Murder on the Orient Express

“The impossible could not have happened, therefore the impossible must be possible in spite of appearances.”
Agatha Christie, Murder on the Orient Express

Bulan Desember tahun 1931, saat kembali ke Inggris setelah mengunjungi Max Mallowan, suaminya, yang sedang melakukan penelitian di Nineveh (sekarang bagian negara Irak), kereta Orient Express yang ditumpangi oleh Agatha Christie berhenti selama 24 jam karena terjebak banjir.  Nah, menurut Max Mallowan di autobiografinya, Agatha Christie adalah perempuan yang tidak pernah mengeluh. Apakah berada di tengah padang pasir berminggu-minggu atau tersesat, kendaraan mereka kejeblos di lumpur sampai pernah suatu kali terpaksa menginap di sel tahanan penjara karena gak ada pilihan lain juga dia gak pernah protes, berkeluh kesah, dan nyalah-nyalahin orang lain. Dan inilah yang membuat Max Mallowan melamarnya untuk menjadi istrinya.

Dan, apa yang dilakukan perempuan yang konon tidak pernah mengeluh ini di dalam kereta di tengah banjir?

Duduk tenang menulis dan mengamati setiap penumpang yang ada di gerbong kelas satu dan dua.

‘Laporan pengamatan’ ini kemudian dikirimnya kepada suaminya melalui surat. Max Mallowan kabarnya sangat menikmati surat yang dikirimkan istrinya, karena bentuknya jadi seperti sebuah cerita dan mengusulkan agar dibuat saja novel yang settingnya berada di Orient Express saat terpaksa berhenti di tengah jalan.

Kisah di Buku

Setelah menempuh perjalanan dengan Taurus Express dari Aleppo (Suriah) menuju Istambul (Turki), Hercule Poirot merencanakan untuk istirahat sejenak di Hotel Totaklian. Di sana dia mendapat telegram yang memintanya segera kembali ke London. Sayangnya, kereta Orient Express malam sudah penuh. Hercule hanya mendapatkan kompartemen di kelas dua, itu juga karena dia kenal Mr. Bouc, direktur perusahaan kereta. 

Beberapa saat kemudian, Hercule Poirot didatangi oleh Mr. Samuel Ratchett, seorang pengusaha kaya raya asal Amerika Serikat yang merasa mendapatkan ancaman.  Dia ingin agar sang detektif terkenal ini mau menjadi pengawalnya. Hercule Poirot menolak dengan halus. Mr. Ratchett menawarkan sejumlah besar uang dan Poirot tetap menolak dengan alasan: dia gak suka muka Mr. Ratchett

Huahahaha… Inilah yang membuat saya memilih buku ini di toko buku beberapa tahun yang lalu.

Lanjutkan membaca “Murder on the Orient Express”

Iklan

Appointment with Death

“The moral character of the victim has nothing to do with it! A human being who has exercised the right of private judgment and taken the life of another human being is not safe to exist amongst the community.”
Agatha Christie, Appointment with Death

Setelah menikah dengan Max Mallowan yang merupakan seorang arkeolog, kehidupan Agatha Christie ikut bergeser dari lingkungan kalangan atas di Inggris menjadi petualang di negara-negara timur tengah. Dari satu situs sejarah ke situs sejarah selanjutnya. Pada tahun 1938, Agatha dan Max berada di Palestina, Yordania, dan Syiria. Pada tahun itu juga terbit dua novel beliau: Appointment with Death dan Hercule Poirot’s Christmas

Kisah di Buku

Dalam perjalanan liburannya ke Timur Tengah, di Jerusalem, Hercule Poirot mengamati keluarga Boynton yang terlihat sangat tertekan.  Sebab perlakuan Mrs. Boynton kepada anak-anaknya mirip seperti diktator. Wanita yang digambarkan oleh sebagai seorang yang gendut dan grotesque (aneh, menggelikan, patut  dicemooh) dahulunya adalah seorang sipir penjara. Dan dia memperlakukan anak-anaknya sebagaimana dia memperlakukan para tahanan.

Lanjutkan membaca “Appointment with Death”

Temple Grandin, In Front of Class, dan The Spiral Staircase

Temple Grandin adalah sebuah biopic (film biografi) yang menceritakan tentang seorang penderita autis yang bukan hanya berhasil meraih gelar doctor dalam bidang ilmu hewan dan sarjana dalam bidang psikologi, namun juga dikenal sebagai seseorang yang banyak memberikan kontribusi dalam bidang pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus seperti dirinya di sela-sela kesibukannya sebagai profesor. Front of Class juga merupakan biopic-nya Brad Cohen yang seorang penyandang Tourette Syndrom yang kemudian menjadi guru SD. Sementara The Spiral Staircase adalah autobiografi Karen Armstrong yang menderita epilepsy meraih gelar sarjana dan pasca sarjana dalam bidang filsafat, kemudian menjadi guru di sekolah menengah dan dosen di almamaternya yaitu Universitas Oxford. Jadi  tiga kisah ini punya rasa yang sama. Sama-sama diangkat dari kisah nyata pun orangnya masih hidup dan masih berkarya secara nyata maupun tulisan. Sama-sama berhasil melampaui kesulitannya masing-masing kemudian memilih karir sebagai pengajar. Sebuah profesi yang mengharuskannya bertemu dengan banyak orang. Hal yang paling berat bagi mereka

Lanjutkan membaca “Temple Grandin, In Front of Class, dan The Spiral Staircase”

Murder in the First

Satu lagi serial TV yang saya sukai tidak dilanjutkan. Biasalah, ratingnya gak gitu bagus. Well, sepertinya selera saya memang gak klik dengan selera orang kebanyakan…mungkin.

Ini drama prosedural polisi yang buat saya sangat menarik karena diungkap sampai ujung-ujungnya. Sampai jalannya persidangan dan keputusan hakim. Satu season hanya terdiri dari satu atau dua kasus saja yang berjalannya bersamaan. Jadi bukan kasus satu selesai lalu lanjut ke kasus yang kedua. Pada season satu, dua kasus ini ternyata berhubungan, sementara pada season dua dan tiga tidak berhubungan.

Kisah diawali dengan ditemukan mati seorang pengedar narkoba. Progres kasus ini cukup cepat: ditemukan korban, ada saksi mata yang kemudian mengarahkan polisi kepada tersangka. Sang tersangka sendiri pada pra persidangan langsung mengakui bahwa dia telah melakukan pembunuhan. Satu hal yang menjadi ganjalan bagi Inspektur English dan Inspektur Mulligan yang menangani kasus: ada email yang dikirimkan korban kepada Erich Blunt beberapa saat sebelum dia tewas!

Erich Blunt adalah seorang milyader muda, jenius dalam bidang teknologi informasi.

Lanjutkan membaca “Murder in the First”

Closed Casket

Good sense appears the most underhand of tactics to a man who has no reserves of his own to draw upon.

(Sophie Hannah)

Beberapa saat yang lalu saat saya mendengar kalau ada penulis lain yang akan menulis kisah Hercule Poirot, perasaan saya campur aduk juga. Walaupun sebenarnya cukup biasa itu. Tapi sebagai penggemar setia Agatha Christie, rasanya agak gak rela. Jadi buku pertamanya yaitu The Monogram Murders walaupun tetap saya beli, tapi bacanya gak tamat-tamat.

Bawaan suka membanding-bandingkan, sih, ya… Jadi kebanyakan pikiran ‘kok gini?’ ‘Loh kok gini?’ Akhirnya gak selesai-selesai, dah!

Lalu buku kedua pun terbit. Dan pendapat saya berubah sama sekali!

Saat buku kedua muncul, saya langsung membeli dan feel-nya memang langsung dapet. Kayaknya mudah aja membacanya. Saya kira, ini memang lebih familiar rasa Agatha Christie dibanding yang pertama. Mungkin penulisnya sendiri sudah nyaman untuk mengisahkannya.

****

Lady Athelinda Playford, seorang penulis buku anak yang sangat terkenal, mengundang Edward Catchpool dan Hercule Poirot ke Lillieoak, kediamannya yang mewah di Irlandia. Beliau tinggal bersama anak laki-lakinya yaitu Harry dan istrinya Dorro, anak perempuannya yaitu Claudia, Joseph Scotcher sang sekretaris pribadi serta seorang perawat yaitu Sophie Bourlet. Selain para penghuni rumah, hadir pula para tamu pada jauman makan malam itu yaitu Orville Rolfe  dan Michael Gathercole yang merupakan pengacara Lady Playford serta dr. Randall Kimpton yang merupakan tunangan Claudia.

Lanjutkan membaca “Closed Casket”

Solomon’s Perjury

Saya menonton dua film (Jepang) Solomon’s Perjury sudah cukup lama, kemudian teringat kembali karena Korea ikut mengadaptasinya menjadi sebuah serial yang secara ogah-ogahan saya ikuti. Terus terang, saya sebetulnya kurang merasa ‘diajak’ oleh serial Korea-nya tidak seperti dua film Jepang-nya yang betul-betul menyedot kosentrasi saya, namun toh tetap saya ikuti juga serialnya hingga tamat.

Saya lebih tertarik membandingkan diantara keduanya.

Sebenarnya, membandingkan keduanya pun tidak lengkap karena saya belum pernah membaca kisah originalnya yang berupa novel karangan Miyuki Miyabe. Bahkan membaca novel Miyuki Miyabe pun belum pernah kecuali kalo karyanya yang berjudul The Devil’s Whisper yang baru saya baca sampai halaman 28 saat ini masuk hitungan sudah baca….menurut saya belum. Dan satu hal yang ada di pikiran saya saat membaca buku ini: Men, ini orang demen banget ngelemparin orang dari atap gedung!

Dalam adaptasi filmnya, kisah ini dipecah menjadi dua.

Solomon’s Perjury Part 1 : Suspicion
Ryōko Fujino/Go Seo-yeon
Ryōko Fujino/Go Seo-yeon

Kisah diawali dengan tibanya Ryoko Fujino di SMP tempatnya dulu bersekolah. Dia bukan datang untuk reuni, melainkan untuk mengawali harinya sebagai guru di sana. Diterima oleh Ibu Kepala sekolah, Ryoko langsung terlibat dengan percakapan mengenai masa lalu ketika dia bersekolah disana, dan kegemparan yang terjadi saat itu. Sang Ibu Kepala Sekolah sangat tertarik mengetahui bagaimana kisah tersebut dari sudut pandang Ryoko, maka kisah pun dimulai.

Lanjutkan membaca “Solomon’s Perjury”

Kisah Seorang Pedagang Darah

Sebaiknya membaca dulu tulisan yang ini.

Awal bulan ini saya membaca novel karangan Yu Hua yang berjudul Chronicle of a Blood Merchant. Judul bahasa Indonesianya,  Kisah Seorang Pedagang Darah. Kalau anda suka dengan drama yang nyerempet-nyerempet sejarah, atau lebih spesifiknya masa Revolusi Kebudayaan di Cina, saya yakin Anda akan suka buku ini.

Kali ini tokoh yang dikisahkan adalah seorang pria bernama Xu Sanguan. Kisah hidupnya tidak terlalu istimewa. Ayahnya meninggal saat kecil, ibunya pergi dari rumah meninggalkannya sendirian. Mungkin ibunya punya kekasih baru atau apa. Sanguan yang teringat bahwa dia masih memiliki kakek di desa, berjalan kaki menyusuri jalan pulang kampung. Beruntung, keluarganya memang masih ada dan dia diterima dan dibesarkan dengan baik. Bergulat dengan kemiskinan, tapi dia diperlakukan baik oleh kakek dan paman-pamannya. Saat besar, Sanguan bekerja di sebuah pabrik kain sutra sebagai pendorong gerobak kepompong. Di saat-saat libur, dia pulang ke desa kakeknya untuk membantu di kebun semangka.

Pada suatu hari, saat Sanguan dan salah satu pamannya bekerja di ladang di desa, datanglah seorang perempuan yang menceritakan bahwa dia tidak jadi menikahkan anak perempuannya. Sebab, si laki-laki calon mantu, badannya soak (ringkih). Buktinya, calon mantunya itu tidak pernah jual darah lagi.

Lanjutkan membaca “Kisah Seorang Pedagang Darah”