Kisah Seorang Pedagang Darah

Sebaiknya membaca dulu tulisan yang ini.

Berapa saat yang lalu, saya membaca buku karangan Yu Hua yang sama sekali saya tidak dapat letakkan. Judulnya Hidup (To Live). Awal bulan ini saya kembali membaca novel karangan Yu Hua yang berseting waktu sama dengan To Live. Judulnya,  Chronicle of a Blood Merchant. Judul bahasa Indonesianya,  Kisah Seorang Pedagang Darah. Kalau anda suka dengan drama yang nyerempet-nyerempet sejarah, atau lebih spesifiknya masa Revolusi Kebudayaan di Cina, saya yakin Anda akan suka buku ini.

Kali ini tokoh yang dikisahkan adalah seorang pria bernama Xu Sanguan. Kisah hidupnya tidak terlalu istimewa. Ayahnya meninggal saat kecil, ibunya pergi dari rumah meninggalkannya sendirian. Mungkin ibunya punya kekasih baru atau apa. Sanguan yang teringat bahwa dia masih memiliki kakek di desa, berjalan kaki menyusuri jalan pulang kampung. Beruntung, keluarganya memang masih ada dan dia diterima dan dibesarkan dengan baik. Bergulat dengan kemiskinan, tapi dia diperlakukan baik oleh kakek dan paman-pamannya. Saat besar, Sanguan bekerja di sebuah pabrik kain sutra sebagai pendorong gerobak kepompong. Di saat-saat libur, dia pulang ke desa kakeknya untuk membantu di kebun semangka.

Pada suatu hari, saat Sanguan dan salah satu pamannya bekerja di ladang di desa, datanglah seorang perempuan yang menceritakan bahwa dia tidak jadi menikahkan anak perempuannya. Sebab, laki-laki calon  badannya soak (ringkih), buktinya, calon mantunya itu tidak pernah jual darah lagi.

Lanjutkan membaca “Kisah Seorang Pedagang Darah”

Frequency

Sesuatu yang tidak pernah kuceritakan, tentang ayahku. Dia meninggalkan kami saat usiaku 6 tahun. Dia dalam penyamaran untuk NYPD. Terlibat terlalu dalam. Lupa pihak mana yang dia perjuangkan. Kemudian suatu malam di tahun 1996, Dia menghilang. Mereka menemukan mayatnya di East River. Dua hari setelah ulangtahunku yang ke-8. Beberapa orang mengatakan kematiannya adalah sebuah tragedi. Yang lain mengatakan dia memang pantas menerimanya.

 

Kisah dibuka pada tahun 2016, seorang detektif perempuan bernama Raimy Sulivan sedang berbicara kepada Daniel Lawrence, tunangannya, mengenai ayahnya yang tewas secara tidak terhormat. Pulang ke rumah ibunya, Raimy bermaksud untuk merayakan hari ulang tahunnya ke 28 bersama sang tunangan. Di gudang rumah ibunya ini, Daniel menemukan sebuah radio amatir. Teringat masa kecil, dia mencoba membetulkan radio amatir tersebut.

Beberapa saat kemudian, Raimy menyadari kalau radio amatir yang sudah lama mati itu kembali menyala. Dia dengan segera terlibat dengan percakapan dengan seorang pria yang kemudian disadarinya bahwa itu adalah ayahnya sendiri yang sudah lama meninggal dunia.

Frank Sullivan
Frank Sullivan

Ayah Raimy, Frank Sullivan adalah seorang polisi yang tewas saat bertugas. Sementara Raimy dikenal sebagai seorang detektif yang cemerlang, Frank justru dianggap sebagai polisi korup. Raimy yang sangat merindukan ayahnya ini berusaha untuk memperingatkan tentang kematian. Ayahnya selamat, bahkan duo ayah dan puterinya ini sempat bertugas bersama-sama sebelum Frank meninggal dunia pada tahun 2012 karena kecelakaan.

Ada tiga pendapat mengenai perubahan waktu seperti ini, secara teori. Pendapat satu , tidak akan berubah. Itu takdir. Jadi apa yang sudah terjadi, pasti terjadi seperti itu. Kalau Frank sudah ditakdirkan mati pada tahun 1996, maka walaupun anaknya sudah memperingatkan, Frank tetap akan mati. Dia bisa saja berusaha mengindar, tapi pasti gagal. Film seri Heroes season 1 (sebelum jadinya awut-awutan) nampaknya mengikuti pendapat yang ini. Hiro Nakamura kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan Charlie, namun tidak berhasil. Berapa kalipun Hiro kembali ke masa lalu, tetap saja akhirnya sama: Charlie mati. Jadi yang masih bisa kita ubah ada masa depan, bukan masa lalu.

Seperti kata Kaito Nakamura kepada Hiro, punya kekuatan Tuhan bukan berarti punya hak untuk bertindak jadi Tuhan.

Lanjutkan membaca “Frequency”

Three Days

Seperti TEN yang saya ikuti karena creatornya sama dengan creator Missing Noir M, Three Days juga saya ikuti karena yang menulis ceritanya adalah Kim Eun-hee. Nah, perempuan ini adalah penulis naskah Signal.

Saya agak bingung dengan judulnya: Tiga Hari. Saat mulai menonton, dan langsung tersedot dengan intensnya drama, saya mengira bahwa yang dimaksud ‘tiga hari’ di judul adalah panjang jalannya kisah. Tapi kemudian saya menyadari bahwa tidak mungkin kisah ini terjadinya hanya 3 hari saja. Cerita dimulai tanggal 3 Maret dan berakhir tanggal 15 Maret. Tiga hari di sini ternyata diambil dari perencanaan cuti presiden yang selama tiga hari yang kemudian awut-awutan.

Okeh, sebelumnya, drama ini tayang tahun 2014, tapi saya baru menontonnya awal tahun 2017, saat mulai rame berita pemakzulan Presiden Park Geun-hye. Pas banget karena kisah dramanya juga rada-rada nyerempet.

***

Cerita dimulai dengan ditabraknya Menteri Ekonomi Han yang merupakan sahabat Lee Dong-whi, presiden Korea Selatan. Presiden Lee sendiri sedang dalam kesulitan. Popularitasnya turun sampai menyentuh 10 persen saja setelah ada rumor mengenai sebuah kasus korupsi yang terjadi bertahun-tahun yang lalu dan sekarang sedang diselidiki oleh kejaksaan.  Setelah insiden penyerangan di pasar tradisional, Presiden Lee berniat untuk cuti menenangkan diri di villa kepresidenan selama tiga hari.

Sementara itu, Han Tae-kyung, anggota paspampres yang merupakan anak satu-satunya dari Menteri Han diskors karena tidak konsentrasi dalam bertugas sehingga terjadilah insiden pasar. Ya, manusiawi, lah. Ayahnya meninggal. Maka anggota termuda dari pasukan pengaman presiden ini pun mempergunakan masa skors ini dengan pulang ke rumah almarhum ayahnya.

Han langsung curiga (bahwa ayahnya mati bukan karena kecelakaan) saat menemukan rumah ayahnya dalam keadaan awut-awutan. Penyelidikannya sampai ke suatu rumah dengan seorang laki-laki sekarat menyatakan bahwa presiden akan mati pada tanggal 5 maret.

Saat Han Tae-kyung tiba di vila kepresidenan tengah malam tanggal 5 maret tersebut, mendadak semua lampu mati, terdengar bunyi tembakan beberapa kali. Tiga orang pengawal presiden yang berada paling dekat dengannya tewas sementara presiden menghilang.

Lanjutkan membaca “Three Days”

Endeavour

Case like this will tear the heart right out of a man. Find something worth defending. Music? I suppose music is as good of anything. Go home; put your best record on. Loud as it will play. And with every note, you remember, that something that the darkness couldn’t take from you (Fred Thursday kepada Endeavour Morse)

Endeavour adalah TV Seri Inggris yang merupakan prequel dari seri TV yang sudah melegenda, yaitu Inspector Morse.  Sama-sama menceritakan Detektif Endeavour Morse, tapi versi lebih muda. Terus terang, saya gak tahu apa-apa tentang, katanya, salah satu detektif  fiksi Inggris yang namanya sudah melegenda sejajar dengan Hercule Poirot ini. Hanya langsung jatuh suka saat menonton TV Movie-nya beberapa saat yang lalu. Kemudian, serialnya pun muncul.

Seperti drama seri Inggris yang biasanya, episode Endeavour gak terlalu banyak dalam satu seri (kalo drama amrik nyebutnya season), dan gak selalu juga akan langsung dilanjut tahun depannya. Bisa berkelanjutan kayak Downton Abbey, bisa juga lompat-lompat kayak Sherlock dan Black Mirror.

Seting kisah ini adalah kota Oxford, Inggris, tahun 1965. Pemuda Endeavour Morse (Sumpah, namanya asik bener! Unik, gitu. Nanti kalau saya punya anak laki namain Endeavour, ah :p Eh, tapi dipanggilnya apa, ya? Dede? Een? Dea?) menulis surat pengunduran dirinya dari kepolisian Inggris. Namun sebelum sempat memberikan surat, dia sudah keburu  naik pangkat menjadi detektif dan dipindah ke CID (Criminal Investigation Unit) di Oxford. Maka setengah terpaksalah dia pindah ke kota yang sudah cukup familiar dengannya—karena sempat sekolah di sana—dan terlihat sekali, dia tidak bermaksud menetap lama. Namun sebagai seorang polisi, tentunya dia tidak dapat menolak kasus-kasus yang kemudian musti ditanganinya.

Lanjutkan membaca “Endeavour”

Special Affairs Team TEN

Saya tertarik menonton Special Affair Team TEN (Selanjutnya disebut TEN ajalah, ya.) karena yang bikin serial ini adalah orang yang sama dengan  yang bikin Missing Noir M. Dari awal saja suasananya udah mirip: dark, dihiasi lagu-lagu jadul menyayat hati, serta judulnya sama-sama panjang dan gak jelas. Apa sih maksudnya ‘TEN’ di judulnya? Sepuluh orang? Tapi tim hanya terdiri dari empat orang. Sepuluh episode? Lah, episode season 1 hanya terdiri dari 9 episode. Season 2 ada 12 episode.

Kisah dimulai dari episode 1 saat nampaknya, ada tiga kasus yang tidak saling berhubungan dan ditangani oleh empat detektif yang berbeda.

Dari kiri: Baek Do-shik, Park Min-ho (duduk), Yeo Ji-hoon, dan Nam Ye-ri.
Dari kiri: Baek Do-shik, Park Min-ho (duduk), Yeo Ji-hoon, dan Nam Ye-ri.

Yeo Ji-hoon, dulunya seorang detektif yang cukup cemerlang, namun dia mengundurkan diri dari penyelidikan dan beralih menjadi pengajar di Akademi Polisi setelah istrinya menjadi korban serial killer yang dijuluki dengan nama F. Julukan ‘F’ sendiri diambil karena korban-korbannya selalu wanita (Female), terobsesi bagian wajah (Face), dan pembunuhannya selalu terjadi pada hari Jumat (Friday). Tujuh tahun kemudian, saat drama ini dimulai, terjadi pembunuhan kembali dengan modus operandi yang sama. Maka Yeo Ji-hoon pun kembali ke aktif di penyelidikan kasus.

Yeo Ji-hoon dibantu dengan Park Min-ho, salah satu siswanya yang masih sangat muda dan sebenarnya cemerlang, namun kurang percaya diri. Kayak Gideon dan Reid di Criminal Minds Season 1 gitu. Satu hal yang Park Min-ho PD (over PD malahan) adalah soal kegantengannya yang, memang cukup membantu dirinya dan penyelidikan juga, sih.

Baek Do-shik, seorang detektif pembunuhan yang lebih mengandalkan intiusinya yang biasanya benar! Agak ngeselin emang buat temen-temen satu timnya yang udah capek-capek melototin rekaman CCTV lama eh tau-tau ini orang cuma liat sekilas udah bisa nemuin petunjuk. Do-shik ini sedang menangani kasus bunuh diri seorang mucikari.

Detektif yang paling muda sekaligus satu-satunya perempuan di tim ini adalah  Nam Ye-ri, seorang detektif di bagian Crime Victim Support Center. Dia sedang menangani kasus mengenai hilangnya seorang perempuan muda.

Nam, Ye-ri ini punya kelebihan bisa tahu kalau orang yang diajaknya bicara itu sedang berbohong. Dia juga gak tahu bagaimana caranya atau darimana dia bisa tahu, pokoknya tahu aja. Dan kemampuan tersebut lebih banyak menyusahkannya daripada menguntungkannya. Karena itu, walaupun selalu tahu orang lain berbohong, dia akan berpura-pura tidak tahu.

Tiga kasus yang nampaknya tidak ada hubungannya ini ternyata memiliki benang merah yang mempertemukan mereka berempat. Dan inilah awal pembentukan tim TEN.

Lanjutkan membaca “Special Affairs Team TEN”

A Murder Is Announced karya Agatha Christie (2 Maret – 19 Mei 2016)

22. A Murder Is Announced karya Agatha Christie (baca dari 2 Maret – 19 Mei 2016)

“People with a grudge against the world are always dangerous. They seem to think life owes them something. I’ve known many an invalid who has suffered worse and been cut off from life much more . . . and they’ve managed to lead happy contented lives. It’s what’s in yourself that makes you happy or unhappy.”
Agatha Christie, A Murder Is Announced

Kisah ini ditulis tahun 1950, saat dimana negara Inggris sedang menghadapi krisis pasca perang. Tidak sampai kelaparan, karena mereka lah pihak yang menang saat itu, namun tetap saja kondisi serba sulit. Bahan kebutuhan pokok sehari-hari dijatahkan dan penduduk memimpikan masa kehidupan sebelum perang. Ini juga tahun-tahun dimana Koran menjadi media massa yang paling berpengaruh.

Penduduk desa Chipping Cleghorn biasa membaca Chipping Cleghorn Gazatte pada tiap pagi sambil sarapan dan pada hari itu, Jumat pagi, ada sesuatu yang tidak biasa. Ada pengumuman menggelitik di kolom personal. Sebuah iklan pembunuhan.

Iklan Pembunuhan : akan dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 9 Oktober di Little Paddock, pukul 6.30 sore.

Nah, kalau ini settingnya di kota yang sibuk, mungkin gak akan banyak yang ambil pusing. Halah, ini palingan Cuma orang iseng aja. Namun, setting kisah ini di sebuah desa yang gak terlalu banyak yang bisa dilakukan. Bisa terbayanglah, orang-orang mulai heboh dan pastinya berniat datang.

Lanjutkan membaca “A Murder Is Announced karya Agatha Christie (2 Maret – 19 Mei 2016)”

Missing Noir M

The suspect was arrested but was justice delivered?

Sampai beberapa saat yang lalu, saya paling males yang namanya menyetel channel TVN. Buat yang pakai TV Kabel atau satelit tentu tahu itu channel dari Korea (kayaknya gabungan antara TVN dan OCN sebenernya kalo lihat drama-drama yang ditayangkan). Akhir-akhir ini, channel itu malah lumayan sering saya tongkrongin. Yup, pandangan saya terhadap drama korea memang berubah semenjak nonton serial Signal, yang kemudian digantikan oleh Missing Noir M.

Saya nonton Missing Noir M di TVN, tapi di negara asalnya tayang di channel OCN.

Serial ini langsung ‘megangin’ saya dari awal. Adegan pertama adalah kilasan-kilasan yang berganti-ganti antara seorang laki-laki memakai baju tahanan duduk dan menggambar, sementara adegan yang lain adalah seorang polisi yang memasuki sebuah gedung kosong mendekati sebuah selubung plastik. Semakin sang polisi mendekat selubung plastik tersebut, semakin jelas gambar si tahanan. Dua-duanya ternyata sama: seseorang terbaring dengan banyak sekali infusan tergantung diatasnya.

Kertas yang sedang digambari oleh sang tahanan adalah sebuah kartu pos yang ditujukan kepada agen FBI Korea yaitu James Gil.

Dan entah kenapa, yang ada di benak saya saat itu adalah Sherlock Holmes menyeringai kearah ibu kostnya seraya berkata:

‘The game, Mrs. Hudson is on!’

Lanjutkan membaca “Missing Noir M”