Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit

Semoga yang melarikan anak saya tidak akan selamat hidupnya, semoga ia mati tertikam keris. Sumur-sumur di Panawijen supaya kering dan sumber-sumber tidak mengeluarkan air lagi, sebagai hukuman para penghuni karena mereka tidak memberitahu saya akan pencurian anak saya. Semoga anak saya yang telah mempelajari karma amamadangi tetap selamat dan mendapat bahagia besar (Mpu Purwa (ayahnya Dedes), Menuju Puncak Kemegahan hal 127)

Setelah muter-muter di ranah fiksi, sekarang saatnya mulai memasuki buku nonfiksi. Dan karena nonfiksi, maka tentunya waktu saya membaca lebih lama. Saya kira saya mulai membaca buku ini bertepatan saat saya membaca novel Majapahit: Bala Sanggrama karya Langit Kresna Hariadi. Namun selesainya jauh lebih lama.

Prof. Dr. Raden Benedictus Slamet Muljana adalah seorang ahli sejarah dan ahli filologi (ahli bahasa dalam sumber sejarah). Beberapa bukunya mengupas tentang sejarah kerajaan Majapahit. Di buku yang terbit pertama kali tahun 1965 ini, Prof. Slamet Muljana mengungkapkan bagaimana berdirinya kerajaan Majapahit dari mulai Arok sampai mangkatnya Gajah Mada.

Buku ini terdiri dari 7 bab dengan lampiran peta ibukota Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Rajasanagara (Hayam Wuruk)

Bab 1: Prapanca dan Kakawinnya

Bab ini mengupas mengenai siapa sebenarnya Prapanca yang menulis Nagarakretagama. Karena ternyata Prapanca itu adalah nama samaran atau nama olok-olok. Prapanca sendiri artinya kesedihan, rintangan untuk tindak utama (penyesatan, nafsu, kesombongan). Sudah barang tentu itu bukan nama asli si pengarang. Namun di karya Negarakretagama tersebut juga banyak terdapat petunjuk yang tersirat mengenai siapa sebenarnya orang yang menulis karya ini.

Sumpah! Bab ini, buat saya, menyenangkan sekali. Kayak cerita detektif, men. Prof. Slamet Muljana mengupas beberapa petunjuk yang terdapat pada Negarakretagama untuk mengungkapkan siapa orang yang paling mungkin menulisnya. Seorang putra pembesar agama Buddha yang kemudian menggantikan jabatan ayahnya. Pejabat yang sangat dekat dengan raja Majapahit. Seorang Dharmadyaksa (kepala pendeta) Kasogatan (agama Buddha). Namun, pada saat menulis kakawin, beliau sudah tidak menjabat lagi. Dan bukan karena mengundurkan diri.

Sang pejabat ini dipecat, atau tersisih dari istana. Itulah kenapa dia mengambil nama Prapanca yang artinya kesedihan. Dia mengungkap bahwa merasa kesepian tinggal di desa dengan semua kawannya tidak lagi mengunjunginya. Ada kemungkinan Prapanca adalah korban fitnah. Memang pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, terjadi perselisihan antara dua agama resmi Majapahit: Syiwa (Hindu) dan Buddha. Karena Hayam Wuruk adalah penganut Syiwa, maka umat Buddha pada saat itu agak tersisih. Prapanca sendiri menyatakan bahwa ada kuil-kuil yang ditinggalkan tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah, patung-patung yang hilang entah kemana, juga ada larangan-larangan tertentu bagi pendeta Buddha saat berdakwah.

Bab 2: Nagarakretagama Sebagai Pujasastra

Kalau bab pertama mengupas mengenai penulisnya, maka bab yang kedua ini mengupas tentang karya sastranya itu sendiri. Menurut saya, sama menariknya dengan bab pertama.

Nagarakretagama terdiri dari 98 pupuh dengan susunan:

Bagian Pertama

7 pupuh menguraikan tentang raja dan keluarganya.

9 pupuh tentang ibukota dan wilayah Majapahit

23 pupuh tentang perjalanan raja menuju Lumajang

10 pupuh tentang silsilah raja Hayam Wuruk dari masa Singasari

Bagian Kedua

10 pupuh tentang perburuan dan perjalanan pulang

23 pupuh tentang oleh-oleh, perhatian pada leluhur, Gajah Mada, dan bangunan suci

9 pupuh tentang upacara berkala

7 pupuh tentang pujangga pemuja raja

Menarik sekali! Susunannya persis sama hanya terbalik saja.

Bab 3: Negarakretagama Sebagai Sumber Sejarah Kebudayaan

Pada bab ketiga ini Prof. Slamet Mujana menjelaskan bahwa keberadaan Negarakretagama bukan hanya sebagai sumber sejarah, tapi juga kebudayaan. Ini membuatnya berbeda dengan prasasti. Dengan Negarakretagama ini kita jadi bisa membayangkan (karena memang dijelaskan cukup detil) bagaimana bentuk atau wujud ibukota Majapahit, misalnya.

Tembok batu merah tebal lagi tinggi mengitari keraton. Itulah benteng keraton Majapahit. Pintu besar di sebelah barat yang disebut puwaktara menghadap ke lapangan luas. Di tengah lapangan mengalir parit yang mengelilingi lapangan. Di tepi benteng ditanami beringin (Brahmastana), berderet-deret memanjang dan berbagai-bagai bentuknya. Di situlah tempat tunggu para perwira, yang sedang meronda menjaga paseban (Halaman, 58)

Selain wujud ibukota, dijelaskan pula bagaimana pembagian komplek istana, wilayah kerajaan Majapahit termasuk negara-negara sahabat Majapahit.

Termasuk Syangka (Siam/Thailand) dan Kamboja! Ternyata mereka udah jadi negara sahabat kita sejak masa Majapahit. Cuma, yaaa… kerajaan Siam bertahan sampai sekarang, bahkan berhasil mempertahankan kemerdekaannya sebagai negara yang gak pernah dijajah, sedangkan Majapahit udah lama hilang. Hiks…

Termasuk dijelaskan pula negara-negara taklukan baik itu masa pemerintahan Gajah Mada sebagai Patih Mangkubumi (patih tertinggi/perdana menteri) maupun di bawah Empu Nala sebagai Tumenggung Amancanagara (Menteri Luar Negeri).

Terus terang, saya cukup haus dengan kisah Empu Nala. Dialah ujung tombak Majapahit, tapi kok namanya berada di bawah bayang-bayang Gajah Mada, ya..

Bab 4: Susunan Pemerintahan Majapahit

Majapahit bukan sebuah negara tradisional dimana raja memerintah semua takluk, namun negara dengan sistem pemerintahan yang cukup baik terorganisir. Puncak Pimpinan tentunya raja yang memiliki kekuasaan absolut.

Dewan Pertimbangan Agung

Sering disamakan dengan Sapta Prabu adalah sebuah dewan yang berisi kerabat raja. Dewan ini dikepalai oleh raja dan bertugas untuk memberikan masukan atau pertimbangan atas hal-hal yang sangat penting mengenai urusan negara. Contohnya, memilih pengganti Patih Mangkubumi.

Jadi gak kayak di Game of Thrones. Raja enak aja milih siapa yang jadi Hand of King-nya. Di sini, raja Majapahit memanggil dewan penasihat dulu. Yaaa, walaupun ujung-ujungnya sih, terserah raja mau milih siapa, ya..

Patih Amangku Bumi

Adalah patih tertinggi pada kerajaan Majapahit. Patih bisa dikatakan sebagai kepala pemerintahan. Jadi memang sama kedudukannya saat ini seperti perdana menteri.

Bentuk Majapahit bisa dikatakan kerajaan bersatu, karena ada kerajaan-kerajaan kecil di bawahnya. Kerajaan-kerajaan ini dipimpin oleh kerabat raja sendiri. Contohnya, Kertawardhana (ayah Hayam Wuruk) adalah bhre Singasari. Raja Singasari. Adik perempuan Hayam Wuruk adalah Bhre Lasem. Nah, setiap kerajaan ini memiliki patih (kepala pemerintahan) masing-masing. Patih Amangku Bumi adalah patih tertinggi berkedudukan di pusat kerajaan.

Patih Amangku Bumi pertama Majapahit adalah Nambi yang menjabat pada masa pemerintahan Prabu Kertarajasa (Raden Wijaya) dan Jayanegara. Pada masa Tribhuwana Tunggadewi (ibu Hayam Wuruk) Patih Amangkubumi adalah Empu Krewes (Arya Tadah) yang kemudian mengundurkan diri karena sudah terlalu tua, lalu digantikan Gajah Mada yang menjabat sampai masa Hayam Wuruk.

Setelah Gajah Mada dipecat akibat peristiwa Pasunda (Perang Bubat), atau diberikan cuti panjang, Hayam Wuruk kesulitan menentukan penggantinya. Maka dipilihlah 5 orang yang menduduki 5 jabatan kementrian:

  1. Empu Tandi sebagai Wreddhamantri. Mungkin menteri senior, kalau melihat dari nama
  2. Empu Nala, Tumenggung Mancanegara atau wakil mahkota. Ini orang adalah jenderal angkatan laut Majapahit. Angkatan Laut Majapahit! Ujung tombak penaklukan Nusantara!
  3. Kertawardhana, ayah Hayam Wuruk sendiri dipilih sebagai Dharmadhyaksa alias ketua Mahkamah Agung
  4. Patih Dami sebagai Yuwamantri. Semacam sekretariat istana.
  5. Empu Singa sebagai sekertaris negara

Continue reading →

Iklan

Gajah Mada III: Hamukti Palapa

Buku ketiga serial Gajah Mada langsung lompat tiga tahun setelah diangkatnya Tribhuana Tunggadewi  (Dyah Gitarja) dan Rajadewi Maharajasa (Dyah Wiyat) menjadi raja Majapahit. Di tahun ini, banyak sekali peristiwa yang akan dituliskan dalam sejarah. Meletusnya Gunung Kampud, gempa bumi di Pabanyu Pindah, penumpasan pemberontakan Sadeng dan Keta, diangkatnya Gajah Mada sebagai Mahapatih Mangkubumi (Patih tertinggi atau sejajar dengan Perdana Menteri pada saat ini), dan yang terakhir, tahun dimana Hayam Wuruk lahir.

Yup, di buku yang ini banyak banget ceritanya, men!

Kisah dimulai dengan penggambaran bagaimana suasana Majapahit yang sedang dilanda paceklik. Sejarah mencatat bahwa pada saat Prabu Putri Tribhuwana Tunggadewi naik tahta, Majapahit mulai memasuki masa tentram. Sebelumnya, pada masa pemerintahan Raden Wijaya dan Jayanegara, perang berkecamuk dilanjutkan pemberontakan demi pemberontakan melanda terus-terusan. Prabu Putri Tribhuwana bersama adiknya, Rajadewi, pada masa awal pemerintahan memang terlihat lebih memfokuskan pada kesejahteraan rakyat. Nampaknya sistem-sistem sederhana penanggulangan bencana sudah mulai terbentuk sehingga walaupun dilanda kemarau panjang, keadaan rakyat tidak terlalu menderita.

Kemudian, mendadak hawa kantuk melanda ibukota. Segenap penghuni, termasuk para Bhayangkara terlelap seakan dibius tidur. Hanya Ratu Gayatri yang justru terbangun dari tapa. Sejurus kemudian, gempa melanda. Di saat yang ruwet itu, dua benda berharga kerajaan Majapahit hilang dari Gedung Pusaka.

Senopati Gajah Enggon sebagai komandan tertinggi Bhayangkara tidak menganggap hilangnya dua pusaka kerajaan tersebut sebagai sesuatu yang remeh. Bukan bendanya, tapi yang lebih membuat Gajah Enggon gelisah adalah kenyataan bahwa ada orang yang mampu masuk ke dalam komplek istana dan mencuri tanpa ketahuan. Gajah Enggon pun menghadap Prabu Putri. Ia mempertanggungjawabkan kesalahannya dengan mengundurkan diri sebagai pemimpin Bhayangkara serta minta diri untuk menyelidiki dan berjanji mengembalikan kedua benda yang hilang tersebut ke istana. Atas petunjuk dari Ratu Gayatri, Enggon bersama sahabatnya Pradhabashu yang juga mantan Bhayangkara segera bertolak menuju Ujung Galuh, pelabuhan terbesar Majapahit yang saat ini (menurut pendapat sebagian besar ahli sejarah) menjadi sebuah kota bernama Surabaya.

Kenapa Ujung Galuh?

Yaaa, karena Ratu Gayatri menyuruh Gajah Enggon ke sana.

Mana Gajah Enggon ngeh kalo hal-hal pertama yang dihadapi olehnya saat tiba di Ujung Galuh adalah dia ‘ditodong’ untuk menikahi seorang perempuan cantik yang jago berkelahi.

Tribhuwana Wijaya Tunggadewi (gambar nemu dari internet)

Tribhuwana Wijaya Tunggadewi (gambar nemu dari internet)

Sementara itu, persoalan Dyah Menur ternyata belum usai.

Okeh, di buku kedua terungkap bahwa Raden Kudamerta, suami dari Dyah Wiyat (Rajadewi Maharajasa) ternyata telah menikah sebelumnya dengan seorang perempuan yang bernama Dyah Menur (‘Dyah’ itu gelar ningrat untuk permpuan baidewei. Mungkin sejajar dengan princess), dan bahkan sudah memiliki seorang putera. Ini bukan hanya menempatkan Dyah Wiyat, puteri bungsu Raden Wijaya, dengan telak sebagai istri kedua, tapi juga mengancam tahta kerajaan. Menurut Gajah Mada, persoalan ini serius. Putera Raden Kudamerta bisa saja nantinya tahu-tahu menuntut tahta Majapahit. Apalagi saat ini baik Prabu Tribhuana dan Rajadewi sama-sama belum mendapatkan keturunan. Sehingga bagi Gajah Mada, hanya satu jalan penyelesaian persoalan ini: Dyah Menur dan puteranya harus mati.

Continue reading →

Februari 2018

Pada bulan Februari 2018, saya berhasil menamatkan 6 buku.

 

  1. A Clash of Kings (A Song of Ice and Fire 2) karya George RR Martin. Baca sejak 23 Juni 2016-1 Februari 2018.

Lumayan lama juga saya membaca buku ini, namun bukan berarti bukunya berat. Sama sekali tidak. Tapi karena secara garis besar, saya sudah hafal isi ceritanya dari serial Game of Thrones yang memang saya ikuti. Jadilah saya tidak terlalu tertarik untuk segera menyelesaikannya.

  1. Majapahit: Bala Sanggarama karya Langit Kresna Hariadi. Baca sejak 28 Januari-3 Februari 2018.

Saya sudah membuat tulisan mengenai buku ini di sini.

  1. The Murder on the Links karya Agatha Christie. Baca sejak 20 November 2016-4 Februari 2018.

Ini mungkin salah satu buku karya Agatha Christie yang banyak sekali dikomentarin bagus, tapi saya tidak menikmatinya. Jadilah membaca buku ini lamaaaa sekali. Setiap mulai baca buku ini, saya pun tertarik membaca buku yang lain.

Saya sudah membuat tulisan mengenai buku ini di sini.

  1. Gajah Mada: Makar Dharmaputera karya Langit Kresna Hariadi. Baca sejak 28 November 2016-19 Februari 2018.

Ini karya Langit Kresna Hariadi pertama yang saya baca dan sulitnya bukan main pada awalnya. Sebagian karena banyak istilah yang saya gak ngerti kayak ‘segelar sepapan’ atau macam-macam gelaran perang yang dikisahkan. Sumpah mati, saya sampai garuk-garuk kepala.

Jadi begini, saya bukan generasi penikmat kisah kolosal di radio ataupun TV. Jaman kisah kolosal seru di radio, saya masih balita kali. Gak ngeh. Kalo yang di TV, yaaa… Saya dulu gak punya TV. Bukan karena gak mampu, tapi ayah saya musuhan sama TV. Jadi, walaupun suka sejarah, saya tuh bener-bener blank sama cerita kolosal. Mungkin itu yang bikin saya sulit memulai kisah Gajah Mada.

Tapi terus terang, salah satu hal terbesar yang saya salahkan saat awal membaca buku ini yang terus bikin saya berputar-putar adalah karena saya membaca dari ebook gratisan yang beredar di internet. Yaaa, kalau pernah membandingkan antara ebook kita boleh nyedot atau yang kita beneran beli, tentunya beda banget kualitasnya. Ngaruh banget tuh di kenikmatan membaca.

Sampai suatu hari, saya membaca ulang buku Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Saya mulai tertarik membaca kembali buku Gajah Mada. Cuma karena lama banget gak selesai-selesai, saya pun membeli buku yang keduanya dan mulai membaca. Buku kedua, rasanya berbeda karena lebih ke kisah misteri sehingga saya bisa menikmatinya. Baru kemudian saya kembali ke buku yang pertama dan segera dapat menyelesaikan.

Saya sudah menulis mengenai buku ini di sini.

  1. A Storm of Sword karya George RR Martin. Baca dari 28 Juni 2017-22 Februari 2018.

Sama lah dengan yang sebelumnya. Alasan saya membaca buku ini lama sekali ya karena saya sudah tahu ceritanya. Jadilah saya kurang merasa tertantang say membacanya.

  1. Gajah Mada: Bergelut dalam Kemelut Tahta dan Angkara karya Langit Kresna Hariadi. Baca dari 23 Februari-28 Februari 2018.

Saya sudah menulis reviewnya di sini

Continue reading →

Gajah Mada II: Bergelut dalam Kemelut Tahta dan Angkara

Beuh, judulnya!

Kisah di Buku

Sembilan tahun setelah pemberontakan Ra Kuti, Prabu Jayanegara tewas dibunuh oleh tabibnya sendiri yaitu Ra Tanca. Buat yang sudah membaca buku pertama dari serial Gajah Mada ini tentunya sudah ngeh kalau Ra Tanca itu kayak Prof. Snape, orang yang awalnya menjadi salah satu anak buah Ra Kuti namun sebelum pemberontakan benar-benar meletus, dia pindah kubu dan menjadi mata-mata yang membocorkan seluruh rencana kepada Gajah Mada. Ketika pemberontakan dapat dipadamkan, Ra Tanca bukan hanya diberi amnesty, tapi juga diangkat menjadi tabib istana.

Tapi Sembilan tahun kemudian, Ra Tanca membunuh Jayanegara yang saat itu sedang sakit. Gajah Mada yang juga berada di bilik pribadi Jayanegara segera menikam Ra Tanca yang sebelum matinya menggumamkan tiga kata kepada Gajah Mada.

Prabu Jayanegara tidak memiliki keturunan. Maka hari itu juga diadakan pertemuan diantara para janda Raden Wijaya yang masih hidup untuk menentukan kepada siapa tahta akan diwariskan. Tentunya kepada salah satu dari dua adik Jayanegara yaitu Dyah Gitarja atau Dyah Wiyat. Keduanya adalah anak dari Ratu Gayatri.

Ratu Gayatri yang bertindak sebagai perwakilan para janda Prabu Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) memutuskan untuk menikahkan kedua puterinya dengan tunangan masing-masing dan rencananya saat itu juga akan diumumkan siapa yang menggantikan Prabu Jayanegara sebagai raja Majapahit. Namun niatnya ini dengan segera dihentikan oleh Gajah Mada mengetahui ada beberapa pembunuhan lagi terjadi di istana pada hari itu juga. Tepat seperti pembicaraan antara Gajah Mada dengan sahabatnya Nadendra (nama asli dari Prapanca penulis Nagara Kretagama), bahwa tidak ada masalah diantara Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat ataupun keluarga Rajasa, namun orang-orang di belakang kedua suami dari mereka lah mungkin sangat haus kekuasaan dan bisa saja melakukan berbagai macam cara untuk merebut tahta.

***

Saat membaca buku yang kedua ini, saya cukup terkejut dan salut karena langsung diawali dengan dibeberkannya kesalahan-kesalahan pada buku pertama oleh penulisnya sendiri. Dan di buku yang kedua ini memang terlihat sekali penulis lebih berhati-hati akan kemungkinan kesalahan. Walaupun menurut saya peralihannya jadi terasa sekali. Sebab di buku yang kedua ini nampaknya kisah merujuk kepada dua karya Prof. Slamet Muljana yaitu Tafsir Sejarah Nagara Kretagama dan Menuju Puncak Kemegahan yang keduanya merujuk kepada kitab Nagara Kretagama. Sementara pemberontakan Ra Kuti di buku pertama kan rujukannya tentu kitab Pararathon.

Continue reading →

Victoria

Seri TV Victoria, sesuai dengan judulnya, mengisahkan tentang masa kekuasaan Ratu Victoria dari sudut pandang Sang Ratu itu sendiri. Pada seri yang pertama, kita diajak untuk ikut menyimak masa-masa awal kekuasaan beliau yang panjang ini. Dimulai dari seorang remaja bernama Alexandrina Victoria dari House of Hannover (menguasai Kerajaan Inggris sejak tahun 1714-1901), naik tahta pada usia 18 tahun, sampai pada kelahiran puteri pertamanya.

Episode 1: Doll 123

King William IV meninggal dunia tanpa meninggalkan pewaris tahta yang sah. Kedua putrinya yaitu Princess Charlotte dan Princess Elizabeth telah meninggal dunia. Walaupun King William IV sebenarnya masih memiliki 10 anak lain, namun karena semuanya anak dari selir, maka tidak memiliki hak untuk naik tahta. Sesuai dengan Act of Settlement tahun 1701 (UU yang mengatur pewarisan tahta di Inggris), maka yang berhak mewarisi tahta selanjutnya adalah adiknya yaitu Prince Edward dan keturunannya. Prince Edward sendiri telah meninggal dunia dan hanya memiliki satu anak yaitu Alexandrina Victoria yang pada saat William IV meninggal dunia, dia baru berusia 18 tahun.

Pada jam-jam pertama Victoria diberitahu bahwa pamannya meninggal dunia, yang artinya dia harus naik tahta, Victoria sudah langsung mendapat tekanan yang sangat keras dari Sir John Conroy yang terlihat sekali sudah menguasai ibunda sang ratu yang masih belia ini. Sir John ingin menguasai Victoria juga. Victoria melawan dengan memindahkan kediaman resminya dari Istana Kesington ke Istana Buckingham.

Di episode pertama ini, kisah berputar mengenai bagaimana seorang remaja perempuan yang tidak pernah bersekolah secara resmi, bahkan tidak pernah keluar dari rumahnya namun mendadak harus menjadi kepala negara. Tentunya, penuh dengan benturan. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa orang-orang di sekitar Victoria terlihat sekali ingin menguasai atau menyingkirkannya. Namun Victoria di sini masih sangat diuntungkan dengan adanya figure Lord Melbourne (Lord M), perdana menteri Inggris saat itu yang bijaksana dan tidak haus kekuasaan.

Kesabaran Lord M lah yang nantinya membentuk seorang anak perempuan bernama Victoria menjadi menjadi seorang ratu yang di tangannya, Inggris mencapai salah satu puncak kejayaannya.

Ratu Victoria setengah menangis saat memimpin upacara pertama kalinya

Ratu Victoria setengah menangis saat memimpin upacara militer untuk yang pertama kalinya

Episode 2: Ladies in Waiting

Lord M mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Inggris. Victoria yang merasa belum siap untuk dilepas mencoba untuk membujuknya agar tetap bertahan. Tidak tahu siapa yang musti diangkat menjadi Perdana Menteri yang selanjutnya, Victoria akhirnya memutuskan untuk memilih Duke of Wellington. Namun, Duke of Wellington menolak dengan alas an usianya sudah terlalu tua untuk bekerja kembali. Namun dia menyarankan agar Victoria mengangkat Sir Robert Peel menjadi perdana menteri. Menurutnya, Robert Peel yang masih muda dan berpandangan modern sangat cocok dengan Victoria yang juga masih sangat muda.

Pertemuan Victoria dengan Robert Peel tidak berjalan mulus. Peel yang jujur dan blak-blakan langsung menyatakan syarat-syarat yang membuat Victoria kesal. Ini kemudian memicu krisis internal saat rakyat mulai resah dengan absennya posisi perdana menteri Inggris. Kondisi ini mulai dimanfaatkan oleh Sir John dan Prince Ernest August, paman Victoria yang saat itu merupakan pewaris tahta jika Victoria meninggal dunia. Prince Ernest mulai menghembuskan isu bahwa Ratu Inggris tidak stabil secara mental dan tentunya tidak layak untuk memimpin negara.

Continue reading →

Jalan Bandungan

jalan_bandungan

Perkawinan bukan satu-satunya tujuan dalam hidup. Masing-masing kita wajib mencari pengisian yang sesuai dan sepadan guna menyeimbangi kebutuhan jiwa. Oleh karenanya cerita manusia tidak berakhir hanya pada perkawinan. Jangan kaukira orang-orang yang telah kawin tidak mempunyai persoalan lagi dalam hidupnya… Setiap hari banyak orang yang mati, dengan mudah tanpa usaha atau daya upaya. Tapi setiap hari berjuta-juta orang berjuang dengan susah payah untuk hidup.

NH. Dini dalam novelnya, Keberangkatan

Sebelumnya saya menuliskan kalau saya sedang agak bosan dengan kisah-kisah guru dari negara berkembang yang hampir selalu, seakan, hanya menampilkan sisi kemelaratan guru tersebut. Uh, plis, deh! Dunianya guru gak melulu urusan duit, tau.. Saya ingin melihat sisi yang lain dari kisah hidup mereka!

Saya sering sekali membandingkan Nh. Dini dengan Nawal el Saadawi. Sama-sama pengarang perempuan yang seringnya menulis pendapat yang sangat menyengat kaum laki-laki. Cara mereka berdua menuturkan kisah pun saya pandang sama. Lebih banyak penggambaran dekripsi baik fisik terlebih pendapat dan pemikiran sang tokoh utama yang hampir selalu dituliskan sebagai orang pertama. Pergulatan sang tokoh sangat seru kepada dirinya sendiri pun tidak terburu-buru dengan akhir kisah yang nampaknya sangat menyakiti para pembaca tipe yang nungguin ending, hehe… Seringnya ngegantung, bok!

Continue reading →

Gajah Mada: Makar Dharmaputera

Kisah di Buku

Kisah di buku sangat pas dimulai dengan judul besar serialnya yaitu mengenai Gajah Mada. Dalam catatan sejarah memang Gajah Mada seakan-akan mendadak muncul pada saat pemberontakan Kuti meletus. Saat itu, kebetulan, Gajah Mada adalah pimpinan regu Bhayangkara yang sedang bertugas. Sehingga beliaulah yang jungkir balik mempertahankan istana dan menyelamatkan Prabu Jayanegara.

Dalam kisah di buku ini, Gajah Mada sudah mendapat informasi dari seseorang yang minta disebut ‘Bagaskara Manjer Kawuryan’. Sang informan ini bukan hanya memberi bisikan bahwa akan terjadi makar, tapi juga memberi tahu bahwa ada mata-mata para pemberontak di dalam tubuh satuan Bhayangkara. Selain itu, Mahapatih Arya Tadah (ini masih yang di buku, ya… Soalnya ini salah. Mahapatih saat itu harusnya Halayudha) juga sudah mendapatkan informasi mengenai kemungkinan makar.

Gajah Mada segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Bersama para anak buahnya yang sekaligus teman-temannya, beliau mulai melakukan penyelidikan singkat mengenai siapa yang akan melakukan makar dan pasukan apa saja yang terlibat. Sementara itu, saat itu juga, Gajah Mada pun harus memikirkan persiapan pengungsian terhadap keluarga raja dan ditambah harus meyakinkan Prabu Jayanegara pula untuk bersiap-siap menghadapi pasukan segelar sepapan yang akan segera membanjiri istana.

***

Nemu di internet. Gajah Mada masih kurus

Nemu di internet. Gajah Mada masih kurus

Di paragraph kedua tulisan ini saya sudah memberitahu satu kesalahan dalam buku ini, yaitu nama Mahapatih Majapahit saat pemberontakan Kuti meletus. Bukan Arya Tadah seperti yang Pak Langit tulis, melainkah Halayudha si tukang adu domba bin fitnah. Dan di buku ini cukup banyak juga ternyata kesalahannya. Continue reading →

Januari 2018

Saya cukup terheran-heran juga melihat bahwa ternyata sepanjang bulan Januari, saya hanya menamatkan tiga buku saja. Lebih buruk lagi, salah satu dari tiga buku itu adalah buku yang pernah saya baca bertahun-tahun yang lalu. Jadi hitungannya kan Cuma baca ulang saja.

Bukan apa-apa, bulan Januari kan cukup panjang. Bukan jumlah hari, tapi itu masih hitungannya liburan. Hanya setengah dari bulan Februari yang sudah masuk sekolah tapi saya bisa manamatkan sampai enam buku.

Ini adalah 3 buku yang saya tamatkan baca di bulan Januari 2018:

  1. The Rise of Majapahit karya Setyo Wardoyo. Saya sudah menulis sedikit tentang buku tersebut disini.

Saya mulai membaca buku ini dari tanggal 9-15 Januari 2018. Cukup cepat. Walaupun saya agak heran, lah kalo gitu dari tanggal 1 sampai tanggal 8 saya baca apa, ya? Hahaha…

Sampai saat postingan ini saya buat, buku inilah yang paling megangin dan bikin saya gemes karena pengen cepet-cepet selesai tapi juga gak pengen cepet-cepet habis. Biasalah, dilema kalau lagi baca buku yang bagus.

Buku ini juga sempet bikin saya hangover buku karena berhasil banget bawa saya ke era Majapahit awal dan saya jelas-jelas ogah pulang lagi ke tahun 2018, hehehe… Sampe sekarang! Iya, bener! Karena sampai tulisan ini dibuat, saya masih juga baca-baca buku dengan seting era Majapahit.

Well, ini jelas buku yang pas banget untuk mengawali tahun

2. Majapahit: Sandyakala Rajawangsa karya Langit Kresna Hariadi. Sudah saya tulis disini.

Buku ini saya mulai baca tanggal 17 Januari dan tamat pada tanggal 20 Januari. Lebih cepat dari yang pertama tapi ya…karena isinya juga tidak sepadat buku pertama yang saya baca.

Pada saat mulai membaca, dan mulai membuat tulisan mengenai buku, saya masih agak blank mengenai kisah tentang jatuhnya Singasari dan berdirinya Majapahit. Yaaa, inget-inget dikit dari pelajaran sekolah saja. Tapi saat menulis tulisan ini, saya sudah menamatkan beberapa buku yang lebih serius yang ditulis oleh ahli sejarah dan semakin bisa menilai kalau buku Sandyakala Rajawangsa ini kata-kata fiksi lebih ditebalkan daripada sejarah, sementara di buku The Rise of Majapahit nampaknya kata-kata sejarah yang lebih digaris bawahi. Karena kalau mau lebih pas dengan pendapat para ahli sejarah, ya.. karya Setyo Wardoyo lebih mendekati.

Eniwey, ini bukan buku karya Langit Kresna Hariadi yang pertama yang saya baca, namun ini novel karya beliau yang pertama yang berhasil saya tamatkan.

3. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Baca tulisan saya jaman dulu disini.

Yup, inilah pemecah rekor buku terlama yang saya baca kalau berdasarkan catatan di goodreads. Dan saya juga gak ngeh saat mulai membaca ulang pada bulan Januari, ternyata sudah langsung melanjutkan catatan yang dulu pernah saya masukan. Buku ini memang sudah pernah saya tamatkan pada tahun 2010 lalu membacanya ulang pada tahun 2013. Saya jelas-jelas lupa memerbaharui status membaca saya saat itu. Pada bulan Januari, saya ingin mencari salah satu quote di buku ini. Tapi pada saat membuka buku, saya malah baca ulang dari awal sampai habis.

Sebenarnya buku ini terbit kembali dengan judul Magic Library. Jadi kalau tertarik membaca buku ini dan mencari-cari di toko buku, itu judulnya sekarang. Namun karena saya belinya sudah lama dan dulu judulnya itu, yasudah saya tetap tuliskan dengan judul tersebut.

Continue reading →

Bala Sanggrama, Gayatri Rajapatni

Majapahit Bala Sanggarama

Akhir kisah buku pertama serial Majapahit karya Langit Kresna Hariadi itu ngeselin! Hehe, lagian sampe ujung bukunya, belum ada kejadian apa-apa. Yaaa, maksud kejadian ini tentunya invasi Jayakatwang, gitu… Masih aja persiapan. Rada-rada gemes memang kesannya buku pertama yang sepanjang 612 halaman itu isinya kebanyakan tarik dan ulur.

Buku kedua saya pikir akan langsung tancap gas tapi ternyata tidak juga. Baru pada bab 28 kisah mulai panas saat kerusuhan di Mameling mulai terjadi.

Saat itu, istana nyaris kosong dari prajurit. Sebagian besar sudah dikirim dalam Ekspedisi Pamalayu (eskpedisi untuk menyatukan kerajaan-kerajaan Sumatera/Melayu untuk tunduk atau menjadi sekutu Singasari). Raden Wijaya yang sudah diangkat menjadi putera mahkota Singasari dan sudah dinikahkan dengan empat anak Kertanegara segera berangkat menuju Mameling untuk memadamkan pemberontakan. Tapi tidak disangka, kerusuhan di Mameling hanyalah pancingan saja. Karena pasukan segelar sepapan yang sebenarnya menerobos masuk ke dalam istana melalui jalur selatan.

Istana porak poranda. Kertanegara melawan dengan gagah berani dan begitupun para pejabat istana yang tersisa. Saat Raden Wijaya dan pasukannya tiba kembali ke istana, segalanya sudah terlambat. Kertanegara tewas beserta istri dan anak bungsunya yang sedang hamil tua. Empat anak Kertanegara yang lain, seluruh istri Raden Wijaya, pada akhirnya terpencar. Raden Wijaya pun memulai perjuangannya dalam usaha menyelamatkan istri-istri dan ibunya.

***

Tentang Novel

Kalau saya melihatnya hanya sebagai novel fiksi sejarah, yang menurut saya kata-kata fiksinya ini harus ditekankan, maka saya akan mengatakan bahwa saya amat sangat menikmati cerita. Walaupun cerita melebar kemana-mana, ya.. Tapi cukup menyenangkan juga. Kisah bagaimana keluarga raja, atau kemelut yang dihadapi oleh Kertanegara sebagai kepala negara dan kepala keluarga. Kemelut hati yang dihadapi Gayatri lain lagi. Kemudian ada persoalan rumah tangga Ardaraja.

Menyenangkan walaupun ujungnya, yailah ini mah jadinya kemana-mana, ya…

Penokohannya juga cukup beragam dengan sifat-sifat, permasalahan khas pada zaman tersebut. Ada banyak orang dengan kemampuan yang aneh-aneh. Dan buat penggemar sejarah kayak saya, lucu juga saat membaca kisah tau-tau ada nama-nama yang familiar. Kayak anak muda yang jadi penerjemah bangsa Mongol namanya Halayudha.

HALAYUDHA!!

Lah, itu kan si Mahapati alias Ramapati si tukang adu domba yang nantinya bikin banyak pemberontakan di Majapahit.

Perempuan yang dibantu melahirkan oleh Gayatri sebelum meninggal pesen-pesen kalo anaknya dinamain Gagak Bongol! Hooooo!!!! Gagak Bongol temennya Gajah Mada?

Wirota Wirogani sebelum pergi pesen sama istrinya kalau dia hamil dan anaknya laki-laki nanti minta namain Gajah Enggon!

Gajah Enggon!

Gajah Enggon mahapatih Majapahit yang menggantikan Gajah Mada yang meningga dunia??

Well, cukup menyenangkan buat saya, hehe…

Hal yang kurang menurut saya justru pada adegan-adegan pertarungan. Kurang dielaborasi. Atau justru berlebihan dengan segala jurus-jurus magic ala sinetron naga-naga Indosiar.

Dari Segi Sejarah

Sebelumnya, saya sama sekali gak bermaksud apa-apa. Saya menikmati bukunya, cuma gatel aja rasanya pengen komentar yang menyerempet sejarah yang tercatat dan disepakati bersama.

Gak, gak ngomongin masalah magic atau dunia lain yang kental banget di kisah. Ada dua hal yang untuk saya pribadi sangat mengganjal. Pertama, Wiswarupa Kumara, putera Kertanegara. Dan yang kedua adalah mengenai pernikahan Raden Wijaya dengan empat puteri Kertanegara.

Continue reading →

Dinasti Rajasa Menurut Prasasti Mula-Malurung

Dalam kisah berdirinya kerajaan Singasari, para ahli sejarah baik dari dalam maupun luar negeri menyandarkan kepada dua kitab yaitu Nagara Kretagama karya Prapanca yang merupakan nama pena dari Dang Acarya Nadendra serta Pararaton yang penulisnya tidak diketahui.

Kedua kitab ini walaupun menceritakan hal yang sama, namun detilnya berbeda.

Ini adalah daftar nama raja Singasari menurut Pararaton:

  1. Ken Arok atau Rajasa Sang Amurwabhumi (1222-1247)
  2. Anusapati (1247-1249)
  3. Tohjaya (1249-1250)
  4. Ranggawuni (Whisnuwardana) dengan Mahisa Cempaka (Narasingamurti/Ratu Angbaya) sebagai Wakil Raja (1250-1272)
  5. Kertanegara (1272-1292)

Ini adalah daftar nama raja Singasari menurut Nagara Kertagama:

  1. Rangga Rajasa Sang Girinathaputra (1222-1247)
  2. Anusapati (1247-1248)
  3. Wisnuwardhana (1248-1254)
  4. Kertanegara (1254-1292)

Sebenernya kalau melihat daftar nama diatas tidak terdapat perbedaan yang berarti. Hanya kisah pengalihan kekuasaan yang berbeda. Dalam Pararaton terdapat kisah saling bunuh antara keluarga Rajasa sementara dalam Nagara Kertagama, kisah peralihan kekuasaan ini sama sekali tidak dibahas.

Okeh, untuk mengingatkan aja. Ini kisah singkat pertumpahan darah dalam keluarga Rajasa menurut Pararaton:

Ken Arok memesan keris kepada Empu Gandring dan meminta segera diselesaikan. Empu Gandring tidak mau menyerahkan keris. Akhirnya Empu Gandring pun dibunuh Arok. Sebelum mati, Empu Gandring bersumpah kalau Ken Arok dan keturunannya akan mati oleh keris tersebut.

Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, tapi dia timpakan kesalahannya kepada Kebo Hijo. Kebo Hijo pun mati menjadi korban yang ketiga. Korban keempat adalah Ken Arok sendiri yang dibunuh oleh Anusapati, anak Tunggul Ametung.

Anusapati tidak membunuh Ken Arok dengan tangannya sendiri. Dia menyuruh Batil Patilasan. Setelah selesai, Anusapati menyalahkan Batil Patilasan dan membunuhnya.

Panji Tohjaya, putera Ken Arok dari Ken Umang tahu cerita yang sebenarnya. Ditipulah kakaknya, Anusapati, diajak main sabung ayam. Sebelumnya, dia pinjam dulu Keris Empu Gandring. Saat Anusapati lengah, dia tikam Anusapati sampai mati.

Panji Tohjaya menjadi raja namun selalu diliputi kegelisahan. Dia takut Ranggawuni, putera Anusapati akan balas dendam. Dia minta agar Ranggawuni dan Mahisa Cempaka putera Mahisa Wong Ateleng dibunuh. Namun rakyat Singasari memihak Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Panji Tohjaya kalah dan mati. Ranggawuni dan Mahisa Cempaka memerintah Singasari dan dijuluki sebagai dua ular dalam satu sarang.

Pada tahun 1975 ditemukan lempengan-lempengan tembaga yang ternyata berisi tentang catatan sejarah mengenai silsilah para penguasa Singasari yang cukup berbeda dari dua kitab yang telah ditemukan dan diteliti sebelumnya. Lempengan-lempengan tembaga ini ditemukan di dekat kota Kediri dan dinamakan Prasasti Mula-Malurung.

Nah, prasasti yang ditemukan pada tahun 1975 ini sudah diterjemahkan dan dianalisis oleh Prof. Slamet Muljana. Hasil analisisnya ditulis sebagai bahan pembanding pada buku Tafsir Sejarah Nagara Kretagama. Bukunya lumayan nikmat! Yaa, soalnya maksa kita mikir.

Saya rekomendasikan baca, deh!

Continue reading →