Sacred Games

Saya bikin postingan ini bukan fokus ke kisah aja, tapi saya lebih tertarik dengan judul setiap episodenya yang menurut saya unik, dan buat saya sangat menarik.

Kisah di Serial

Oke, ini adalah serial Netflix India pertama. Diangkat dari sebuah buku yang berjudul sama yang ditulis oleh Vikram Chandra. Saya belum baca bukunya, sih, jadi gak bisa juga membandingkan nantinya.

Season 1 ini dibuka dengan monolognya Ganesh Gaitonde mengenai Tuhan, lalu adegan beralih hewan yang dijatuhkan dari ketinggian, dan dibunuhnya seorang perempuan. Cerita kemudian beralih kepada Sartaj Singh, seorang polisi yang hidup dibawah bayangan atasannya yang korup. Sartaj memiliki hati nurani untuk bicara hal yang benar, namun tidak memiliki cukup keberanian.

Pada suatu hari, Sartaj mendapatkan telpon dari Ganesh Gaitonde, seorang gangster terkenal dan penjahat kelas kakap yang sudah menghilang selama 16 tahun. Gaitonde memberitahu Sartaj bahwa akan ada bom yang akan membunuh semua orang di kota Mumbay kecuali satu orang. Sartaj kemudian mengajak bicara Gaitonde sambil memohon agar kantor melakukan pelacakan. Nah, pada saat dia memohon pelacakan, ini kemudian menarik perhatian Anjali Mathur, seorang ahli intelijen komunikasi.

Pada saat Sartaj berhasil menemukan tempat persembunyian Gaitonde, ternyata hal yang tidak disangkanya terjadi: Gaitonde menembak kepalanya sendiri dan tewas. Maka Sartaj bersama Anjali harus berusaha memecahkan teka-teki yang ditinggalkan Gaitonde mengenai bom yang meledak 25 hari lagi.

Dalam pembicaraan Sartaj dengan Gaitonde kita diberitahu mengenai jalan hidupnya yang berwarna. Dari awalnya seorang anak Brahmana sampai kemudian bisa menjadi bos gangster. Gaitonde juga mengisahkan hal-hal yang sangat berwarna sekali yang berhubungan dengan dunia criminal. Dan rahasia masa lalunya menyeret masyarakat dari berbagai profesi: pejabat, agen intel, perwira polisi, anggota dewan, petinggi agama, sampai selebriti papan atas.

Selain berbagai profesi, tokoh-tokoh di kisah ini juga dari berbagai lapis masyarakat. Kita bukan Cuma akan disuguhi cerita tentang gangster dan perangnya memperebutkan kekuasaan, ada transgender, problem dari pemeluk agama Hindu, Islam, Sikh juga dari berbagai suku bangsa di India seperti Benggali, Farsi, dan yang lainnya.

Hal yang membuat saya langsung jatuh cinta dengan kisah ini bukan hanya masalah keragaman yang berwarna, ramai terkadang sesak, chaos, jujur, dan dalam banyak hal, menurut saya indah. Uniknya judul di setiap episode diambil dari mitologi India.

Dibawah ini saya tidak menuliskan kisah Sacred Games, ya.. Yang saya tuliskan adalah arti dari judul setiap episode.

Continue reading →

Gadis Kretek Karya Ratih Kumala

“Teh atau kopi memang teman sejalan yang setia dipadukan dengan kretek. Tetapi untuk menentukan jodoh yang tepat, apakah teh atau kopi yang harus disruput, maka harus melihat matahari. Jika matahari di Timur, maka kopi lebih tepat dipadukan dengan kretek. Tetapi jika matahari di Barat, tehlah yang berjodoh dengan kretek.” (Hlm. 128)

Djagad Soeraja yang terkenal itu sedang sekarat. Saat di bawah sadar dia mengigaukan sebuah nama yang tidak pernah sekalipun diucapkannya di rumahnya: Jeng Yah. Itu bukan nama istrinya. Istri Pak Soeradja yaitu Purwanti moarah dan tak mengizinkan siapapun membicarakan nama itu di rumah. Sementara itu, tiga putera Pak Soeradja yaitu Tegar, Karim dan Lebas justru mencoba mencari tahu mengenai siapa yang berada dibalik sosok ‘Jeng Yah’ tersebut, dan mengapa ayah mereka, pada saat sekaratnya, justru menyebut namanya. Dan untuk itu, Lebas dan Karim harus melakukan perjalanan menyibak sejarah pendirian dan kejayaan perusahaan rokok kretek milik ayahnya ini.

Kisah kemudian bergulir kepada seorang tokoh baru yaitu Idroes Moeria dan Soedjagad. Keduanya berteman pada awalnya, sama-sama buruh pabrik kretek kobot. Namun, saat penjajahan Jepang dimulai, pabrik ini terpaksa bangkrut. Idroes Moeria dan Sudjagat sama-sama mendirikan pabrik rokok sendiri, sama-sama memulainya dari awal. Keduanya pun bersaing dalam semua hal dari bisnis maupun cinta. Dan menurut saya, disinilah cerita sedang seru-serunya. Gak bisa diletakkan lah buku ini.

Peristiwa demi peristiwa pun terjadi. Jatuh dan bangun. Dari zaman penjajahan Jepang, masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, sampai masa-masa Negara ini terjadi kekacauan pasca jatuhnya orde lama dan PKI. Perusahaan rokok yang dibangun oleh Idroes Moeria dan Soedjagat pun mengalami masa-masa pasang dan surut sampai salah satu perusahaan akan kalah sementara yang lainnya akan menjadi perusahaan yang besar.

Tapi bagaimana ‘Jeng yah’? Yaa, tentunya akan terkuak mengenai Pak Radja dan Jeng Yah serta kisah (cinta mereka) berdua.

Continue reading →

The Stranger

Kisah dibuka dengan potongan-potongan adegan sebuah kota kecil di Inggris pada malam hari. Segerombol remaja sedang menari mengelilingi api unggun, seorang remaja berlarian di dalam hutan sambil bertelanjang bulat, dan seekor alpaca putih. Gak jelas? Iya, memang belum jelas ini arahnya kemana.

Selanjutnya kisah beralih ke Adam Price, seorang pengacara yang memiliki hidup yang sempurna: seorang istri dan dua putera yang beranjak remaja. Adam terlihat bahagia mengantarkan puteranya bertanding bola pada minggu pagi. Sementara itu istrinya, Corrine, yang seorang guru sedang menghadiri konfrensi guru di tempat lain. Pada saat inilah seorang wanita muda mendekati Adam.

Wanita ini mengatakan kepada Adam bahwa istrinya sudah menipunya. Dua tahun yang lalu, Corrine hamil anak ketiga dan keguguran. Sebenarnya, Corrine itu tidak hamil. Si perempuan asing (Stranger) ini pun mengatakan bahwa Adam sebaiknya mencari tahu apakah anak-anaknya yang lain itu benar anak-anaknya.

Ini kemudian menjungkirkan perasaan Adam. Setelah melakukan penyelidikan singkat dan menemukan bahwa beberapa hal yang dikatakan Stranger ini memang terbukti benar, Adam langsung mengkonfrontasi Corrine dan mempertanyakan semua yang dikatakan Stranger itu kepadanya. Anehnya, Corrine tidak mengelak, bahkan seakan tidak peduli. Dia justru lebih tertarik untuk bertanya darimana Adam mendapat informasi itu.

Dan itulah saat terakhir Adam bertemu dengan Corrine. Karena setelahnya, Corrine menghilang.

Sementara itu, DS (Detective Sargent)  Johanna Griffin yang sedang curhat keepada sahabatnya Heidi bahwa pernikahannya sudah berakhir (pernikahan Johanna maksudnya) terinterupsi dengan datangnya pesan mengenai sebuah kasus yang ganjil. Seekor alpaca ditemukan tewas di tengah jalan dengan leher yang digorok lepas. Kepalanya hilang. Penyelidikan membawa DS Griffin dan partnernya, DC (Detective Constable) Wesley Ross menuju ke sebuah hutan dimana mereka menemukan seorang remaja tergeletak, telanjang bulat, koma, namun masih hidup.

Sementara itu, Stranger masih beraksi. Korbannya kali ini adalah Heidi, sahabat DS Johanna Griffin yang kemudian ditemukan mati di restorannya. Continue reading →

Sirkus Pohon Karya Andrea Hirata

Baiklah kawan, kuceritakan padamu soal pertempuranku melawan pohon delima di pekarangan rumahku dan bagaimana akhirnya pohon itu membuatku kena sel, lalu wajib lapor setiap senin di Polsek Belantik

Kisah di Buku

Tokoh utama kita kali ini adalah Hob, atau nama lengkapnya Sobrinudin bin Sobirinudin. Pekerjaannya, badut sirkus. Well, walaupun saat awal kita diperkenalkan tokoh kita yang kepribadiannya khas banget kayak tokoh-tokoh laki-laki dewasa lain di buku-bukunya Andrea Hirata, pekerjaan Hob adalah buruh serabutan.

Nah, gimana ceritanya ‘Sob’ menjadi ‘Hob’? Tentu ada kisahnya yang berkaitan dengan seorang supir ambulan.

Hob ini memiliki ayah yang juga seperti ayah-ayah yang lain di buku-bukunya Andrea Hirata (serius, kesamaan watak tokoh-tokoh di buku Andrea hirata ini yang bikin saya bosan setengah mati). Ibunya hob sudah meninggal. Hob sendiri memiliki 4 kakak: yang pertama laki-laki bekerja di kantor eksplorasi PN Timah, yang kedua laki-laki bekerja sebagai juru ukur PN Timah, yang ketiga juga laki-laki adalah seorang PNS, dan yang keempat adalah seorang perempuan yang suka menindas suaminya.

Hob memiliki seorang sahabat bernama Taripol, alias Taripol Gelap, alias Taripol Krismon, alias Taripol Mendoza, alias Taripol Mafia. Yup, Taripol ini adalah seorang residivis kelas teri. Tukang tipu, maling speaker mushalla yang selalu ketahuan pula. Gara-gara Taripol, Hob jadi tidak beres sekolah dan hanya berijasahkan SD saja.

Kisah si Hob ini dimulai saat pertemuannya dengan seorang perempuan yang membuatnya lebih serius dalam mencari pekerjaan. Apa aja deh pokoknya punya gaji, punya jam kerja, punya seragam, dan punya mandor yang galak. Hob akhirnya mendapatkan pekerjaan impiannya ini: menjadi seorang badut di tempat sirkus. Tapi tentunya, ini baru awal kisahnya.

Tokoh selanjutnya adalah Tegar, anak seorang pemilik bengkel sepeda yang mata keranjang bin hidung belang. Karena ayahnya punya prilaku seperti itu, maka tidak heran kalau pernikahan orangtua Tegar pun berantakkan. Ayahnya pergi meninggalkan ibunya. Dan di gedung pengadilan agama Tegar bertemu Tara, bidadarinya.

Tara adalah puteri seorang pemilik sirkus keliling. Suatu kali, ayahnya yang seorang pecandu judi meninggalkan Tara dan ibunya serta hutang yang bertumpuk. Maka bisa dibayangkan betapa sulit kehidupan ibu dan puterinya ini. Dan di halaman gedung pengadilan agama, Tara bertemu seorang laki-laki yang akan mewarnai hari-harinya dan kertas gambarnya. Sayangnya, tanpa sempat bertanya siapa nama anak lelaki ini, mereka sudah berpisah.

Ada tiga keramat di kampong kami. Pertama, batu bertuah di tepi pantai yang secara fisika harusnya telah terpelanting ke laut, harusnya dia berdiri miring saja di pinggir jurang, melawan hokum gaya tarik bumi. Kedua, kuburan kecil di hutan, konon itulah kuburan kucing kesayangan Raja Berekor, raja purba kaum kami. Ketiga, sebatang pohon jawi di belakang gudang beras PN Timah. Pohon tua yang seram itu menjadi keramat lantaran dijadikan tempat bagi dukun-dukun untuk membuang hantu.

Continue reading →

Tionghoa di Batavia dan Huru Hara 1740 karya Johannes Theodorus Vermeulen

Seluruh jalanan dan gang-gang dipenuhi mayat, kanal penuh dengan mayat. Bahkan kaki kita tak akan basah ketika menyeberangi kanal jika melewati tumpukan mayat-mayat itu,” demikian kesaksian G. Bernhard Schwarzen dalam buku Reise in Ost-Indien yang terbit tahun 1751.

Saya membaca buku ini awalnya karena saya membaca buku yang lain, yaitu buku yang berjudul Hukum Pancung di Batavia karya Alwi Shahab. Sebenarnya buku tersebut merupakan kumpulan artikel dari wartawan senior Alwi Shahab yang banyak menulis artikel-artikel tentang sejarah kota Jakarta. Nah, salah satu artikel yang terdapat pada buku tersebut yang berjudul ‘Glodok, Kamsia… Kamsia…’ yang menyenggol tentang tragedy pembantaian warga Tionghoa di Batavia pada tahun 1740.

Saya jadi teringat kalau saya belum pernah membaca buku/laporan yang serius dan detil mengenai peristiwa tersebut. Saya hanya membaca sekilas-sekilas artikel di sana sini saja.

Maka saya mulai mencari buku yang serius mengenai tragedi pada bulan Oktober 1740 ini, dan mendapatkan Tionghoa di Batavia dan Huru Hara 1740. Agak kecewa karena buku ini ditulis oleh orang Belanda, bukan sejarawan dari Tionghoa, yang tentunya lebih saya harapkan. Tapi, ya..gak papa, lah.

Seperti biasa untuk buku nonfiksi, maka saya akan memulainya dengan sang penulis, yaitu Johannes Theodorus Vermeulen.

Beliau lahir di Den Helder, Belanda, pada awal abad 20. Pada tahun 1935, ia mengikuti ujian di Belanda untuk menjadi ambtenaar (pegawai negeri) dan lulus. Setelah itu ia bertolak ke Hindia Belanda dan ditempatkan sebagai a(d)spirant controleur, lalu kemudian pada tahun 1938 ia diangkat sebagai Adjunct Landsarchivarist (deputi arsiparis) di Arsip Negara di Batavia. Selama bertugas di Batavia ini, Pak Johannes menjalin hubungan baik dengan para intelektual Tionghoa.

Nah, Pak Johannes Vermeulen ini menempuh pendidikan doktoralnya di Fakultas Sastra dan Filsafat di Universitas Leiden dan menulis desertasi yang berjudul De Chineezen te Batavia en de Troebelen van 1740. Desertasi inilah yang kemudian diterbitkan sebagai buku, dan diterjemahkan di beberapa bahasa, salah satunya Bahasa Indonesia.  Buku ini kemudian menjadi buku acuan untuk study mengenai huru hara tahun 1740 tersebut.

Setelah jatuhnya kekuasaan Belanda di Indonesia dan invasi Jepang, tidak ada lagi informasi mengenai Pak Johannes Vermeulen. Ada kemungkinan beliau diinternir Jepang pada saat pendudukan.

Makam Souw Beng Kong (Kapitan Tionghoa pertama) di jalan Pangeran Jayakarta

Buku ini terdiri dari 5 bab dengan dua pendahuluan sebelumnya yaitu penjelasan mengenai siapa itu Johannes Theodorus Vermeulen dan Catatan Mengenai Pelaksanaan Sistem Pengadilan oleh Kompeni. Mengenai system pengadilan, menurut buku ini, memang hukum yang dipakai berbeda-beda sesuai dengan asal dari subjek hukum itu. Seorang Belanda akan memakai hukum Belanda sementara untuk pribumi memakai aturan yang berbeda sesuai dengan sukunya masing-masing. Namun, khusus untuk Tionghoa, justru hukum Tionghoanya tidak dipakai. Bahkan terdapat ketidakjelasan. Contohnya, jika seorang Tionghoa berurusan dengan hukum perdata, maka yang dipakai adalah hukum Belanda, tapi jika bermasalah dengan hukum pidana (mencuri, merampok, dan sebagainya) maka dikenakan hukum untuk pribumi.

Yaa, walaupun masih ada penjelasannya karena warga Tionghoa kan bukan warga kelas satu , tapiii bisnisnya berhubungan dengan orang-orang Belanda.

Agar semakin mudah mengatur orang-orang Tionghoa, pemerintah Belanda juga mengangkat seorang kepala warga yang disebut Kapitan Tionghoa. Nama Kapitan Tionghoa yang pertama adalah Souw Beng Kong. Tugas Kapitan ini selain sebagai mediator bagi masyarakat Tionghoa, juga bertugas untuk menyelenggarakan peradilan untuk perkara kecil dan menyelesaikan perselisihan yang terjadi diantara mereka.

Bab I Orang Tionghoa di Batavia Sebelum 1740

Bab ini menceritakan tentang bagaimana orang-orang Tionghoa bisa berkembang di Batavia, juga mengenai jatuh bangunnya posisi mereka. Sebenarnya yang membawa orang-orang Tionghoa ini tidak lain ya JP Coen, sang pendiri kota Batavia.

Agar Batavia kemudian menjadi pusat perdagangan, JP Coen kemudian melakukan politik blokade. Dia melarang kapal-kapal dagang (jung) dari China untuk mendarat di Banten dan mengalihkannya ke Batavia. JP Coen juga memblokade Manila, Makau, dan Malaka. Jung-jung China yang berlayar ke Djambi, Japara, dan lainnya segera ditangkap dan dialihkan ke Batavia.

Jadi JP Coen ini sebelum mendirikan Batavia kan lama di Bantam (Banten), nah pada tahun 1610-an ini di Bantam memang banyak orang Tionghoa yang tinggal dan berdagang mempertukarkan lada dengan sutra dan porselen. VOC bersaing dengan para pedagang Tionghoa ini. Karena itu, saat memindahkan pusat kekuasaan Hindia ke Batavia, JP Coen menginginkan agar orang Tionghoa menjadi mayoritas di Batavia. Tentunya demi perdagangan karena orang-orang Tionghoa ini menjadi agen.

Segala cara dilakukan J.P. Coen agar Tionghoa menjadi mayoritas. Pertama, dengan memindahkan orang-orang Tionghoa yang tinggal di Bantam, Cheribon, dan kota-kota lain di Jawa. Cara lain adalah dengan penculikan.

Sebuah instruksi tertanggal 9 April 1622 diberikan kepada Commandeur Cornelis Reyersz untuk pergi ke Tiongkok selain berdagang, juga untuk mencari imigran. Jika perdagangan tidak dapat dilakukan, dia diperintahkan mengganggu orang tionghoa di sepanjang pesisir china dan berusaha menculik orang sebanyak mungkin, baik itu laki-laki, perempuan maupun anak-anak. Continue reading →

Sharp Object (Segala yang Tajam) karya Gillian Flynn

Kisah di Buku

Tokoh kita kali ini adalah Camille Peaker, seorang wartawan dari Dialy Post Chicago yang sedang mendapat tugas untuk meliput berita pembunuhan di Wind Gap.

Sebenarnya Camille ini seorang reporter biasa-biasa saja. Dia tidak punya prestasi yang gemilang maupun kinerja yang mengesankan. Alasan kenapa korannya menugaskannya disana hanya karena dia memang berasal dari Wind Gap, dan dia sangat benci kembali ke sana. Alasannya, awalnya samar namun semakin halaman kita akan semakin dijelaskan, baik langsung maupun tidak langsung, tentang kenapa Camilla sangat enggan untuk kembali.

Keluarganya masih tinggal di Wind Gap. Ibunya, Adora, adalah perempuan yang sangat dingin kepadanya. Amma adiknya, sangat aneh. Sakit-sakitan, menarik diri, namun bisa menjadi sangat menyebalkan. Orang ketiga di keluarga kecilnya adalah Alan, ayah tirinya yang sangat kaku kepadanya.

Ada kasus besar untuk ukuran kota kecil seperti Wind Gap, pembunuhan berantai yang menimpa dua anak. Kedua korban tersebut ditemukan kehilangan gigi mereka.

Orang gila macam apa yang bunuh anak-anak lalu mencabuti gigi-gigi mereka?

Camilla menyelidiki kasus ini dengan cara mewawancarai keluarga dan pihak-pihak kepolisian. Dan dengan melakukan itu, dia sendiri akhirnya menyibak kembali masa lalunya, masa kecilnya. Tentang kehilangan adiknya, tentang bagaimana dia melampiaskan depresinya dengan menorehkan kata-kata di kulitnya. Dan bagaimana pada akhirnya Camilla mengidentifikasi dirinya sendiri dengan para korban—dengan sedikit terlalu berlebihan. Saat petunjuk nampaknya selalu membawanya ke jalan buntu, semakin kita yakin bahwa apapun yang terjadi di Wind Gap saat itu sangat dekat dengan apa yang terjadi dengan Camilla.

Continue reading →

Anak Semua Bangsa Karya Pramoedya Ananta Toer

Orang bilang, apa yang ada di depan manusia hanya jarak. Dan batasnya adalah ufuk. Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh. Yang tertinggal jarak itu juga – abadi. Di depan sana ufuk yang itu juga – abadi. Tak ada romantika cukup kuat untuk dapat menaklukkan dan menggenggamnya dalam tangan – jarak dan ufuk abadi itu

Buku kedua yang saya selesaikan pada tahun 2019 adalah Anak Semua Bangsa, sekuel langsung dari Bumi Manusia.

Jadi, untuk yang sudah menonton film Bumi Manusia, dari awal saja saya akan mengatakan spoiler alert! Karena agak mustahil membicarakan buku kedua tanpa membuka tabir apa yang terjadi kemudian kepada Annelies Mallema.

Sebelumnya di buku pertama, sama seperti di film, kita ditinggalkan tergantung. Kematian Herman Mallema memicu perubahan besar. Kita tahu kalau Herman Mallema ternyata masih memiliki istri sah di Belanda, dan memiliki seorang putera.

Okeh, sebelumnya, saya akan menjelaskan sedikit mengenai status anak-anak indo.

Orang-orang Belanda datang ke Hindia tidak membawa keluarga karena memang tidak berencana untuk tinggal selamanya di Hindia. Maka, untuk memenuhi kebutuhannya, lelaki Belanda ini mengambil gundik yang disebut juga nyai itu. Bisa diambil sukarela, atau dijual oleh keluarganya seperti yang dialami oleh Nyai Ontosoroh.

Tentunya hubungan tuan dan nyai ini sama saja kayak hubungan tuan dan budaknya. Ya tapi ada saja tuan yang baik hati yang benar-benar ingin mengawini nyainya secara resmi yaitu di gereja. Tapi itu bukan suatu keharusan.

Sebenarnya, Herman Mallema itu sangat mencintai Nyai Ontosoroh, tapi toh tetap tidak dapat menikahinya secara resmi. Karena Herman masih punya istri yang sah di Belanda.

Nah bagaimana dengan status anak-anak yang lahir dari hubungan ini?

Kalau tuan dan nyai menikah resmi, maka gak ada masalah. Tapi jika tidak menikah, anak-anak hanya dianggap menjadi anak salah satu pihak saja. Jika ayahnya yang Belanda ini tidak mengakui, tidak disahkan melalui surat, maka anak-anak yang lahir ini dianggap anak ibunya. Jadi kalau ayahnya meninggal, ya mereka tidak punya hak apapun.

Sebaliknya, kalau anak ini diakui ayahnya dan disahkan sebagai keturunannya, maka mereka hanya akan diakui sebagai anak ayahnya, tidak lagi diakui sebagai anak ibunya.

Yaaa, karena orangtua mereka kan tidak resmi menikah.

Dan, inilah yang terjadi dengan Annelies dan Robert Mallema. Saat ayah mereka mati, maka perwalian Annelies jatuh ke tangan kakak sulungnya di Belanda, anak Herman Mallema yang sah.

Continue reading →

Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer

Dengan melawan kita takkan sepenuh kalah

Jadi, sebelumnya, walaupun saya membaca cukup banyak buku dalam setahun, tapi gak semua buku itu saya tuliskan disini. Alasannya, macam-macam gak punya waktu atau sesimpel, bukunya gak terlalu menarik buat saya sehingga saya malas menuliskan. Ada juga buku yang saya tidak tulis karena saya merasa gak pantas untuk berkomentar mengenai buku tersebut. Tahun 2020 ini, saya menantang diri saya sendiri untuk menulis semua buku yang saya baca. Dan karena buku di tahun 2020 ini belum ada yang saya selesaikan, maka saya memulainya dari buku yang telah saya tuntaskan di tahun 2019 kemarin.

So, ayo kita mulai.

Buku yang paling pertama saya selesaikan pada tahun kemarin adalah Bumi Manusia.

Beuh, langsung yang berat.

Eits, jangan salah. Saya belum menulis bukan berarti saya gak suka buku ini. Justru kebalikan, saya sukaaaaa banget. Hanya, saya mengukur diri saya sendiri dan merasa tidak layak membicarakan buku yang merupakan masterpiece ini!

Kisah di Buku

Tak ada orang yang tak suka pada pujian. Kalau orang merasa terhina karena dipuji, tandanya orang itu berhati culas

Tokoh utama di kisah ini adalah Mingke, Raden Mas Mingke. Ini tokoh mengambil kisah perjalanan hidupnya RM Tirto Adhi Suryo, bapak pers Indonesia.

Mingke adalah mata dan perasaan yang digunakan oleh Pramoedya Ananta Toer untuk menggambarkan bagaimana kondisi nusantara pada akhir abad 18 dan awal abad 19. Pada saat itu Indonesia sedang berada pada masa politik etis, masa kebangkitan nasional.

Kisah ini berlatar Surabaya dan Wonokromo. Mingke adalah seorang siswa HBS, sekolah menengah atas yang pada saat itu, menjadi siswa HBS itu berarti istimewa sekali. Kayak jaminan masa depan cerah. Para siswa HBS ini juga bukan orang sembarangan. Hanya putera-putera pejabat, Indo, atau eropa totok yang bisa masuk ke sana.

Tapi, walaupun dia siswa HBS, bukan berarti dalam pergaulan Mingke itu disamakan dengan siswa HBS lain. Kasta tetap berlaku, ya.. Dia yang pribumi tentunya berkasta terendah di sekolahnya. Gak jarang juga dia dipermalukan oleh kawan-kawannya.

Pada suatu hari, Mingke diajak seorang kawan yaitu Robert Surhuf untuk menemaninya mengunjungi seorang kawan yang tinggall di Wonokromo, Robert Mallema namanya. Sebenarnya, Robert Surhuf ini suka dengan adik Robert Mallema, yaitu Annelies. Nah, untuk menarik Annelies kepadanya, Robert Surhuf membawa Mingke sebagai pembanding. Maksudnya, sih, biar Annelies tertarik kepadanya. Tapi kenyataannya justru Annelies malah tertarik dengan Mingke.

Mingke juga jatuh cinta kepada Annelies, jadi..ya gak bertepuk sebelah tangan, dong, ya.. Apalagi Nyai Ontosoroh, ibu nya Annelies, juga suka dengan Mingke.

Perempuan ini memang berpikiran cepat dan tajam, langsung dapat mengetahui apa yang hidup di dalam dada. Barangkali di situ letak kekuatannya yang mencekam orang dalam genggamannya, dan mampu pula mensihir orang dari kejauhan. Apalagi dari dekat.

Nah, tokoh Nyai Ontosoroh ini yang membuat saya seakan dipaku pada cerita. Saya jatuh cinta kepadanya. Saya selalu jatuh cinta dengan tokoh-tokoh perempuan setengah baya yang berkarakter kuat dan independen pada suatu cerita.

Nyai Ontosoroh dan puterinya, Annelies

Nyai Ontosoroh dan puterinya, Annelies

Continue reading →

Daftar Buku yang Saya Baca tahun 2019

Tentu saja, ada beberapa buku ini yang saya sebenarnya sudah pernah baca. Hanya membaca ulang saja. Dan tahun ini, saya tidak mau berpanjang-panjang tulisan.

Well, ini buku-buku yang sudah saya selesaikan sepanjang 2019. Ditulis berdasarkan tanggal menyelesaikannya. Untuk kali ini, saya tidak menyertakan kapan saya mulai membacanya.

  1. Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer. Baca ulang. Selesai tanggal 2 Januari 2019
  2. Anak Semua Bangsa Karya Pramoedya Ananta Toer. Baca ulang. Selesai tangga 15 Januari 2019.
  3. Sharp Object Karya Gillian Flyn. Selesai tanggal 10 Februari 2019.
  4. Singgasana Terakhir Pajajaran karya Tatang Sumarsono. Selesai tanggal 23 Februari 2019
  5. Sirkus Pohon karya Andrea Hirata. Selesai tanggal 9 May 2019.
  6. Kartu-Kartu di Meja karya Agatha Christie. Selesai tanggal 10 May 2019
  7. Amangkurat Agung: Prahara Takhta Mataram karya Wahyu HR. Selesai tanggal 2 Juni 2019
  8. Atheis karya Achdiat K Miharja. Selesai tanggal 13 Juni 2019
  9. Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Selesai tanggal 16 Juni 2019
  10. Kronik Betawi karya Ratih Kumala. Selesai tanggal 27 Juni 2019
  11. Nyai Gowok: Novel Kamasutra Jawa karya Budi Sardjono. Selesai tanggal 1 Juli 2019
  12. Anak dan Kemenakan karya Marah Rusli. Selesai tanggal 6 Juli 2019
  13. Jalan Raya Pos, Jalan Deandels karya Pramoedya Ananta Toer. Baca Ulang. Selesai tanggal 30 Juli 2019
  14. Salah Asuhan karya Abdoel Moeis. Selesai tanggal 25 Agustus 2019
  15. Berjuta-juta dari Deli: Satoe Hikayat Kuli Kontrak karya Emil W. Aulia. Baca ulang. Selesai tanggal 31 Agustus 2019
  16. Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati. Selesai tanggal 2 September 2019
  17. Wesel Pos karya Ratih Kumala. Selesai tanggal 9 September 2019
  18. Bersama Mas Pram karya Koesalah Soebagyo Toer, Susilo Toer, Candra Gautama. Selesai Tanggal 15 September 2019
  19. Mahakurawa Cakra Manggilingan karya Anand Neelakantan. Selesai tanggal 16 Oktober 2019
  20. Misteri Dian yang Padam karya S. Mara Gd. Selesai tanggal 19 Oktober 2019
  21. Misteri Sutra yang Sobek karya S. Mara Gd. Selesai tanggal 25 Oktober 2019
  22. Misteri Gadis Tak Bernama karya S. Mara Gd. Selesai tanggal 4 November 2019
  23. Padang Ilalang di Belakang Rumah karya Nh. Dini. Baca ulang. Selesai tanggal 16 November 2019
  24. Tirai Menurun karya Nh Dini. Baca ulang. Selesai tanggal 20 November 2019
  25. Sebuah Lorong di Kotaku karya Nh. Dini. Baca ulang. Selesai tanggal 24 November 2019
  26. Five Little Pigs karya Agatha Christie. Baca ulang. Selesai tanggal 12 Desember 2019

Agatha and the Curse of Ishtar: Kisah Pertemuan Agatha Christie dan Max Mallowan

Jonah Hauer King as ‘Max’ & Lyndsey Marshal as ‘Agatha’ in the ancient tomb

Mungkin sebaiknya anda membaca dulu tulisan Agatha and the Truth of Murder disini

Ah, you’re and archeologist?

Yes… Yes..

You’ve come to Iraq to Steel our treasure?

Petualangan Agatha Christie sebagai detektif dilanjutkan. Setelah pada natal tahun 2018 Agatha mencoba untuk memecahkan pembunuhan Florence Nightingale Shaw, Natal kali ini dia kembali untuk memecahkan sebuah kutukan di Irak.

Sekali lagi, ini masuk ke genre Alternative History. Sumbernya memang kejadian nyata, tapi kisahnya sendiri itu fiksi. Nah, jika sebelumnya sidekicknya Agatha itu Mabel Roger, kekasih Florence, yang menjadi sidekick di kisah kali ini adalah Max Mallowan, arkeolog muda yang nantinya akan menjadi suami Agatha Christie.

Kisah di Film

Strychnine is a very poor choice as a murder weapon. It’s unsubtle and easy to detect

Agatha yang baru saja bercerai ingin menulis kisah romantic.

Eh, masa orang baru bercerai pengen nulis novel romantic, ya? Bukannya lagi bête-betenya? Lagi yang, halah bodo amat yang penting gw bebas!

Yaa, gak tau juga sih perasaan orang baru bercerai itu bagaimana.

Eniwey, Agatha yang ingin menulis kisah romantic bingung bagaimana untuk memulainya. Lalu seorang teman, Mrs. Wooley menyarankan agar Agatha berkunjung ke Irak, tempat suaminya yang seorang arkeolog sedang melakukan penggalian situs sejarah.

Agatha pun melakukan hal itu. Dia pergi ke Irak sendirian dengan perjalanan darat. Dan sesampainya di lokasi, dia langsung berhadapan dengan kasus pembunuhan.

Di tempat penggalian, dia tidak menemukan pasangan suami istri Wooley kawannya itu. Alih-alih, dia malah menemukan seorang pemuda yang terluka tembak. Agatha yang bingung mau bagaimana akhirnya menolong pemuda itu, membawanya ke klinik terdekat.

Si pemuda yang ditolong oleh Agatha bernama Max Mallowan, asisten Wooley.

Max yang tidak kenal dengan Agatha, maksudnya bahkan gak tahu nama Agatha Christie yang saat itu sudah menjadi penulis terkenal, menyatakan bahwa dia sedang sibuk menyelidiki pembunuhan kawannya. Seorang arkeolog juga yang ditemukan tewas di dalam situs penggalian. Dan tentunya, pembunuhan-pembunuhan ini belum selesai. Masih berlanjut.

Maka, dimulailah petualangan Agatha dan Max dalam mengungkapkan misteri pembunuhan ini.

***

Ini kebanyakan fiksinya, ya, daripada kisah nyatanya. Jadi buat yang nonton, ya jangan percaya bahwa kisah ini benar-benar terjadi. Kenyataannya, tidak ada kisah pembunuhan mewarnai pertemuan pertama Agatha dengan Max, dan penggambaran karakternya juga di film ini terlalu kekinian.

Karena saya sudah membaca Autobiografi Agatha Christie, jadi saya sudah tahu bagaimana kisah sebenarnya pertemuan mereka.

Kisah pertemuan Agatha dan Max di Autobiografi Agatha Christie

Agatha dan Max

Jadi, Agatha yang saat itu sudah bercerai ingin liburan ke tempat-tempat yang menarik baginya, namun selama ini dia gak bisa pergi karena mantan suaminya, Archibald, tidak tertarik dengan tempat-tempat sejarah. Agatha kenal dengan Leonard dan Katherine Wooley, pasangan arkeolog yang sedang melakukan penggalian di Irak. Maka Agatha pun memulai petualangan di Timur Tengah.

Pada suatu hari saat makan malam, Agatha mulai memperhatikan asisten pasangan Wooley yaitu Max Mallowan. Seorang arkeolog muda yang kesannya sangat pendiam. Awalnya, Agatha baru ngeh dengan watak Katherine yang menyebalkan, bossy, yang semua orang kesannya takut sama dia. Katherine pun seenak-enaknya aja memperlakukan orang. Nah, orang yang paling sering diperlakukan seenaknya itu ya Max Mallowan, asisten suaminya. Padahal Max itu asisten penelitian, bukan pembantu.

Continue reading →