Nambi, Lembu Sora, dan Lembu Anabrang untuk menghukum Ranggalawe.

Terkejut karena mendadak diserang oleh Majapahit, Ranggalawe pun melawan. Terjadilah pertempuran di tepi sungai Tambak Beras. Duel maut antara Ranggalawe dan Lembu Anabrang ini berlangsung sengit dan, seingat saya, cukup berdarah-darah. Konon Lembu Anabrang sampai membanting-banting kepala Ranggalawe ke bebatuan di tepi sungai. Walaupun seorang pendekar yang pilih tanding, tapi melawan Lembu Anabrang yang merupakan pendekar sekaligus pelaut yang tangguh tentunya Ranggalawe kalah.

Saat Ranggalawe menghembuskan nafas terakhirnya, Lembu Sora yang sebenarnya paman dari Ranggalawe tidak dapat menguasai diri lagi. Lembu Sora segera mengeluarkan kerisnya dan menusuk Lembu Anabrang. Maka hari itu Majapahit kehilangan dua ksatria terbaiknya: Ranggalawe dan Lembu Anabrang hanya karena fitnah dan kesalahpahaman saja.

Kisah di Buku

Tidak mungkin mengubah sikap hanya karena ingin disukai banyak orang. Selama tidak melanggar kebaikan, hidup tidak harus menyenangkan semua orang

Continue reading →

Iklan

Akhir Pekan @ Museum Nasional

Saya adalah orang yang hobi banget nongkrong di museum dan menatap lama-lama segala jenis peninggalan sejarah. Yaaa, saya juga gak tahu sih apa sebenarnya yang salah dari diri saya. Kenapa saya gak kayak perempuan yang lain yang normal demennya shoping. Sementara saya, 10 menit aja dah di toko baju, kepala langsung semrawut. Setengah jam, saya mual. Nemenin temen sampai satu jam di toko baju, pulangnya muntah-muntah malamnya demam.

Semenjak lulus SMA saya udah hepi sendiri aja kalo ada waktu luang mengunjungi museum dan seharian ngedekem di sono.

Sendiri tentunya karena emang gak punya temen. Maksudnya dalam artian gak ada temen yang nampaknya bisa berbagi hobi yang satu itu dengan saya. Sama-sama emang seneng, gitu. Kan gak enak juga kalau kita seneng sendirian sementara orang yang bareng sama saya udah luarbiasa bosan tapi nahan-nahan setengah mati.

Mendingan sendiri.

Kebanyakan museum memang asik buat yang suka sendirian. Sepi nyaris gak ada orang apalagi kalau hari libur. Kecuali museum-museum di kota tua mungkin yang terus terang saya paling gak tahan mengunjunginya. Panas, kotor, berdebu dan penuh pengunjung yang nampaknya ke sono hanya mau selfie saja. Jadi, boro-boro mau asik-asik tenang menikmati sejarah. Yang ada malah hampir gak bisa lihat apa-apa. Pengunjung selalu berdiri dan foto-foto di depan setiap benda bahkan duduk-duduk di tempat yang seharusnya gak boleh duduk.

Kesel, men. Cuma sekali saya mengunjungi kota tua lalu kapok. Ogah.

Ada dua museum yang menurut saya paling oke yaitu museum Ullen Sentalu di Kaliurang Yogyakarta dan, tentunya, museum pusat kita yaitu Museum Nasional di Jakarta. Museum Nasional adalah museum yang paling sering saya kunjungi.

Tapi biarpun paling sering dikunjungi, udah lama banget saya berkunjung ke sono. Hitungannya tahunan! Gara-garanya saya putus sama pacar di situ, hahahaa…

Errr, ya karena kesibukan juga sih jadi gak ke sono-sono lagi.

Beberapa kali pengen berkunjung, tentunya saat weekend, etapi selalu ada acara lain.

Kemarin saya akhirnya mengunjungi Museum Nasional lagi bertepatan saat ada acara Akhir Pekan @Museum Nasional. Bertepatan karena memang dari awal rencananya saya emang mau berkunjung. Saya baru ngeh ada pentas (lagi) saat sudah h-1.

Dan saya seneng sekali. Museum sekarang rame! Gak rame tapi penuh anak alay mau selfie kayak di kota tua (walaupun saya juga gak tau sih gimana kota tua saat ini), tapi rame sama orang-orang yang beneran menikmati waktu mereka di sana. Rame sama para orangtua dan anak-anaknya yang kelihatan semangat sekali ikut acara.

Maksudnya, anak-anaknya yang semangat. Orangtuanya juga semangat, tapi kalah sama anak-anaknya.

Anak-anak, ya.. Bocah-bocah usia SD. Kalo remajanya sih kayaknya pada bête.

Akhir Pekan @Museum Nasional

Ini sebenarnya adalah edukasi public kepada pengunjung melalui pentas. Kalo mau ikut tentu saja kita daftar dulu saat pihak museum mulai mengumumkan acara. Tapi gak usah khawatir, kalau gak reservasi tempat dulu, pas datang langsung daftar juga gak papa. Bayarannya, gratis.

Cuma bayar tiket masuk museum aja yang gak lebih dari 5 ribu rupiah

Kemarin saat saya berkunjung kebetulan lagi gratis. Memperingati hari museum internasional.

Waktu pementasan ada 3 sesi. Jam 10.00, jam 11.00, dan jam 12.30. Nah, tinggal pilih aja mau datang jam berapa. Kalau menurut saya, mendingan milih yang paling pagi. Soalnya tempat pementasannya itu berlangsung di ruang Kertarajasa. Itu loh, ruang terbuka dengan banyak arca. Nah, karena tempatnya terbuka, jadi gak ada AC. Panas kalo siang.

Begitu kita masuk ke dalam museum (kalo bawa tas ransel dititip dulu, ya) langsung aja registrasi ulang atau daftar di tempat. Kita juga ditawarin kertas panduan yang musti bayar 10 ribu rupiah. Tapi kertas ini gak wajib, kok. Jadi kalau gak mau juga gak papa. Cuma kalau kamu datang bawa anak, atau keponakan, mendingan beli aja. Karena di belakangnya ada soal yang bisa dikerjakan anak-anak bersama orangtuanya.

Ini bukan kertasnya lusuh, saya aja fotonya awut-awutan

Ini bukan kertasnya lusuh, saya aja fotonya awut-awutan

Mayan buat koleksi

Mayan buat koleksi

Trus, yaudah silahkan melangkah ke tempat pementasan. Kalau datang sebelum dimulai, duduk aja dulu santai-santai. Kalau datang telat, mendingan keliling dulu aja, dah! Dan ikut pada sesi berikutnya, hehe…

Pentas jalannya…lucu! Gak ngebosenin, enggak! Anak-anak aja hepi. Saya gak tau sih apa ngaruh sama jam yang saya pilih yaitu pagi jadinya saya datang bersama rombongan anak sekolah. Padahal hari minggu. Dan anak-anak ini gak bosen. Saya jadi kayak lagi nganterin anak-anak fieldtrip aja, dah.

Gini, anak-anak itu masih berpikir kalau apa yang ditampilkan diatas panggung itu beneran. Jadi selalu seru emang bersama mereka. Saat tokohnya mau jatuh, mereka yang heboh tereak-tereak. Saat si bapak pengusaha yang jahat mau ditusuk tombak dan keris, anak-anak tereak-tereak ngasih tau.

‘Awaaas… Awaaasss..’

Hahahaa…

Dan anak-anak ini juga yang nanggepin apapun yang diucapkan oleh para actor. Lalu aktornya pun berinteraksi dengan merek

Saya ikut kembali di sesi yang kedua.

Bukannya saya pengen nonton lagi sebenernya, tapi karena terjebak.

Bertahun-tahun nulis blog ini pertama kalinya saya taro foto yg ada sayanya di situ, bukan di belakang kamera

Bertahun-tahun nulis blog ini pertama kalinya saya taro foto yg ada sayanya di situ, bukan di belakang kamera

Jadi kemarin itu saya mau berkunjung ke Museum Nasional memang pengen ke ruang Kertarajasa. Pengen mengamat-amati arca dewa-dewa dan raja . Pokoknya emang saya pengen menikmati Nusantara masa periode klasik yaitu dari abad ke-3 sampai runtuhnya Majapahit.

Setelah pentas kan ada acara jelajah museum, tuh! Nah, saya ketinggalan gara-gara kesibukan ngisi angket. Tau-tau udah pada ngilang aja itu bocah-bocah. Jadilah saya tetap di ruang Kertarajasa mengamat-amati arca-arca. Lalu lupa waktu.

Saat ngeh, ternyata pentas waktu kedua sudah setengah jalan, hahaha… Saya nyelonong ke pintu belakang, eh dikunci. Jadilah saya menonton sesi kedua juga dan gak sengaja malah bisa sedikit membandingkan.

Di sesi kedua ini, lebih banyak orang dewasa dibanding anak-anak. Jadi kurang ada yang nimpalin actor. Semuanya (cukup) serius dan tentunya ketawa-tawa. Agak lebih banyak sisipan-sisipan masalah kekinian kayak bunga utang IMF lah, hoax, dsb..dsb.. Gak ngeselin sih, gitu-gitu aja. Gak ada keberpihakan sama sekali, kok! Makanya saya pikir apakah ngaruh ke penonton yang pada sesi pertama kebanyakan anak-anak kali, ya.. Jadi lucunya beda. Kalau yang pertama lucunya di tingkah actor dan interaksi dengan penonton, di sesi yang kedua penontonnya lebih kalem.

Selesai acara, ada jelajah museum. Jadi kita dipandu untuk melihat-lihat peninggalan-peninggalan sejarah yang ada hubungannya dengan yang dipentaskan. Karena pentas kali ini mengenai Pangeran Diponegoro dan jaman Tanam Paksa, jadilah kita digiring ke koleksi yang ada hubungannya. Dan sekali lagi, saya mengucapkan terimakasih sama anak-anak yang ikutan acara ini.

Di sesi yang kedua ini anak-anaknya sedikit, tapi mereka (lagi) yang bikin seru.

Bapak Pemandu ngegiring ke sebuah koleksi, ngejelasin-ngejelasin (anak-anak ngedengerin dengan sangat antusias dan seksama. Ya Allah, kenapa kalo anak-anak saya fieldtrip gak kayak gitu, ya?), lalu Pak Pemandu ngasih-ngasih tantangan kecil gitu dengan petunjuk.

‘Nah, sekarang kalian (ke anak-anak, ya) coba cari peta..’

‘Peta?’

‘Iya, tapi petanya bundar. Kayak bola. Ada di lantai ini juga. Ayo-ayo cariiiii…’

Trus anak-anak pada ngacirlah nyariin. Trus pas ketemu, mereka diam aja gitu di depan globe antic dari kayu nungguin bapak pemandu. Pas pemandunya datang, ini anak-anak hepiiiii banget. Kayak yang, hore kita bener!!

Acara jelajah museum ini gak lama. Hanya beberapa koleksi aja yang dibahas. Selanjutnya, ya terserah masing-masing bubar sendiri. Ada yang lanjutin melihat-lihat di dalam museum, ada yang langsung pulang.

***

Jadi, ini acara yang seru buat keluarga. Pentas yang kemarin itu pentas yang terakhir sih buat tahun ini. Jadi kalau tertarik, mungkin tahun depan baru ada lagi. Buat museum juga positif sekali. Dari yang tadinya masuk museum kayak masuk kuburan, sekarang jadi rame tapi positif. Gak asal rame doang. Saya baru ngeh kalo ternyata pengunjung Museum Nasional pertahun itu ternyata jumlahnya sama dengan pengunjung Museum Louvre pertahun.

NB: Ada yang bikin sebel, tapi, yah, saya cuma bisa terima aja. Alasan saya datang kan emang pengen lihat dan foto arca-arca zaman klasik Indonesia (masa kekuasaan kerajaan Hindu-Buddha) dan salah satunya, saya pengen banget mengambil foto arca Prajnaparamita. Itu loh, arca yang bertahun-tahun disimpen di Belanda dan baru-baru ini dikembalikan ke Indonesia. Itu kan katanya patung Ken Dedes, atau ada juga yang berpendapat itu patung Gayatri Rajapatni. Tapi sayangnya, arca itu ternyata diletakkan di lantai empat bersama koleksi emas, mahkota, dan perhiasan-perhiasan lainnya. Di lantai 4 itu ada larangan mengambil foto!

*sedih*

Tapi arca itu emang baguuuus banget. Kelihatan terawat sekali.

Confession (Memoirs) of Murder(er)

Film

Confession of Murder

Kisah dimulai di tahun 2005 saat sebuah warung makan tiba-tiba diterobos oleh dua orang lelaki. Yang mengejar adalah seorang letnan polisi bernama Choi sementara yang dikejar adalah seorang serial killer.

Perkelahian dan kejar-kejaran terus berlangsung sampai akhirnya Letnan Choi harus kalah dengan mulut sobek sampai ke pipi. Macam Joker tapi Cuma sebelah gitu, lah. Adegan selanjutnya adalah hari ketika masa kadaluarsa kasus berakhir. Letnan Choi ditelfon salah seorang putra korban yang kemudian melakukan bunuh diri dihadapannya.

Dua tahun kemudian, Letnan Choi telah menjadi seorang alkoholik yang masih juga terobsesi dengan kegagalannya. Kembali ,sebuah telfon seakan-akan menjadi panggilannya untuk bangkit.  Sang Serial Killer yang dulu menyobek mulutnya, tau-tau muncul di tv.

Namanya adalah Lee Doo-seok, dan dia baru saja merilis sebuah buku autobiografi tentang pembunuhan-pembunuhan yang dilakukannya. Dan karena kasusnya sendiri sudah melewati batas kadaluarsa, maka Lee pun sudah kebal terhadap kemungkinan ditangkap dan didakwa atas kejahatannya.

Reaksi beragam semuanya digambarkan di film ini. Bagaimana jijik dan mualnya para detektif, marah tapi putus asanya para keluarga korban, sampai para cewek alay penggemar Lee. Dan nampaknya Lee ini juga senang sekali menjadi pusat perhatian bagaikan selebriti papan atas. Selain itu, bukunya memang menjadi best seller walaupun  itu artinya dia berkali-kali menjadi target pembunuhan dari orang-orang yang membencinya. Continue reading →

First They Killed My Father

“I am six years old and instead of celebrating with birthday cakes, I chew on a piece of charcoal. ”
― Loung Ung

Beberapa tahun yang lalu saya membaca sebuah buku, sebuah memoar, yang berjudul First They Killed My Father, karya Loung Un. Salah satu korban selamat dari masa berkuasanya Khmer Merah pimpinan Pol Pot (Shloth Sar) . Mungkin, saat tergelap dalam sejarah Kamboja. Kemudian saya jadi teringat kembali dengan memoar ini saat menonton filmnya semalam.

Kisah di Buku

Saat membaca judul bukunya, saya kira kisah dimulai saat ayahnya Loung Un dibunuh tentara Khmer Merah. Ternyata tidak.

Apa sih yang kita tahu mengenai Kamboja? Selain bahwa ini salah satu negara di Asia Tenggara yang terkenal dengan Angkor Wat, sebuah kuil Hindu-Buddha terbesar di dunia.

Kamboja hanyalah sebuah negara yang terdapat pada peta. Selain salah satu materi pelajaran IPS kelas 6 tentunya.

Baidewei, Loung Un adalah puteri salah satu perwira militer Kamboja. Anak keenam, dari tujuh bersaudara. Dan saat tentara Khmer Merah menang dan kemudian menguasai Kamboja, dia baru berusia 5 tahun.

Loung hanya menceritakan sedikit saja masa-masa indah keluarganya sebelum Kamboja dikuasai Khmer Merah. Baginya yang baru berusia 5 tahun, yang dia ingat hanya jalanan tiba-tiba ramai sekali dan ibunya menyuruh dia untuk segera makan karena mereka akan pergi dari Phnom Penh. Tidak dengan mobil mewah mereka, tapi dengan truk. Keluarga ini pergi karena tentara mengusir semua orang dari kota-kota di Kamboja. Dan bersama dengan ribuan orang lain, mereka meninggalkan kota. Sedikit sekali barang yang mereka bawa. Begitu juga uang. Bagaimanapun, uang ternyata sudah tidak lagi memiliki fungsi apapun selain oleh orangtuanya dipakai sebagai kertas pengelap pantat sehabis buang air besar.

Kemudian, pembunuhan mulai terjadi. Berdasarkan berita-berita yang Loung dengar, selain tentunya berdasarkan cerita-cerita yang dituturkan oleh kakak-kakaknya beberapa tahun kemudian, tentara nampaknya membunuh siapa saja yang melawan. Baik kubu lawan mereka yaitu simpatisan Lon Nol, maupun orang-orang yang dianggap membangkang karena tidak segera meninggalkan kota. Tidak peduli bahwa orang tersebut sedang sakit parah ataupun terlalu lemah untuk melakukan perjalanan. Semua ditembak mati.

Orang-orang yang kehausan dan masuk ke sumur yang sudah diduduki oleh tentara Khmer Merah, ditembakin mati.

Keluarga Loung tiba di desa tempat saudara laki-laki ayahnya tinggal. Mereka memang petani. Dan mereka harus berpura-pura jaadi petani. Perlahan, Loung mulai belajar bagaimana negaranya berubah pada masa pemerintahan yang baru ini.

Sekolah dibubarkan. Tidak ada sekolah. Sekolahan dianggap sebagai lembaga yang merusak jiwa yang mengajarkan ide-ide barat.

Pertama-tama, semua guru dan dokter dieksekusi mati oleh Khmer Merah. Mereka semua dianggap orang-orang rusak yang bisa mengobarkan pemberontakan. Kemudian semua ilmuwan, pegawai negeri, biksu, pendeta, dan aktor. Nantinya, bahkan semua orang yang berkacamata juga ikut dieksekusi dengan alasan, terlalu pintar dan dapat mengobarkan pemberontakan. Maka gak heran juga kalau orang-orang pada pura-pura gak bisa baca.

Konon, dari buku Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World, di seluruh Kamboja setelah Khmer Merah jatuh, hanya tersisa 32 dokter yang selamat. Satu diantaranya dokter gigi. Semua rumah sakit, bukan hanya ditutup, tapi juga dihancurkan. Dan begitu juga semua alat-alat kedokteran.

Salah satu dokter yang selamat berkisah bahwa saat terjadi pembantaian, beliau memang sedang berada di rumah sakit. Tapi bukan sebagai dokter, melainkan sebagai pasien yang dirawat inap. Jadi dia selamat. Hanya diusir keluar saja.

Sementara seluruh gedung sekolah di Kamboja, beralih fungsi sebagai penjara dan ruang-ruang penyiksaan.

Continue reading →

Warna Manusia Menurut Kutara Manawa

Sebenarnya, kata yang tepat dalam mengistilahkan penggolongan manusia ini adalah ‘warna’, sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab suci Veda. Penggolongan manusia berdasarkan profesi. Sementara yang saya tuliskan di sini adalah penggolongan warna sesuai dengan yang tertulis dalam Kutara Manawa (Kitab Undang Undang Majapahit) via Nagara Kretagama yang saya baca dari buku Tafsir Sejarah Nagara Kretagama karya Prof. Slamet Muljana. Dan karena saya bukan penganut agama Hindu, sementara ini sistem yang terdaapat dalam kitab suci Veda, saya mohon maaf jika terdapat kekeliruan dan mohon dikoreksi.

Warna manusia terdiri dari 4. Namun ada warna kelima (tidak disepakati oleh para dharmadyaksa) yang terdiri dari 3 golongan lagi. Jadi semuanya ada 7 golongan.

Brahmana

Warna tertinggi dalam masyarakat Majapahit adalah golongan Brahmana, sebagai golongan yang paling tidak terikat pada harta. Seorang Brahmana harus menjalankan 6 dharma sebagai berikut:

  1. Mengajar
  2. Belajar
  3. Melakukan persajian untuk dirinya sendiri
  4. Melakukan persajian untuk orang lain
  5. Membagi
  6. Menerima derma

Dalam bidang agama, para Brahmana memiliki wewenang penuh begitupun dalam kehidupan masyarakat. Dan karena Majapahit adalah negara agama (sistem undang-undangnya berdasarkan agama), maka para Brahmana ini pun diserahi kewajiban untuk berada di dalam pemerintahan baik itu pemerintahan di kerajaan daerah, maupun di pusat.

Sebelumnya di sini saya sudah menuliskan bahwa Majapahit adalah kerajaan bersatu. Sebuah kerajaan yang terdiri dari banyak kerajaan kecil di bawahnya.

Para Brahmana yang berada di dalam pemerintahan memiliki kedudukan sebagai dharmmadyaksa, atau hakim tertinggi dan duberi gelar dang acarya. Dharmadyaksa memiliki 7 bawahan yang disebut dalam jabatan upappati. Untuk agama Syiwa (Hindu) jumlah upappati ada 5, sedangkan untuk agama Buddha jumlah upappati ada 2.

Sebenarnya pada masa Singasari, Dharmadyaksa adalah hakim tertinggi, atau pejabat setingkat menteri, khusus untuk agama Hindu saja (Kasaiwan). Namun pada masa akhir kerajaan Singasari, Prabu Kertanegara memutuskan untuk menganut agama Buddha sehingga diangkatlah Dharmadyaksa Kasogatan (Buddha) yang bernama Nada. Dang Acarya Nada ini mati terbunuh berdampingan dengan prabu Kertanegara pada tahun 1292 saat pemberontakan Jayakatwang meletus.

Prabu Kertanegara sendiri walaupun menganut agama Buddha, namun beliau tidak melepas agama Syiwa. Jadi Prabu Kertanegara menganut dua agama sekaligus dan merupakan satu-satunya raja yang tercatat memeluk agama Hindu dan Buddha.

Sebagai pemimpin dalam bidang keagamaan, selain memimpin upacara, para Brahmana juga diserahi tanggungjawab untuk memelihara candi-candi beserta tanah garapannya (hasilnya untuk biaya perawatan candi), makam keluarga raja, biara, rumah pemujaan dan tanah-tanah pemberian raja. Jadi walaupun secara teori para Brahmana merupakan warna yang paling tidak mencengkram harta, kenyataannya kehidupan para Brahmana pada masa Majapahit sangat sejahtera dan dilindungi oleh negara.

Ksatria

Golongan ini adalah para abdi negara termasuk raja, pegawai pemerintahan dan para prajurit. Tugas golongan ini hanya satu: melindungi negara.

Kaum ksatria yang dilantik sesuai dengan peraturan Weda, mempunyai kewajiban untuk melindungi dunia. Sebabnya, ketika umat manusia tanpa raja, hidup dalam ketakutan buyar bercerai berai, maka Brahman menciptakan raja yang diberi tugas melindungi manusia. Oleh karena itu, raja, meski muda sekalipun, pada hakikatnya bukan sembarang orang, melainkan pengejawantahan dewata mulia. untuk membantu dalam menunaikan tugasnya, Brahman memuja kemegahannya, yang menitis  menjadi Undang-Undang yang disebut Undang-Undang Pidana, sebagai sarana melindungi dan mengatur umat manusia. Hanya undang-undang pidana, yang menguasai segala makhluk hidup, melindungi dan menjaga mereka, baik waktu berjaga maupun tidur: pidana ini adalah sama dengan huku, undang-undang.

 

Waisya (Pedagang dan Petani)

Bidang kewajiban golongan waisya adalah:

  1. Dagang
  2. Meminjamkan uang
  3. Menggarap sawah
  4. Memelihara ternak

Anggota golongan waisya dilarang berpikiran bahwa dia tidak suka memelihara ternak. Jika piara ternak itu dilakukan oleh golongan waisya, golongan lain dilarang mengerjakannya.

Jadi disini ada pembagian pekerjaan. Seorang abdi negara misalnya, yaa, tugasnya melindungi negara. Dilarang untuk melakukan pekerjaan golongan lain misalnya berdagang.

Anggota waisya harus mempunyai pengetahuan baik mutu-manikam, mutiara, merjan logam, bahan tenun, minyak wangi, dan bahan ramuan, harus tahu akan cara menabur benih, membedakan ladang subur, dan cengkar, menggunakan timbangan. Apalagi tentang baik buruknya barang dagangan, pemilihan negara yang mungkin menguntungkan pasaran, perhitungan untung-rugi dan sarana-sarana bagi piara ternak, pembayaran upah yang layak kepada buruhnya, memiliki pengetahuan berbagai bahasa, cara menyimpan barang, dan peraturan jual-beli (Kitab Undang-Undang Kutara Manawa)

Golongan ketiga ini sudah memiliki ketergantungan terhadap harta. Milik mereka adalah milik mereka, bukan milik negara. Namun golongan ini walaupun dianggap kurang terhormat (karena terikat harta) namun sangat dihargai dan sangat diperhatikan, khususnya pada masa pemerintahan Thribuwana Tunggadewi dan Hayam Wuruk. Karena bagaimanapun, golongan waisya-lah yang menjamin ketahanan pangan negara. Konon Hayam Wuruk selalu menekankan agar diperhatikannya system perairan dan ketenangan masyarakat desa karena menurutnya, jika desa tentram dan golongan waisya tenang dan bahagia, maka hasil bumi akan melimpah-limpah yang pada akhirnya akan menyejahterakan seluruh rakyat baik yang di desa maupun yang di kota.

Dan bukan hanya arahan serta pidato raja saja, tapi juga masuk ke dalam UU negara.

Barang siapa membakar padi di ladang, tidak pandang besar-kecilnya, harus membayar padi lima kali lipat kepada pemiliknya, ditambah denda sebesar duapuluh ribu. Barang siapa mengurangi penghasilan makanan misalnya dengan mempersempit sawah atau membiarkan terbengkalai segala apa yang dapat menghasilkan makanan, atau melalaikan binatang piaraan apapun, kemudian hal tersebut diketahui orang banyak, orang yang demikian itu diperlakukan sebagai pencuri dan dikenakan pidana mati. Barang siapa yang melarang saudaranya untuk turut mengerjakan tanah, dikenakan denda 160 ribu oleh Sang Amawabhumi. Orang itu dikatakan: Atulak Kadang Warga.

Sudra

Kutara Manawa

Kutara Manawa

Bidang pekerjaan warna Sundra hanya satu, yaitu mengabdi, terutama pada warna Brahmana.

Menurut Kutara Manawa, ada beberapa golongan hamba (kawula):

  1. Greharja, adalah mereka yang terlahir dalam periode perhambaan, maka otomatis menjadi hamba
  2. Dwajeharta, mereka yang menjadi hamba karena kalah perang, atau tawanan perang
  3. Bhaktadasa, mereka yang tidak mampu membayar denda.

Anak-anak yang lahir dalam masa penghambaan disebut anak besi dan dengan sendirinya akan menjadi hamba di tempat yang sama dengan orangtuanya. Seorang tuan bisa memperlakukan hamba sekehendak hati, namun dilarang oleh undang-undang untuk menjualnya jika si hamba tidak menghendakinya. Jika seorang hamba diperintah untuk bekerja dan mendapatkan upah, maka upah itu adalah milik tuannya.

Dalam hal perkawinan dengan orang bebas, maka sebagai berikut:

  1. Jika perempuan bebas menikah dengan seorang hamba, maka salah satu anaknya adalah orang bebas. Anak atau anak-anak yang lain otomatis menjadi hamba seperti ayah mereka.
  2. Jika seorang laki-laki bebas menikah dengan seorang hamba, otmatis dia pun menjadi hamba seperti istrinya. Dengan sendirinya, seluruh anak mereka menjadi hamba
  3. Jika seorang tuan menikahi hambanya, maka anak-anak mereka adalah orang bebas namun tidak berhak mewarisi harta orangtuanya yang bebas itu. Kecuali jika orangtuanya yang bebas tidak memiliki anak lain. Maka sang anak otomatis mewarisi seluruh harta orangtuanya namun wajib membayar kebebasan dari orangtuanya yang hamba.

Golongan hamba boleh membeli kebebasannya dengan harga yang ditentukan oleh pemerintah. Harga ini dihitung dari makanan selama dia menjadi hamba yaitu 1600 pertahun. Untuk yang menjadi hamba karena tawanan perang, maka harga kebebasannya adalah 8000.

Candala, Mleccha, dan Tuccha

Menurut Nagara Kretagama, tiga golongan selanjutnya tidak dianggap warna. Atau kadang disebut sebagai warna kelima. Walaupun Kutara Manawa menyebutnya sebagai Dasyu.

Continue reading →

(Freak) The Mighty

Every word is part of a picture.

Every sentence is a picture.

All you do is let your imagination connect them together.

If you have an imagination, that is.

(Kevin Dillon)

The Mighty adalah film keluarga yang dirilis pada tahun 1998. Salah satu film layar lebar pertama yang saya saksikan dan saya mengingatnya sangat jelas sampai pada kalimat-kalimat yang diutarakan oleh Max. Kalau saya menutup mata bahkan, saya dapat seakan menyaksikan kembali kisah ini di putar di benak saya. Sedalam itulah film ini meninggalkan kesan kepada saya.

Diangkat dari novel remaja karya Rodman Philbrick, Freak The Mighty mengisahkan tentang petualangan, dan tentu saja, persahabatan dua anak remaja yang nampaknya memang ditakdirkan untuk bertemu satu sama lain.

Maxwell Kane sang penutur membuka kisah dengan memperkenalkan dirinya sendiri sebagai seseorang yang kalah. Kenyataan bahwa sampai kelas 7 ini dia tidak kunjung dapat membaca sudah membuktikan bahwa dia hanyalah anak idiot. Anak idiot berbadan besar yang tidak mampu membela dirinya sendiri. Jangankan berdiri untuk melawan anak-anak lain yang sering menyakitinya, bahkan menyatakan apa yang ada di kepalanya pun dia tidak berani. Itu kalo memang ada sesuatu yang terlintas di kepalanya. Max selalu merasa bahwa hidupnya adalah tidak ada pilihan lain. Dia sekolah, hidup, dan dirawat oleh kakek dan neneknya juga karena mereka tidak punya pilihan lain. Continue reading →

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta

Kisah di Film

Kisah dibuka dengan adegan pertarungan!

Yeaaay, I like it! Gak usah lebay-lebay mulainya, langsung hajar-hajaran aja!

Okeh, ini bukan perkelahian yang sesungguhnya, namun bagian dari pendidikan di Padepokan Ki Jejer, tempat Raden Mas Rangsang, putra raja Mataram Panembahan Hanyokrowati, menuntut ilmu.

Jadi ceritanya, Mas Rangsang ini sudah dikirim secara rahasia ke Padepokan sejak usianya 10 tahun. Ia adalah anak dari istri kedua yang memang disiapkan oleh ayahnya sebagai penerus tahta.

Panembahan Hanyokrowati sempat berjanji bahwa nanti yang diangkat menjadi penerus tahta adalah Raden Martapura, puteranya dengan istri pertama, Ratu Tulungayu. Sayangnya, sang putera mahkota, Raden Martapura, menderita tuna grahita yang tentunya tidak akan mampu memimpin negara.

Raden Mas Rangsang sangat menikmati hidup sebagai santri biasa di padepokan. Dia bahkan sempat menjalin cinta dengan Lembayung, putri kepala desa setempat. Yakin bahwa dia tidak berhak atas tahta (dia bukan putera mahkota), Raden Mas Rangsang sebenarnya sudah mulai merancang masa depan untuk menetap di padepokan. Bahkan sempat mengutarakan keinginannya ini kepada sang ibunda. Namun, ibunya mengingatkan bahwa dia adalah seorang satria, bukan brahmana.

Menarik pembagian golongan saat itu masih sangat terpengaruh pada system Hindu walaupun di padepokan Islam.

Setelah sang ayah meninggal dunia, tahta Mataram segera diteruskan kepada Pangeran Martapura, sesuai janji Sultan kepada permaisurinya. Namun dengan masa kekuasaan yang hanya satu hari saja (tentu ada konflik mengenai ini dan mana ada sih ibu yang rela anaknya diturunkan dari tahta). Raden Mas Rangsang yang baru berusia 20 tahun dinobatkan sebagai raja pada hari berikutnya dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Sementara itu, VOC semakin menggurita di Nusantara. Sultan Agung sebelumnya sudah melihat bagaimana cara licik VOC ini menjatuhkan Banda dan Batavia. Selalu diawali dengan perjanjian dagang dan tahu-tahu, raja terjungkal dari tahta. Seperti Pangeran Jayakarta yang diusir dari Sunda Kelapa. Menurut Sultan Agung, cara terbaik untuk menghadapi VOC adalah dengan menyerang mereka duluan. Dan ini tidak mudah. Sebelumnya Sultan Agung harus bisa mempersatukan para Adipati yang sudah tercerai berai oleh politik adu domba Belanda.

***

Sebelumnya, saya agak sedikit trauma setelah menonton film Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Film yang menurut review-review indah, puitis, dan sangat teatrikal. Buat saya hanya ada satu kata: membosankan! Serius. Gak sampai ketiduran nontonnya kayak saya nonton Deadpool 2 (yang sebagian karena saya merasa luarbiasa bosan dengan cerita superhero tapi mungkin juga karena saya nonton itu pas bulan puasa siang-siang dari luar panaaaas trus ketemu ruangan adem yaudah tidur, hehe). Nonton Tjokroaminoto saya musti nguap-nguap dan menatap dengan rasa tidak sabarpintu exit di depan.

Astagfirullahaladzim, kapan ini selesainyaaa?

Saat itu saya sampai kepikiran, apa harus kayak gitu? Apa film yang (katanya) bagus itu musti kita gak ngerti? Kalo kayak gini ya orang males nonton.

Gara-gara trauma itu, saya jadi memutuskan untuk gak nonton Kartini di bioskop (padahal ternyata filmnya bagus). Kemudian ada film Sultan Agung ini saya baru ngeh saat salah satu putri Sultan Hamengkubuwono X, GKR Bendara komentar yang jadi viral:

Aduuuh duh duh… hancur hati ku… yg memerankan Sultan Agung kok ya pake parang yg kecil dan warna nya biru pula. Padahal yg membuat Parang Barong adalah Ibu beliau. Malah yg memerankan Abdi dalem di belakangnya yg pake Parang lbh besar. Iki piye iki piye jal. Check di FB kratonjogja aja ada loh referensinya

Continue reading →

The First Grader

Sekarang kelas, silahkan duduk. Saya datang untuk mengucapkan perpisahan. Saya mengatakan kepada kalian, seekor kambing tidak dapat membaca. Seekor kambing tidak dapat menuliskan namanya. Kamu harus belajar sungguh-sungguh, atau kamu akan seperti aku. Seorangtua..yang tak lebih baik dari kambing.
Kimani N’gan’gan Maruge

Apakah ada sebuah rumusan yang bisa berlaku di setiap tempat di atas bumi ini untuk menyelesaikan permasalah pendidikan? Ouw, tentu saja. Kalo memang ada suatu rumusan yang tepat berguna untuk setiap kondisi dan situasi dalam setiap masalah secara umum, apalah serunya hidup ini pula, ya?

Sebelumnya dalam Waiting for Superman dikisahkan bahwa, uang ternyata bukan selalu jawaban. Uang memang bisa lebih memudahkan dalam beberapa hal, tapi jangan sangka bahwa itu bisa memecahkan setiap persoalan.

Continue reading →

Stand by Me

Chris: Yeah, but you’re gonna be stupid for the rest of your life.

Saya lagi penasaran dengan film-film coming of age era 80-an yang katanya bagus-bagus. Karena itu, liburan kemarin, yang kebetulan saya terjebak di rumah saja, saya habiskanlah dengan menonton film yang kebanyakan film jadul. Dari semuanya, mungkin yang paling berkesan buat saya adalah Stand by Me.

Oke, saat menulis postingan ini saya baru ngeh ternyata Stand by Me diangkat dari bukunya Stephen King yang berjudul The Body

Kisah di Film.

Kisah dinarasikan oleh Gordie Lachance, seorang pengarang yang tiba-tiba teringat masa kecilnya saat membaca berita bahwa sahabat semasa kecilnya yang kemudian menjadi seorang pengacara, Chris Chamber, meninggal dunia.

Gordie pada saat masih kecil adalah seorang anak yang pendiam, kutu buku, tapi suka bercerita. Waktu kecil petualangan ini terjadi, orangtua Gordie sedang mengabaikannya. Pasalnya, kakak Gordie, anak kesayangan orangtuanya, meninggal dunia. Dan orangtuanya ini terlihat sekali sangat menyesali Gordie yang menurut mereka mengecewakan. Gak bisa jago olahraga seperti kakaknya, ditambah temen-temen Gordie yang semuanya looser.

Gordie bersahabat dengan Teddy yang emang sih rada-rada gak bisa ngontrol diri. Pasalnya, ayahnya Teddy ini hobi memukuli anaknya. Bahkan pernah nyaris membakarnya. Jadi, itu mungkin kenapa Teddy suka tiba-tiba histeris. Nah, tapi ribetnya, selain kenyataan bahwa dia adalah korban kekerasan ayahnya, si Teddy ini super duper bangga sama ayahnya.

Bikin kening mengernyit, kan, ya…

Selain Teddy, ada juga Vern, bocah gendut yang selalu jadi korban bully di sekolah dan dirumah. Tapi mungkin diantara mereka, yang paling bikin khawatir orangtua Gordie adalah Chris, seorang anak yang dianggap anak nakal berasal dari keluarga pecandu alcohol dan criminal. Konon, gosipnya, Chris ini adalah seorang pencuri.

Pada suatu hari, Vern gak sengaja mendengar percakapan kakaknya yang menemukan tubuh bocah yang menghilang. Vern pun mengajak teman-temannya untuk pergi menuju lokasi tempat mayat si bocah. Yaaa, biar jadi terkenal aja gitu. Dan karena mereka semua iseng liburan gak ada kerjaan, pun nampaknya gak ada satu pun dari orangtua mereka yang peduli, akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke lokasi………dengan jalan kaki!

Iya, men. Ceritanya Cuma gitu aja. Tapi keren. Tau, kan jenis-jenis film yang ceritanya sederhana kayak dihukum sama-sama di hari minggu (The Breakfast Club) atau Komreh yang ceritanya tentang kendi tempat air yang pecah. Jenis cerita yang saya sukai: sederhana, biasa aja, tapi sangat mengispirasi.

**

Continue reading →

Komreh (The Headmaster)

Bayangkan adegan-adegan dalam film Children of Heaven atau Osama. Bayangkan sebuah desa miskin ditengah gurun pasir. Nah sekarang bayangkan sebuah sekolah dasar sederhana yang seluruhnya hanya terdiri dari 3 ruangan: dua kelas dan sebuah kamar tempat tinggal guru. Sekolah ini di jalankan oleh seorang laki-laki muda yang sensitive dan sabar. Dia berstatus guru, sekaligus kepala sekolah.

Guru mengajar beberapa kelas, itu memang sudah biasa. Tapi di film ini parah juga sebab nampaknya bukan hanya mereka diajar oleh satu orang yang kesana kemari, namun pengaturan kelasnya pun acak-acakan. Di dalam ruangan bercampur anak-anak di beberapa tingkat jadi satu. Rada melongo juga menonton adegan saat sang Pak Kepala Sekolah mengajar membaca sambil menerangkan matematika di tingkat selanjutnya. Papan tulis yang udah kecil itu dibagi dua bagian. Kemudian dia memperingatkan:

‘Hei, kamu. Gak bisa meninggalkan kelas satu tapi mengganggu kelas 5 saja kerjanya. Okey, untuk kelas 5, kerjakan ini, dan untuk PR yang ini.’ Sementara itu, entah kelas berapa nampaknya sedang ditugaskan menulis.

Cerita berputar mengenai kendi. Continue reading →