Murder in The First II: Twenty-Fifteen

Penyelidikan dan Penyidikan

Season kedua diawali dengan pembicaraan para anggota kepolisian San Fransisco yang biasa. Kita langsung diperkenalkan dengan beberapa anggota baru dari tim yang dikepalai oleh Letnan Koto yang sungguh berwarna pelangi. Ada Letnan Jim Koto yang keturunan Jepang,  Inspektur Mulligan seorang perempuan tomboy berkulit putih,  Inspektur English berkulit hitam, dan Kami Keefer yang seorang lesbian. Dua anggota baru tim yang sebetulnya sudah ada di season 1 namun baru lebih banyak diceritakan di season kedua adalah David Molk, seorang laki-laki berkulit putih yang selalu kebanyakan mikir (dan ngoceh) serta Edgar Navaro yang berdarah latin. Mereka semua sedang membicarakan hilangnya Sarah Tran, salah satu polisi undercover.

Saat sedang melakukan penyelidikan, Inspektur English dan Mulligan terjebak di tengah penembakan masal. Dua orang remaja mendadak mengeluarkan senjata di dalam bis sekolah dan mulai menembaki teman-teman mereka sendiri. Kecepatan kisah langsung melonjak. Polisi segera berdatangan. Regu SWAT dikerahkan. Sementara itu di tengah peristiwa, Letnan Koto yang memimpin operasi tertembak. Inspektur English langsung mengambil alih untuk memimpin upaya melumpuhkan dan melacak pelaku.

Dari kesaksian siswa yang berhasil dikeluarkan dari bus, dua nama sudah didapatkan: Alfie Redmant dan Dustin Maker.

Lanjutkan membaca “Murder in The First II: Twenty-Fifteen”

Iklan

Tentang e-Reader

Tahun 2015 adalah pertama kalinya saya mempertimbangkan untuk mempunyai sebuah ebook reader. Saya tahu, telat amat! Saya sendiri pun bingung entah kesambet apa saya kok punya pikiran pengen ereader. Padahal sebelumnya, saya tidak pernah membayangkan untuk membaca sebuah buku melalui suatu alat. Soalnya yang kebayang itu: ribet, melelahkan mata, trus nanti kalau batrenya habis pas lagi asik baca kan gak lucu banget! Lagian, emangnya koleksi ebook Indonesia itu banyak? Lah, nyari bukunya dimana?

Buat saya pribadi, membaca dibagi dua jenis: membaca karena harus dan membaca untuk kesenangan. Nah, kalau membaca-harus, saya gak keberatan baca teks berbahasa asing. Tapi untuk membaca demi kesenangan, saya maunya baca pake bahasa saya sendiri, dong! Namanya juga buat dinikmati. Baca itu kan bukan buat sekedar tau ceritanya atau tau maksudnya (ini model baca-harus), tapi juga mengunyah permainan kata dan keindahan kalimat (duileh).

Ada tiga ereader yang saya pertimbangkan: Kindle, Nook, dan Kobo.

Lanjutkan membaca “Tentang e-Reader”

The Murder on the Links (Lapangan Golf Maut)

Major Belcher, kawan Archie Christie, memberitahu bahwa ia dan istrinya akan segera meninggalkan Inggris untuk mengorganisir ‘Empire Exhibition’. Acara akan berlangsung selama 18 bulan mengelilingi sebagian wilayah Kerajaan Inggris yang saat itu masih sangat besar. Mayor Belcher mengundang Archie untuk ikut dengannya sebagai penasihat keuangan. Seluruh pengeluaran dan biaya perjalanan ditanggung negara plus honor sebesar 1000 pounsterling (sekitar 18 juta rupiah kalo sekarang) yang pada saat itu merupakan jumlah yang cukup lumayan.

Archie Christie yang sudah bosan dengan pekerjaannya sebagai pegawai tentu sangat tertarik. Perjalanan selama satu tahun lebih ini akan dimulai dari Afrika Selatan, Australia, New Zealand, Kanada, dan Hawai. Dan seperti Tuppence dan Tommy, Achie dan Agatha pun tidak banyak ambil pusing dengan detil. Mereka langsung menyambar kesempatan ini.

Pada 18 bulan perjalanan ini pula, buku ketiga Agatha Christie ditulis. Kali ini berjudul The Murder on the Links, dengan tokoh Hercule Poirot.

Kisah di Buku

Hercule Poirot dan Kapten Hastings pergi ke Villa Genevieve di Merlinville-sur-Mer, Perancis, setelah Poirot menerima surat dari Paul Renauld yang meminta mereka untuk datang. Namun pada saat Hercule dan Hastings tiba, Paul Renault ternyata telah tewas dengan tikaman di belakang tubuhnya. Mayatnya ditemukan di sebuah lubang dekat lapangan golf yang sedang dibangun. Untung Poirot kenal dengan Komisaris Polisi di sana sehingga bisa terlibat dalam penyelidikan.

Lanjutkan membaca “The Murder on the Links (Lapangan Golf Maut)”

The Secret Adversary (Musuh dalam Selimut)

Two young adventurers for hire. Willing to do anything, go anywhere. Pay must be good. No reasonable offer refused.”
Agatha Christie, The Secret Adversary

Pada tahun 1922, dua tahun setelah novel pertamanya terbit, Agatha Christie mulai memikirkan untuk menulis novel yang kedua. Nah, kalau novel yang pertama lebih kepada pembuktian dirinya sendiri karena ditantang kakaknya, novel yang kedua ini ditulis karena butuh.

Butuh uang.

Yup, pada saat itu, Agatha dan Archie baru menata hidupnya. Archie memutuskan untuk keluar dari ketentaraan Inggris dengan alasan: kemungkinan naik pangkatnya lama dan gajinya kurang besar. Pasangan muda ini menyewa sebuah flat (apartemen) di London. Sebenarnya keadaan keuangan mereka cukup…untuk mereka bertiga. Kalau saja ibunya Agatha tidak keras kepala untuk mempertahankan Ashfield, rumah keluarga Miller.

Pasalnya gini, untuk merawat sebuah rumah yang besar membutuhkan biaya besar pula. Sehingga, ya, memang pilihannya kalau sudah tidak mampu membiayai perawatan, mending dijual saja dan membeli rumah yang lebih kecil tentunya. Atau tinggal di rumah salah satu anaknya.

Agatha sendiri adalah seorang ibu rumah tangga. Dia tidak memiliki penghasilan sendiri, dan tidak mau juga untuk meminta uang kepada suaminya untuk membantu ibunya. Maka saat itulah terlintas satu-satunya cara untuk mendapatkan uang: menulis buku yang baru. Memang penghasilannya (saat itu) kecil sekali. Tapi, yah, daripada tidak ada.

Sebenarnya, beliau memang sudah memulai novel yang kedua, tapi tidak yakin apakah penerbitnya akan tertarik. Masalahnya, novel yang kedua ini bukan cerita detektif melainkan thriller.

Kisah di Buku

Prudence ‘Tuppence’ Cowley dan Thomas Beresford adalah teman masa kecil yang bertemu kembali selepas perang dunia pertama berakhir. Masalah mereka sama: selepas perang, mereka menjadi pengangguran.  Sebelumnya, mereka bergabung dalam ketentaraan dan palang merah untuk membaktikan dirinya pada negara. Kemudian, Tuppence mendapat ide untuk mendirikan perusahaan yang bernama ‘The Young Adventures, Ltd’. Perusahaan ini dalam bidang jasa. Intinya sih, mereka mau melakukan apa saja asal diberi bayaran yang tinggi.

Kemudian muncul seorang pria yang nguping pembicaraan dua anak muda ini meminta Tuppence bekerja dengannya. Saat ditanya namanya, Tuppence menjawab asal saja, Jane Finn. Tidak disangka, laki-laki ini bereaksi keras dan memberikan sejumlah uang kepada Tuppence. Namun keesokan harinya , laki-laki ini menghilang.

Tuppence dan Tommy kemudian memasang iklan di koran untuk mencari tahu mengenai seseorang yang bernama Jane Finn. Iklan mereka mendapatkan dua jawaban: pertama dari seseorang bernama Carter, seorang pejabat tinggi di pemerintahan Inggris. Tuan Carter mengungkapkan bahwa ada sebuah dokumen rahasia yang nampaknya jatuh ke tangan seorang perempuan yang bernama Jane Finn, yang kemudian menghilang. Dokumen ini sangat berbahaya jika sampai jatuh ke tangan yang salah. Salah satu pihak yang merupakan ancaman paling dekat adalah seseorang yang bernama Mr. Brown. Tuan Carter meminta agar Tuppence dan Tommy bekerja sama dengannya.

Ampun, dah! Tuan Carter! Dokumen berbahaya kalau sampai jatuh ke tangan yang salah tapi situ enak-enak aja ngegosipin bareng dua anak muda yang baru kenal.

Lanjutkan membaca “The Secret Adversary (Musuh dalam Selimut)”

Buku Tahun 2017 dan 2016

Tahun 2017, saya jauh sekali dari kata berhasil melampaui target yang saya samakan dengan tahun 2016 yaitu 40 buku. Terus terang, saya juga tidak begitu berusaha memenuhinya. Saya justru lebih asik menikmati sebuah buku, daripada ingin segera menuntaskannya. Well, selain, memang waktu membaca saya juga menjadi lebih sedikit. Ini tentunya membaca untuk kesenangan, ya.. Bukan karena pekerjaan ataupun study.

Well, tahun ini Goodreads berbaik hati memberikan gambaran:

Lanjutkan membaca “Buku Tahun 2017 dan 2016”

The Missing II: The Turtle and The Stick

Apakah kamu pernah mendengar kisah tentang si kura-kura?

Dia tinggal di sebuah kolam dan mengisi hari-harinya dengan berenang-renang dan bermain-main bersama sang kodok.

Hal yang paling disukai kura-kura adalah saat teman-temannya, para burung, datang berkunjung.

Para burung ini mengisahkan tentang petualangan mereka diatas gunung salju, lembah-lembah yang subur. Kura-kura ini ingin ikut petualangan mereka.

‘Tapi bagaimana bisa?,’ Tanya para burung.’kura-kura kan tidak punya sayap’

Lalu kura-kura bilang,’Kamu bisa jadi sayapku.’

Lalu para burung punya ide. Mereka akan memegang sebuah tongkat di kaki mereka, dan kura-kura bisa menggigit tongkat itu. Para burung akan membawanya terbang.

Naik ke langit.

‘Wow’, kura-kura terpesona dengan apa yang dilihatnya. Dia membuka mulutnya.

Dan dia jatuh menghantam bumi. Tubuhnya hancur berkeping-keping.

 

Dua tahun setelah The Missing season pertama ditayangkan, BBC One akhirnya melanjutkan serial yang mendapatkan banyak nominasi penghargaan ini. Sesuai dengan judulnya, masih tentang kasus missing person namun dengan kisah yang berbeda di tempat yang berbeda, bahkan di negara yang berbeda. Satu-satunya penghubung antara dua season ini adalah Detective Julien Baptiste.

Kalau di season pertama kasus menimpa keluarga Inggris yang sedang berwisata di Perancis, kali ini kasus menimpa keluarga Inggris yang berdomisili di Jerman.

Kisah dimulai dengan percakapan sepele antara seorang anak perempuan bernama Alice Webster dengan adik laki-lakinya. Alice baru saja membuat tato di lengannya, sang adik ingin juga. Kemudian sang kakak pergi menjauh dari halaman sekolah lalu dihampiri oleh sebuah mobil van.  Yup, gadis inilah yang menghilang. Sebelas tahun kemudian,  Alice Webster ditemukan kembali dalam keadaan sekarat, tertatih-tatih jatuh di jalan. Untungnya, pertolongan segera datang. Alice dikembalikan kepada keluarganya.

Ayah Alice, Sam Webster adalah seorang Kapten Angkatan Darat Inggris yang sedang bertugas di Jerman. Well, kasus menimpa seorang tentara Inggris di Jerman tentunya sudah jelas, pihak militer langsung terlibat. Sersan Eve Stone dari militer Inggris berpartner dengan John Lenhart dari kepolisian Jerman. Kisah tambah ribet saat Detective Julien Baptiste yang merupakan pensiunan polisi Perancis ikut terlibat.

Masalahnya gini, saat Alice ditemukan, masih di dalam ambulan dan perawat menanyakan nama, Alice menyebutkan Sophie Giroux. Nah Sophie Giroux adalah seorang wanita muda seusia dengannya, warga negara Perancis, yang menghilang bertahun-tahun yang lalu. 

Kasus Sophie Giroux ditangani  Julien Baptiste yang kemudian menghantuinya. Pasalnya, dalam penyelidikannya, Julien sempat mencurigai ayah Sophie sendiri terlibat dalam kasus penculikan terhadap anaknya. Ini membuat ayah Sophie kehilangan pekerjaan dan ibu Sophie bunuh diri.  Julien sedikit banyak menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada keluarga Giroux. Dan pada saat Julien bertemu Alice, dia langsung menyadari sesuatu:

Gadis yang kembali itu bukan Alice Webster. Itu Sophie Giroux!

Tapi mengapa dia mengaku bernama Alice Webster? 

Bukan hanya mengaku, tapi tahu banyak hal sehingga keluarga Webster, kecuali Sang Ibu tentunya, sama sekali tidak curiga. 

Dimana Alice Webster yang sebenarnya? 

Sebelum sempat dilakukan penyelidikan, gadis yang mengaku bernama Alice ini bunuh diri meninggalkan sebuah pertanyaan tambahan: siapa itu Henry Reed?

Untuk menemukan jawabannya, Julien harus melakukan perjalanan dari Perancis ke Jerman dan Swiss sampai ke Iraq.

Lanjutkan membaca “The Missing II: The Turtle and The Stick”

Hercule Poirot’s Allies

Berbeda dengan Sherlock Holmes yang anti social, atau Sherlock lebih seneng bilang kalau dia high functioning sociopath, Hercule orangnya hangat dan senang berteman. Walaupun emang rada ribet karena apa-apa musti rapih dan seimbang, tapi dia masih cukup menerima keadaan atau teman-teman yang awut-awutan…walau rada gemes. Nah, teman-temannya ini adalah sekutunya

Kenapa saya menyebut mereka sekutu dan bukan sidekick? Well, karena gak semuanya digambarkan sebagai seseorang yang secara intelektual dibawah Hercule Poirot.

Pada saat menulis ini, saya mempertimbangkan dengan susunan seperti apa saya tuliskan. Apakah berdasarkan favorit saya pribadi? Atau dari seringnya bekerja sama dengan Poirot? Saya kemudian memutuskan untuk menuliskan secara kronologis sesuai mereka muncul pertama kali bersama Hercule Poirot dalam kisah yang diterbitkan.

  1. Captain Arthur Hastings
Arthur Hastings dalam Agatha Christie's Poirot
Arthur Hastings dalam Agatha Christie’s Poirot

Menjadi sekutu Poirot di:

Novels

  • The Mysterious Affair at Styles (1920)
  • Murder on the Links (1923)
  • The Big Four (1927)
  • Peril at End House (1932)
  • Lord Edgware Dies (1933)
  • The ABC Murders (1936)
  • Dumb Witness (1937)
  • Curtain (1975)

Short Stories

  • Poirot Investigates (1924)
  • The Regatta Mystery and Other Stories (1939)
  • Three Blind Mice and Other Stories (1950)
  • The Under Dog and Other Stories (1951)
  • Double Sin and Other Stories (1961)

Captain Arthur Hastings adalah sahabat terdekat Hercule Poirot dan narrator di beberapa kasus Poirot. Posisinya mirip banget dengan Dr. Watson kepada Sherlock Holmes. Dia muncul di 26 cerpen dan delapan novel. Pertama Kali muncul dalam novel adalah tahun 1916 di desa Styles. Saat itu dia sedang dalam masa pemulihan setelah terluka dalam Perang Dunia I. Sebenarnya tidak jelas kapan pertama kali berkenalan dengan Poirot sebab dalam kisah  The Mysterious Affair at Styles itu, Hastings menyatakan bahwa dia bertemu kembali dengan temannya yang seorang mantan polisi Belgia. Selepas kasus, Poirot dan Hastings memutuskan untuk menyewa sebuah flat dan tinggal bersama.

Lanjutkan membaca “Hercule Poirot’s Allies”