Kisah Perempuan di Nusantara: Ratu Sima dari Kalingga

Pada abad ke-6 dan 7 di Jawa Tengah terdapatlah sebuah kerajaan yang namanya termahsyur sampai ke Cina. Kerajaan ini bernama Kalingga. Konon menurut catatan dari zaman dinasti Tang di Cina, ibukota kerajaan Kalingga ini dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu yang kokoh dan memiliki istana yang besar bertingkat dengan tahta yang terbuat dari gading gajah. Rakyat kerajaan Kalingga dikatakan mahir membuat minuman dari bunga kelapa. Namun, produk unggulan dari kerajaan Kalingga adalah kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading gajah. Kerajaan ini berkelimpahan, dengan kehidupan masyarakatnya yang aman dan tentram. Dan ini Karena Kalingga dipimpin oleh seorang penguasa yang adil dan bijaksana.

Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara. Atau lebih dikenal dengan sebutan Ratu Sima.

Siapa sebenarnya Ratu Sima?

Ratu Sima bukan berasal dari Jawa. Ia lahir pada sekitar tahun 611 M di Sumatera, di dekat daerah yang kini bernama Musi Banyuasin. Ia adalah putri seorang pemuka agama Hindu-Syiwa, diboyong ke Jepara setelah menikah dengan Raja Kertikeyasinga dari Kalingga.

Pada tahun 674 M, Raja Kertikeyasinga wafat. Saat itu, kedua anaknya yaitu Parwati (perempuan) dan Naraya/Isyana (Laki-laki) masih kecil. Maka tahta Kalingga pun dikuasai oleh Ratu Sima. Pada saat itu, konon, Kalingga memiliki pelabuhan yang besar sebagai pusat perdagangan. Namun, alur lalu lintas laut sedang digrecoki oleh para perompak yang berkeliaran.

Ratu Sima memilih untuk bertindak tegas dan menegakkan aturan baik di darat maupun di laut. Beliau memberlakukan hukuman mati untuk setiap kejahatan pencurian maupun perampasan yang terjadi di wilayah Kalingga. Adanya kepastian hukum yang tegas tanpa pandang bulu ini kemudian membawa rasa aman dan tentram di seluruh wilayah Kalingga.

Aliansi dengan Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda

Sementara itu, Kerajaan Sriwijaya di Sumatera yang saat itu dipimpin oleh Raja Jayanasa sedang gencar-gencarnya melebarkan sayap. Kerajaan Pali dan Mahasin (Singapura) berhasil jatuh ke tangan Sriwijaya. Kemudian pada tahun 683 M, dengan mengerahkan kekuatan sebanyak 20.000 tentara, kerajaan Melayu Sribuja berhasil ditaklukan. Marah karena kerajaan ibu mertuanya jatuh ke tangan Sriwijaya, maka Ratu Sima mengadakan aliansi dengan kerajaan Galuh untuk melawan aliansi Sriwijaya-Sunda.

Untuk memperkuat aliansi, Ratu Sima kemudian menikahkan puterinya yaitu Parwati dengan Amara (Mandiminyak), putera mahkota kerajaan Galuh. Ini kemudian diperkuat kembali dengan dinikahkannya Sanaha (Putri Parwati dengan Mandiminyak) dengan Sena, putera Mandiminyak dengan Pohaci Rababu.

Okeh, okeeeeh… Ini jelas-jelas incest! Dan masalah Pohaci Rababu ini ribet juga ternyata. Tapi itu buat tulisan selanjutnya.

Menurut sejarah, Raja Jayanasa (Sriwijaya) sempat melamar Ratu Sima, namun ditolak. Maka ketegangan antara Sriwijaya dan Kalingga pun semakin meruncing. Kapal-kapal perang keduanya sudah saling berhadapan. Namun untunglah saat itu Raja Sunda, Sri Maharaja Tarusbawa, yang memang beraliansi dengan Sriwijaya mengirimkan surat permohonan agar Sriwijaya tidak menyerang Kalingga. Alasannya, agar tidak ada kesan bahwa perang terjadi hanya gara-gara pinangan raja ditolak.

Sriwijaya pun tidak jadi menyerang Kalingga. Perangnya batal!

Whoa! Saya sering denger cerita-cerita kerajaan perang karena cinta ditolak! Baru kali ini baca sejarah dua kerajaan batal perang gara-gara lamaran ditolak!

Masa Pemerintahan

Masa pemerintahan Ratu Sima adalah masa keemasan di Kalingga. Beliau berhasil membuat Kalingga tentram karena kegigihan dan kecerdikannya yang membuatnya berhasil menjalin aliansi dengan kerajaan Galuh dan Sunda. Sementara itu, di dalam negerinya, ketegasan Ratu Sima yang tanpa pandang bulu memberantas kejahatan pencurian, perampasan, dan perampokan membuatnya menjadi Sang Maharatu yang sangat dicintai dan dikagumi rakyatnya. Serta membuatnya tersohor sampai ke Cina dan jazirah arab. Membangkitkan rasa segan, hormat, dan penasaran.

Konon, saking penasarannya, ada seorang raja asing yang meletakkan kantung berisi uang emas di tengah persimpangan dekat alun-alun ibukota kerajaan. Selama tiga tahun, kantung berisi uang emas itu tidak bergeming di tempatnya. Tidak ada seorangpun yang menyentuhnya. Hingga pada suatu hari, putera Ratu Sima sendiri (Narayana/Isyana?) secara sengaja menyentuh kantung itu dengan kakinya. Bukan untuk mencuri, hanya penasaran saja. Maka, Sang Putera Mahkota pun dijatuhi hukuman potong kaki.

Dalam hal ketentraman beragama, Ratu Sima menaruh hormat pada setiap kebudayaan di Kalingga. Baik agama Hindu maupun Buddha berkembang dengan harmonis. Sehingga kerajaan Kalingga pun dikenal pula sebagai wilayah Di Hyang, yang berarti wilayah dua kepercayaan. Hindu dan Buddha. Dalam bidang pertanian, Kalingga mempelajari dan mengadopsi Sistema perairan yang disebut Subak.

Suksesi

Nah, ini yang ribet. Saya banyak membaca raja yang hebat tapi kerajaannya awut-awutan sepeninggalannya hanya karena si raja yang hebat ini pada akhirnya tidak bisa tegas menentukan siapa yang menjadi penerusnya. Biasanya, kerajaaan dibelah-belah, dan hancurlah semuanya.

*Sigh*

Ratu Sima memerintah Kalingga selama 21 tahun. Beliau meningga dunia pada tahun 695 M. Sebelum meninggal, Ratu Sima sempat mengatur suksesi pemerintahan dengan membagi dua kerajaan untuk kedua anaknya. Puterinya Parwati diangkat sebagai raja di bagian utara yang untuk selanjutnya disebut Mataram, sementara puteranya yaitu Narayana diangkat sebagai raja di bagian selatan yang disebut Bumi Sambara.

Nantinya, sesama cicit Ratu Sima yaitu Sanjaya (cucu Parwati) dan Sudiwara (cucu Narayana) kelak menjadi suami isteri. Anak hasil perkawinan mereka bernama Rakai Panangkaran yang lahir tahun 717 M. Dialah yang di kemudian hari menurunkan raja-raja di Jawa Tengah.

Continue reading →

Iklan

Buku Tahun 2018 Part 2

Postingan ini adalah lanjutan dari postingan yang sebelumnya disini.

14. Gajah Mada 4: Perang Bubat karya Langit Kresna Hariadi. Baca dari 25-30 April 2018.

Saya bingung ini buku sebenarnya judulnya Perang Bubat atau Sanga Turanga Paksowani, sih?

Eniwey, kisah di buku ini memang mengisahkan tentang apa yang terjadi pada tahun Sanga Turanga Paksowani. Sebuah serangkaian peristiwa yang kemudian meletuskan Perang Bubat, atau Pasunda Bubat jika kita merujuk ke peninggalan Bali.

Okeh, buat yang gak tahu apa itu Perang Bubat, begini secara garis besar:

Dyah Gitarja (Thribuwana Tunggadewi) sudah mengundurkan diri dari tahta Majapahit. Konon beliau mundur karena ibunya, yaitu Gayatri Rajapatni meninggal dunia. Tapi ada beberapa pendapat yang mengatakan, mengundurkan dirinya Gitarja dari tahta tidak ada hubungan dengan kematian Gayatri.

Lah, trus jadi kenapa, ya?

Eniwey, Hayam Wuruk yang sudah menjadi raja saat itu sedang mencari permaisuri. Usianya sudah menginjak 23 tahun. Pencarian berakhir saat Hayam Wuruk memutuskan untuk menikahi Dyah Pitaloka, puteri Maharaja Linggabuwana dari kerajaan Sunda Galuh.

Nah, masalahnya, kerajaan Sunda ini ogah bergabung di bawah pemerintahan Majapahit. Dan selama bertahun-tahun, Dyah Gitarja menentang habis-habisan rencana Gajah Mada untuk menyerbu Kerajaan Sunda Galuh. Alasannya, soalnya ayahnya Gitarja, yaitu Raden Wijaya, sebenarnya setengah Sunda.

Maka diutuslah rombongan untuk melamar Dyah Pitaloka.

Lamaran diterima. Dyah Pitaloka beserta seluruh keluarganya (kecuali adik laki-lakinya yaitu Niskala Wastu Kancana) berlayar ke Jawa Timur. Ini adalah rombongan besan pernikahan. Bukan Rombongan perang.

Namun, saat rombongan kerajaan Sunda Galuh ini tiba di Lapangan Bubat, diluar pagar batas istana Majapahit, datanglah Gajah Mada menghadang. Gajah Mada menuntut agar Prabu Linggabuwana menyerah, Kerajaan Sunda takluk kepada Majapahit, dan Dyah Pitaloka diserahkan sebagai putri sesembahan yang nantinya akan menjadi selir Hayam Wuruk.

Daripada dijajah, Prabu Linggabuwana memilih untuk melawan. Maka pertempuran terjadi saat itu juga. Semua orang dari Kerajaan Sunda Galuh, termasuk permaisuri dan bahkan Dyah Pitaloka sendiri, ikut bertarung mati-matian. Dan semuanya mati.

Konon, Dyah Pitaloka ambruk bersimbah darah di pangkuan Hayam Wuruk dan mati saat itu juga.

Daaaan, sejak saat itulah, orang Sunda gak percaya lagi sama orang Jawa, hahaha… Yaa, pokoknya setelah itu, hubungan antara kedua kerajaan tambah awut-awutan, lah, ya..

Menurut saya, ini adalah buku Gajah Mada yang paling banyak kemana-mananya. Lebih banyak tambahan cerita dibanding sejarahnya. Saya sampai sering kehilangan arah saat membaca. Tertarik karena ingin tahu bagaimana Langit Kresna Hariadi mengisahkan terjadinya perang Bubat.

13. Gayatri Rajapatni: Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit kary Earl Drake. Baca dari 13-20 April 2018.

Pas banget. Setelah menyaksikan bagaimana perempuan dirampas dan diinjak-injak haknya pada Gadis Pantai, tentu merupakan hiburan yang besar untuk membaca tentang seorang perempuan yang sangat dihormati. Namun sayangnya, tokoh Gayatri of Majapahit ini justru dilupakan oleh orang-orang Indonesia sendiri. Tertutup dengan Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Raden Wijaya. Hanya tiga tokoh itu yang diingat. Padahal selain mereka, ada tiga lagi tokoh besar Majapahit: Gayatri Rajapatni, Dyah Gitarja (Thribuwana Tunggadewi), dan Suhita. Tiga-tiganya perempuan. Dua diantaranya adalah raja Majapahit. Dua yang pertama, justru dikenal di dunia Internasional. Di Indonesia? Lupa… Ketutupan ratusan tokoh laki-laki.

Terus terang aja, kenapa sih yang diinget justru Hayam Wuruk. Emang prestasi apa yang dibangun Hayam Wuruk? Mempersatukan Nusantara itu jasanya Gajah Mada (Perdana Menteri) dan Dyah Gitarja (Raja Majapahit). Hayam Wuruk mah Cuma menikmati aja hasil kerja keras emaknya dan Gajah Mada.

Saya sudah menulis sedikit tentang buku ini disini

12. Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Baca dari 11-13 April 2018.

“…Roman ini menusuk feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan tepat langsung di jantungnya yang paling dalam.”

Ini kedua kali saya baca. Pertama kali saat saya masih kuliah S1. Dan waktu itu, rasanya pahit sekali. Menyakitkan sekali. Benar-benar membuka mata saya atas apa artinya budaya patriakal itu. Maklum, saya berasal dari keluarga Betawi-Sunda. Saya tumbuh di lingkungan masyarakat Betawi di Jakarta. Apapun pendapat anda tentang orang Betawi, kami itu dididik secara egaliter. Anak gak takut untuk mengungkapkan pendapatnya kepada orangtua. Dengan Bahasa yang biasa-biasa saja. Kebanyakan, kami mengungkapkan segala sesuatu, termasuk kasih sayang, dengan becanda. Tentu harus sopan. Kalo berani nyolot, yaaa, ditabok mulutnya, hehehe…

Kali kedua saya membaca, tidak terlalu mengejutkan lagi. Walaupun tetap sek-sek-an juga sih, hahaha.. Sebagai perempuan, saya jadi berempati sekali dengan tokoh utama yang konon neneknya Pram sendiri. Memangnya ada yang lebih menyakitkan dari dirampas darah dagingnya sendiri?

11. Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit karya Prof. Dr. Slamet Muljana. Baca dari 24-28 Maret 2018.

Ini adalah buku pembuka dari sederet buku nonfiksi tentang kerajaan Hindu Buddha di Indonesia. Atau masa periode klasik Indonesia. Bukan berarti saya tidak pernah membaca sejarah tentang masa-masa ini. Cuma kebanyakan yang say abaca hanyalah cuplikan-cuplikan artikel saja.

Saya sudah menulis review tentang buku ini disini.

10. Gajah Mada: Hamukti Palapa. Baca dari 7-20 Maret 2018.

Ini mungkin adalah buku favorit saya di serial Gajah Mada. Yaaa, soalnya kejadiannya saat tokoh favorit saya berkuasa di Majapahit. Dyah Gitarja alias Thribuwana Wijaya Tunggadewi. Raja perempuan pertama di Majapahit yang saat berkuasa, memiliki gelar Sri Maharajasa Jayawhisnu Wardhani.

Saya sudah menuliskan tentang buku ini disini.

9. Gajah Mada: Bergelut dalam Kemelut Tahta dan Angkara karya Langit Kresna Hariadi. Baca dari 23 Februari-28 Februari 2018.

Saya sudah menulis reviewnya disini.

8. A Storm of Sword karya George RR Martin. Baca dari 28 Juni 2017-22 Februari 2018.

7. Gajah Mada: Makar Dharmaputera karya Langit Kresna Hariadi. Baca sejak 28 November 2016-19 Februari 2018.

Saya sudah menulis mengenai buku ini di sini.

6. The Murder on the Links karya Agatha Christie. Baca sejak 20 November 2016-4 Februari 2018.

Saya sudah membuat tulisan mengenai buku ini di sini.

5. Majapahit: Bala Sanggarama karya Langit Kresna Hariadi. Baca sejak 28 Januari-3 Februari 2018.

Sudah saya buat tulisan mengenai buku ini disini.

4. A Clash of Kings (A Song of Ice and Fire 2) karya George RR Martin. Baca sejak 23 Juni 2016-1 Februari 2018.

3. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken karya Jostein Gaarder (Maret 2013-22 Januari 2018)

2. Majapahit: Sandyakala Rajawangsa karya Langit Kresna Hariadi (17-20 Januari 2018)

1.  The Rise of Majapahit karya Setyo Wardoyo (9-15 Januari 2018)

 

 

 

Buku Tahun 2018 Part 1

Tahun 2018 adalah kedua kalinya saya berhasil menyelesaikan tantangan yang saya berikan ke diri saya sendiri. Yaaa, ini hanya soal-soal ngitung-ngitung jumlah buku, sih.

Okeh, menurut pehitungan dari Goodreads, selama 2018 saya membaca sebanyak 12.873 halaman. Itu dihitung berdasarkan jumlah 25 buku yang saya selesaikan.

Buku paling pendek yang saya baca di tahun 2018 adalah…. Cerita Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer yang hanya terdiri dari 94 halaman saja. Sementara buku paling panjang adalah Bara Diatas Singgasana karya S. H. Mintarja yang sebanyak 1.709 halaman.

Buku paling popular yang saya baca di tahun 2018 adalah buku kedua dari serial A Song of Ice and Fire yaitu A Clash of Kings. Selain saya, ada 786.112 yang juga membacanya dan mencatatkannya di Goodreads. Sementara itu, buku paling tidak popular adalah Bara Diatas Singgasana yang tercatat, hanya saya yang membacanya.

Yaaaa, buku cerita silat jaman dulu, sih, ya..

Buku dengan rating tertinggi yang saya baca sepanjang tahun 2018 adalah Ranggalawe: Sang Penakluk Mongol karya Makinuddin Samin.

Ini adalah daftar buku yang berhasil saya selesaikan sepanjang tahun 2018. Saya akan menuliskan urutannya terbalik. Dari yang paling akhir saya selesaikan dulu.

25. Midah Simanis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer. Baca pada tanggal 25 Desember 2018. Saya sudah menulis tentang buku ini.

24. Cerita Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer. Baca pada tanggal 29 November 2018. Saya sudah menulis panjang lebar disini. Menarik sekali buku ini!

23. Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Baca dari 13-15 November 2018. Saya sudah menulis tentang buku ini.

22. Sitti Nurbaya karya Marah Rusli. Baca dari 6-12 November 2018.

Ini sebenarnya kedua kali saya membaca roman ini, dan tetap menarik! Sangat menarik bagaimana penggambaran masyarakat Sumatera Barat, tata sosialnya, budaya matriakal yang ternyata tidak lebih baik dari budaya patriakal.

21. Majapahit 3: Banjir Bandang dari Utara karya Langit Kresna Hariadi. Baca dari 11 Juni-19 Oktober 2018.

Seri ketiga dari Majapahit, ya ampun. Ini semakin sedikit cerita sejarahnya. Lebih banyak pemandangannyaaa… Dan sihir-sihir. Pake ada yang hidup lagi pula apa itu zombie? Istana yang kalo malem nungul trus pas pagi ngilang. Ampun, dah! Ini jadi kayak Game of Thrones versi Indonesia.

Tapi yaaa, tetap menarik, sih. Cuma dari 3 buku Majapahit, ini yang kurang saya nikmati. Plotnya terlalu lama. Mungkin saya akan membaca ulang buku ini.

20. Pelangi di Atas Singasari: Bara di Atas Singgasana karya S. H. Mintarja. Baca dari 2-19 Oktober 2018.

Saya lompatin seri pertamanya dan langsung kedua aja. Ini mengisahkan kerajaan Singasari. Di buku pertama, kisah tentang berdirinya Singasari. Bosen, men. Maka langsung aja saya baca yang kedua, cukup menarik.

Kisah mengambil sisi dari pengalamannya Anusapati, sang putera mahkota yang kebingungan kenapa ayahnya, Ken Arok,  seakan benci kepadanya. Sang ayah justru sangat membangga-banggakan Panji Tohjaya, anaknya dari Ken Umang. Dari masalah kecil pertikaian bocah, sampai tumbuh menjadi remaja, Anusapati justru semakin merasa dibeda-bedakan. Sementara Panji Tohjaya diberikan apa-apa terbaik, diberi guru khusus, Anusapati malah disuruh bermain boneka. Seakan-akan disengaja agar Anusapati tumbuh tidak sebagai laki-laki yang kuat.

Untung ada Mahisa Agni, kakak Ken Dedes yang tahu persis alasan kenapa Arok tidak menyukai Anusapati. Mahisa Agni curiga, suatu saat nanti, Arok ingin meningkirkan Anusapati dengan cara mempermalukannya di hadapan rakyatnya. Maka Mahisa Agni pun diam-diam mengambil inisiatif untuk melatih Anusapati ilmu kanuragan.

Saya cukup terkejut menemukan bahwa tokoh protagonist disini adalah Anusapati, bukan Panji Tohjaya. Well, karena nantinya, menurut Pararaton, Anusapati akan membunuh Arok, maka saya selalu mengira dia adalah tokoh jahat.

19. Ranggalawe: Sang Penakluk Mongol karya Makinuddin Samid. Baca dari 9 Juli-13 Agustus 2018. Saya sudah menulis tentang buku ini disini.

18. Menak Jinggo: Sekar Kedaton karya Langit Kresna Hariadi. Baca dari 24 Juli-5 Agustus 2018.

Berkisah tentang Prang Paregreg. Mugkin lebih tepatnya sisi lain yang ditulis oleh Langit Kresna Hariadi. Soalnya yang saya tahu, ‘jagoan’ di kisah Perang Peragreg ini kan Wikramawardhana dan tokoh jahatnya Wirabhumi. Tapi nampaknya di buku ini, situasinya berbalik.

Memang belum sampai perang, sih. Gak tau juga apa bakal diterusin sama penulisnya, ya…

Okeh, yang mau tahu tentang Perang Paregreg:

Hayam Wuruk gak punya anak laki dari permaisurinya. Hanya anak perempuan yaitu Dyah Kusumawardhani. Nah, satu-satunya anak Hayam Wuruk dari permaisuri ini dinikahkan dengan Wikramawardhana, keponakan Hayam Wuruk sendiri.

Di sisi lain, Hayam Wuruk punya seorang putera dari selir yang bernama Wirabhumi.

Hayam Wuruk yang gak bisa tegas memilih kepada siapa tahta akan diturunkan, akhirnya membelah dua Majapahit: sebelah barat diberikan kepada Wikraawardhana & Kusumawardhani, sebelah Timur diserahkan kepada Wirabhumi. Setelah Hayam wuruk meninggal dunia, setelah Kusuma Wardhani meninggal dunia, terjadilah perang saudara antara Wikramawardhana vs Wirabhumi. Perang inilah yang akan membuat Majapahit bangkrut, rontok, awut-awutan, dan miskin. Bahkan sampai gak mampu bayar hutang ke Cina! Untung Cina berbaik hati melunaskan hutang Majapahit karena kasihan.

Perang Paregreg berakhir setelah Wirabhumi kalah. Dia sempat melarikan diri dengan perahu, namun tertangkap dan dipenggal. Kemudian, tahta Majapahit diteruskan kepada Suhita, anak perempuan Wikramawardhana. Ada yang mengatakan bahwa Suhita adalah cucu Wirabhumi juga (salah satu anak perempuan Wirabhumi dinikahi oleh Wikramawardhana), tapi Prof. Slamet Muljana berpendapat bahwa Suhita adalah anak kedua Wikramawardhana dan Kusumawardhani. Anak pertama mereka dikabarkan meningga dunia saat kecil.

Pada pemerintahan Suhita, Majapahit sempat maju kembali perlahan-lahan. Raja perempuan terakhir Majapahit ini benar-benar berusaha agar Majapahit bisa keluar dari malapetaka kemiskinan dan kehancurannya. Namun, beliau meninggal dunia tanpa keturunan. Sehingga Majapahit kembali dilanda perang saudara yang tidak berkesudahan.

Continue reading →

The ABC Murders

Saya sudah menyangka sebelumya bahwa adaptasi Agatha Christie tahun ini pasti akan ada perubahan. Well, ya…kalau melihat siapa penulis skenarionya yaitu Sarah Phelps dan mengikuti karya-karyanya, serta ditayangkan oleh BBC One. Buku-buku Agatha Christie diadaptasi BBC memang menjadi semakin dark. Mari kita sebut saja And Then There Were None, Witness for the Prosecution, Crooked House, lalu Ordeal by Innocence. Itu semua memperbaiki cerita. Tapi ketika cerita Hercule Poirot digeret jadi dark pula? Waduh, campur aduklah perasaan saya!

Kisah di TV Seri

Kemarin aku mengikutimu. Kau terlihat tua dan lelah. Kakimu seperti kesakitan saat berjalan. Aku mengkhawatirkanmu. Aku berdiri begitu dekat di belakangmu.

Tidak bisakah kau merasakan nafasku di lehermu, Hercule?

Banyak orang bilang itu adalah kesombongan. Si Poirot yang angkuh dan suka berlagak” mereka bilang. Dan kemudian mereka akan menertawakanmu dari belakang, Tapi aku tidak tertawa karena bagiku itu bukan kesombongan. Ku rasa kau hanya berusaha kembali ke masa di mana kau masih menjadi detektif terkenal.

Saat kau masih dipuja, saat kau diinginkan

saat kau dicintai.

Aku tidak pernah dicintai, tapi aku akan ditakuti.

Aku akan menjadi monster tak berwajah, menggiring anak kambing menuju rumah jagal.

Aku akan melakukan sesuatu untuk kita berdua, Hercule. Aku akan memberitahumu saat semuanya sudah siap. Sampai bertemu lagi. chin-chin. ABC.

Seperti dalam surat dari ABC tersebut, Hercule Poirot bukan lagi detektif tersohor dan dipuja banyak orang. Pada awal-awal kisah, saya sungguh kasihan kepadanya. Dia terlihat sangat kesepian dan tua. Tidak ada yang mengingatnya lagi dan dihindari oleh para polisi di Inggris. Kemudian sepucuk surat datang diikuti oleh serangkaian pembunuhan yang pada akhirnya mengembalikan Hercule Poirot menjadi detektif yang aktif kembali.

Tapi perjalanan sampai surat ini menarik minat polisi tidak mudah. Inspectur Japp sudah pensiun. Dan penggantinya, Inspectur Crome tidak mengindahkan Hercule Poirot. Dia bahkan menertawakan Poirot. Dan Poirot menerima ‘hinaan’ atas dirinya ini dalam diam dan diam-diam menyingkir. Beneran bikin kasihan sekaligus marah-marah sendiri.

Lah, ini apa-apaan! Ini bukan Poirot, woy!! Hercule tuh kayak cewek, men. Kalo ada yang nyinggung perasaannya, suka kesel trus ngambek buang muka!

(Tapi kalau ada yang ngancam penyelidikannya, dia malah hepi!)

Hercule dan Japp terakhir kali sebelum Japp mati. Sedih jugaa...

Hercule dan Japp terakhir kali sebelum Japp mati. Sedih jugaa…

Poirot pun mencari sahabatnya, Inspectur Japp yang sudah pensiun dan menjalani hidup yang tenang sebagai petani. Japp pun tidak terlalu mengindahkan kekhawatiran Poirot. Dia hanya menganggap bahwa serangkaian surat yang diterima Hercule Poirot itu bukan sesuatu yang benar-benar mengkhawatirkan. Mungkin fans lama. Dan mengenai penolakan Inspectur Crome, Japp justru berpendapat bahwa Crome adalah orang baik. Tapi dia masih muda dan ingin membuktikan dirinya sendiri.

Yup, Japp terlihat jauh lebih bijak disini. Gak digambarkan lagi sebagai polisi yang bodoh hobi masak masakan biasa-biasa saja.

Tapi perubahan karakter Hercule dan Japp bukan kejutan terakhir di serial yang baru berjalan beberapa menit ini buat fans Agatha Christie. Kejutan selanjutnya, Japp meninggal dunia. Dan meninggalnya Japp kemudian membuka komunikasi baru antara Hercule Poirot dan Crome, namun tidak langsung mulus.

Inspektur Crome

Inspektur Crome

Inspectur Crome mau menerima Hercule. Bahkan mau repot-repot mencari tahu apa yang terjadi di Andover. Tapi hanya sebatas itu. Hercule yang penasaran kemudian pergi ke Andover sendiri hanya untuk menemukan bahwa pembunuhan pertama yang terjadi atas Alice Asher telah terjadi. Dan disebelah mayat Alice ini, Hercule bersumpah untuk menemukan siapa pembunuhnya.

Kemudian surat terus berdatangan diikuti pembunuhan. Dari Andover, ke Bexhill, ke Cricklewood dan terus berlanjut. Sampai, yah, sampai si pembunuh membuat kesalahan.

***

Awalnya saya tidak ingin menonton serial ini cepat-cepat. Nanti saja, saat semua episode sudah lengkap dan sebagainya. Tapi kemudian saya tergoda untuk segera menonton saat ngeh kalau nampaknya, twitternya Sarah Phelps dikerubungin mention yang menyatakan kekecewaannya saat menonton The ABC Murder. Kenapa saya tahu? Yaa, soalnya mention-mention itu diretweet oleh Sarah Phelps-nya sendiri bersamaan dengan mention-mention yang menyatakan kekaguman.

Kan saya jadi penasaran, ya.. Apakah saya bakal puas sekali kayak pas nonton And Then There Were None dan Ordeal by Innocence, atau kecewa sekali.

Daaaan… Sepertinya dua-duanya.

Kalau kita melihatnya sebagai drama pembunuhan, ini keren sekali. Seorang detektif tua yang pernah jaya dan hidupnya masih penuh misteri bekerja sama dengan inspektur polisi baru yang gak gitu nyaman dengannya. Sebenarnya, inilah hubungan Hercule Poirot dengan polisi dalam bayangan saya.

Gak si polisi bodoh dan ikut aja bahkan kagum dengan sang detektif swasta. Terus terang, kalau saya jadi inspektur polisi, saya akan seperti Crome! Saya akan merasa terancam dan kesal musti bekerja sama dengan seorang laki-laki yang bukan polisi tapi sok tahu!

Karakter Inspektur Crome, oke! Saya langsung suka! Dia bukan polisi goblok, hanya kadang terlalu berlebihan untuk membuktikan dirinya sendiri sehingga suka membuat kesalahan. Anak muda yang semangat bertemu detektif tua yang sudah banyak makan asam garam dunia. Pas banget! Kayak cerita Hercule Poirot terbaru karangan Sophie Hannah.

Saya kok malah jadi ngerasa kalau Inspectur Crome ini kayak Edward Catchpool, ya…

Hercule Poirot dan Alexander Bonaparte Cust di Agatha Christie's Poirot

Hercule Poirot dan Alexander Bonaparte Cust di Agatha Christie’s Poirot

Dalam hal cerita, gak ada komplen. Justru lebih baik. Semakin gelap. Semakin banyak warna manusia yang ditampilkan. Misalnya, dari sisi Alexander Bonaparte Cust.

Saat membaca buku The ABC Murder lebih dari 15 tahun yang lalu (ini salah satu buku Agatha Christie pertama yang saya baca), saya gak gitu merasa tertarik dengan karakter Alexander Bonaparte Cust (ABC) ini. Baru tertarik saya menonton Agatha Christie’s Poirot episode tentang The ABC Murder. Justru karakter ABC ini yang menarik perhatian saya. Tokohnya awkward gitu. Ya itu orang emang selain epilepsy, punya trauma terhadap perang, brilliant!  Dan pemeran tokoh ABC ini di Agatha Christie’s Poirot adalah Donald Sumpter. Tau, kan si Master Luwin di Game of Thrones. Bisa kebayang gimana ringkihnya ini orang.

Dalam mini seri 2018 ini, ABC lebih ‘hancur’ lagi. Jatuh lebih dalam lagi sampai pada titik dimana saya beberapa kali berjengit dan gak nyaman saat kisahnya bergulir di layar kaca. Kemudian tokoh ibu kostnya ABC juga awut-awutan. Dia melacurkan anak perempuannya kepada para penghuni kost-kostannya. Dunia di sekitar ABC ini sangat-sangat menyakitkan hati buat dilihat.

Ibu Kost dan anaknya

Ibu Kost dan anaknya

Satu-satunya hal yang membuat saya berkerut dan cukup kecewa dengan mini seri ini justru adalah tentang Hercule Poirot dan dunia di sekelilingnya, bahkan termasuk karakter dirinya. Continue reading →

Midah Simanis Bergigi Emas

Midah dilahirkan di tengah keluarga yang cukup fanatik beragaman. Ayahnya, Haji Abdul, adalah penggemar music-musik Arab. Yaaa, sepertinya sih, hanya karena pakai Bahasa Arab saja maka dianggap seakan-akan nyanyiannya menjadi mulia. Padahal, mah, sama aja cuuuuuyyy…

Lagu pop Arab kan kalo udah cinta-cintaan, gombalnya jauh lebih gombal dari lagu kita.

Eniwey, si Midah ini sempat menjadi anak tunggal. Jadi dia sangat menikmati disayang orangtua tanpa saingan sampai usianya 10 tahun. Setelah itu, adiknya terus bermunculan. Perhatian orangtuanya berkurang kepadanya. Dia mulai merasa kalau orangtuanya tidak lagi peduli kepadanya.

Midah mulai betah main-main jauh, mulai menggemari music keroncong. Dia baru tahu, bahwa ternyata dia memang berbakat menyanyi. Saat ayahnya tahu, marah besarlah kepadanya. Bahkan, semua pembantu di rumah diusir oleh bapak karena menyangka anaknya mendapat pengaruh dari pembantu. Midah ketakutan. Beberapa saat kemudian, dia pun dikawinkan dengan Haji Terbus yang berasal dari desa ayahnya.

Baru tiga bulan pernikahannya dengan Haji Terbus, Midah minggat dari rumah. Pasalnya, dia baru tahu kalau Haji Terbus ternyata memiliki banyak istri. Tidak berani pulang ke rumah, Midah pun bergabung dengan kelompok pengamen keliling. Dan kehidupan kemudian menyeretnya untuk kalah dan menjalani sebagai penyanyi sekaligus pelacur.

***

Buku ini adalah buku tercepat yang saya baca di tahun 2018. Hanya sekitar 2 jam saja. Tapi, bukan berarti gak bisa dijeda. Hanya memang saja tidak ada kegiatan yang menjedanya. Lagipula, buku ini cukup tipis dan tidak sulit.

Selain tercepat, mungkin ini adalah kisah dimana saya sangat sebel dengan tokoh utamanya. Saya sama sekali tidak merasa kasihan dengan si tokoh, beneran. Mungkin karena memang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang saya anut yang saya pegang, atau memang karena saya sudah kenyang dengan kisah seperti ini. Continue reading →

Ordeal by Innocence

Of my detective books, I think the two that satisfy me best are Crooked House and Ordeal by Innocence (Agatha Christie)

Kedua kisah favorit Agatha Christie menurut penulisnya sendiri ini tidak ada yang menampilkan para detektif ikon dan bahkan para sidekicknya. Tidak ada Hercule Poirot, Miss Marple, Tommy dan Tuppence Beresford, Hastings, Ariadne Oliver, bahkan Mr. Queen. Dari dua kisah favorit Agatha Christie ini, favorit saya secara pribadi adalah Crooked House. Namun nampaknya, para penikmat karya Agatha Christie di Inggris sana lebih banyak yang memfavoritkan Ordeal by Innocence.

Kisah di Buku

Arthur Calgary, seorang peneliti Geofisika kenamaan, baru saja kembali ke Inggris setelah ekspedisinya ke kutub utara. Dia baru mendapat informasi bahwa seorang pemuda bernama Jack Argyle yang telah dinyatakan bersalah atas pembunuhan terhadap ibunya sendiri mati di dalam tahanan. Masalahnya, Jack Argyle ini, pada saat malam pembunuhan, sedang bersama Arthur Calgary di dalam sebuah mobil. Sehingga tidak mungkin dia bersalah atas pembunuhan itu. Maka, karena merasa bersalah dia tidak dapat membela Jack, Arthur pun mendatangi rumah keluarga Argyle. Harapannya, yah, paling tidak, dia membayangkan seluruh keluarga akan merasa lega bahwa Jack sebenarnya tidak bersalah.

Tentunya, keluarga Agryle tidak lega. Malah jauh dari itu. Karena kalau Jack tidak membunuh ibunya sendiri, berarti orang lain yang melakukannya. Orang itu mungkin saja anggota keluarga sendiri, yang seperti kebiasaan orang Inggris, masih tinggal di rumah keluarga. Dan sampai kebenaran terungkap, yang tidak bersalah lah yang paling menderita dengan perasaan bersalah.

Maka penyelidikan polisi atas kematian Mrs. Argyle kembali dibuka. Dan korban pun kembali jatuh.

***

Ini adalah salah satu novel Agatha Christie yang mengisahkan tentang hubungan keluarga, suatu tema yang selalu ditampilkan dengan sangat percaya diri oleh penulisnya. Dalam hal menikmati kisah, iya, saya sangat menikmatinya. Bahkan ini termasuk buku yang cukup megangin dan tidak dapat dijeda buku lain, namun bukan berarti tidak dapat dijeda kegiatan lain. Kebanyakan hanya karena penasaran saja. Biasanya, saya akan bisa langsung membayangkan siapa pembunuh yang sebenarnya. Masalah apakah tebakan saya benar atau tidak, itu tentunya lain soal. Namun saat membaca kisah ini, saya sama sekali tidak mendapatkan bayangan apapun.

Saya juga merasa tidak nyaman dengan prejudice yang saya tangkap dari Agatha Christie-nya sendiri. Bagaimana orang yang bukan kulit putih atau bahkan non Inggris, anak-anak yang lahir dari kelas yang berbeda, hal-hal seperti itu.

Leo Argyle (Kiri) dan Arthur Calgary (Kanan)

Leo Argyle (Kiri) dan Arthur Calgary (Kanan)

Keluarga Argyle itu sama dengan keluarga Boynton di kisah Appointment with death. Semua anak di keluarga adalah anak adopsi. Dan masing-masing anak ini punya masalah, orangtua angkatnya pun ada masalah. Dan ini yang benar-benar membuat saya tidak nyaman. Apa memang seperti itu pandangan Agatha Christie terhadap anak angkat? Begitu superior-kah ras kulit putih khususnya orang Inggris kalangan atas?

Solusi dari kisah ini juga saya rasakan kayak, ‘Yah, kok gitu, ya?’ Hahaha… Menurut saya si pelaku tidak cukup punya motif ditambah terlalu banyak yang terlibat. Antara apa yang terjadi dengan sifat si pelaku—Agatha Christie selalu menekankan masalah psikologi dibandingkan kesempatan—kayak yang gak terlalu klik. Bagaimana mungkin orang se pengecut itu bisa cukup punya otak untuk mendalangi pembunuhan.

Pantes aja gak ada detektifnya Agatha Christie di kisah ini. Mungkin Hercule Poirot, suami istri Beresford, Miss Marple, sampe Ariadne Oliver bakal kompakan protes rame-rame ke Agatha Christie, hehehe.. Kalo Hasting dan Japp mah he-eh aja kali.

Adaptasi

Pada tahun 1985, kisah ini diadaptasi menjadi film layar lebar. Kisahnya tidak terlalu banyak dirubah dari kisah aslinya hanya tokoh Arthur yang tadinya seorang peneliti geofisika dirubah menjadi seorang paleontologist. Dan dia mendatangi keluarga Argyle bukan karena memang khusus untuk membela Jack, namun dia hanya mengantarkan buku hariannya Jack yang terbawa olehnya. Namun setelah dia menemukan bahwa Jack telah mati di tahanan, baru kemudian dia mengadakan penyelidikan ulang tentang apa yang terjadi dua tahun yang lalu.

Pada tahun 2007, kisah ini kembali diadaptasi. Kali ini sebagai bagian dari drama televisi Agatha Christie’s Marple.

Memang dalam serial ini, kisah-kisah yang ditampilkan tidak semuanya kisah Miss Marple. Ada beberapa kisah yang sebetulnya tidak ada tokoh Miss Marple-nya diadaptasi di sini. Salam satunya, yaa, Ordeal by Innocence.

Dalam kisah ini, ceritanya, Miss Marple diundang untuk menghadiri pernikahan seorang teman. Namun saat sedang pesta, tiba-tiba seseorang datang dan menyatakan bukti bahwa Jacko (Jack) si kambing hitam keluarga yang sudah dihukum gantung ternyata tidak bersalah atas pembunuhan terhadap ibunya sendiri (Saya beneran gak mau nulis ibu adopsi. Kayak gimanaaa gitu. Anak ya anak, mau adopsi kek mau dilahirin, kek. Sama aja!). Dan Miss Marple yang selalu ribet mau tahu urusan orang itulah yang kemudian akan mengungkapkan kebenaran pada kasus ini.

Pada bulan April 2018, sebuah adaptasi terbaru dari kisah ini ditayangkan sebagai drama tiga episode oleh BBC One. Dengan ada tiga episode dan penulis yang mengadaptasinya adalah Sarah Phelps, tentu saya berharap banyak dengan adaptasi yang ini.

Dan saya tidak kecewa.

Rachel dan anak-anaknya

Rachel dan anak-anaknya

Di kisah ini banyak sekali perubahan, walaupun ruhnya tetap sama. Bahkan termasuk si pelaku pembunuhan itu sendiri dan motifnya sekalian. Sebenarnya bukan kejutan juga, sih. Karena sebelumnya dalam Appointment with Death, motif dan cara pembunuhan pun diubah. Bahkan pembunuhnya ditambahkan menjadi komplotan, bukan hanya satu orang. Tapi pas. Karena memang terlalu complicated untuk hanya dilakukan oleh satu orang saja.

Dalam kisah Ordeal by Innocence, saya merasa motif yang diberikan oleh Sarah Phelps justru lebih kuat, dan si pelakunya juga lebih pas. Kisahnya sendiri lebih oke dari pada kisah di buku. Alasan kenapa Arthur Calgary baru datang setelah dua tahun dan sekaligus kenapa dia kurang ‘didengarkan’ oleh keluarga Argyle juga lebih masuk akal: Arthur Calgary tidak stabil secara mental. Continue reading →

Black Sails

When the king brands us pirates, he doesn’t mean to make us adversaries. He doesn’t mean to make us criminals. He means to make us monsters. For that’s the only way his god-fearing, tax-paying subjects can make sense of men who keep what is theirs and fear no one. When I say there’s a war coming, I don’t mean with the Scarborough, I don’t mean with King George or England. Civilization is coming. And it means to exterminate us (Kapten Flint)

Serial Black Sails mengambil setting waktu 20 tahun sebelum kisah Treasure Island. Iya, Treasure Island karangan Robert Louis Stevenson itu. Dalam kisah ini, harta karun yang udah kayak gunungan pasir saking banyaknya itu belum menjadi milik Kapten Flint dan kru kapalnya.

Kisah dibuka saat sebuah kapal dihadang oleh bajak laut. Sebenarnya, muatan kapal ini tidak terlalu istimewa. Tapi ada satu hal di kapal ini yang ternyata menarik minat Kapten Flint: jadwal dan rute.

Me, I can’t help myself. I see an opportunity, I take it. It’s a sickness. Truly (John Silver)

 

Iya, jadwal dan rute kapal-kapal Spanyol yang salah satunya adalah kapal Urca de Lima. Ini adalah kapal yang benar-benar ada yang konon memuat uang emas milik pemerintah Spanyol yang karam di tengah laut. Tapi di kisah ini tentunya kapal itu belum karam. Bahkan mungkin belum berlayar. Nah, jadwal serta rute itulah kunci bagi Kapten Flint untuk bisa menghadang dan merompak. Tapi sayangnya, jadwal itu sudah berpindah tangan.

John Silver yang memegang jadwal tersebut berusaha untuk mengambil keuntungan. Yaaa, dia sih sebenarnya gak berhasrat untuk merompak. Inginnya, itu jadwal dia jual kepada kapten bajak laut dengan harga yang tinggi yang cukup untuk membuat dia hidup nyaman ongkang-ongkang kaki. Dan bajak laut yang tertarik adalah Charles Vane, saingan Kapten Flint.

Okeh, kenapa Kapten Flint dan Charles Vane saat itu saling membenci? Well, ini ada hubungannya dengan Eleanor Guthrie.

 

Leave before there’s a terrible misunderstanding between my foot and your ass (Eleanor Guthrie) 

Eleanor Guthrie adalah wanita muda pengusaha yang memiliki kekuasaan di Nassau, pelabuhan para bajak laut. Dialah penadah barang-barang hasil rampasan para bajak laut ini. Dan sebelumnya, partner utama Eleanor adalah Charles Vane yang sekaligus kekasihnya. Namun, Charles Vane kemudian dia campakkan sebagai kekasih maupun dalam bisnis karena untuk selanjutnya, Eleanor lebih memilih Kapten Flint. Menurutnya, sih, Kapten Flint lebih cerdik dan punya pandangan jauh ke depan. Dan mereka berdua memang berbagi mimpi untuk menjadikan Nassau sebagai pelabuhan yang resmi.

Ditambah lagi, Max, kekasih perempuan Eleanor (Eleanor itu bisexual) ditahan, diperkosa ramai-ramai, dan dijadikan budak sex oleh Charles Vane dan para krunya. Memang Charles punya alasan untuk menahan Max. Dan terus terang, saya sebel banget sama Max karena menurut saya, kekacauan ini gara-gara dia! Tapi, yaaaa…  apapun alasannya tidak dapat diterima oleh  Eleanor yang kemudian memecat Charles sebagai kapten kapal.

Nah, ini kemudian memicu ‘hawa panas’ di Nassau. Dan hawa panas ini dimanfaatkan oleh Richard Guthrie untuk meletupkannya menjadi konflik terbuka.

Richard Guthrie adalah ayah kandung Eleanor yang sangat haus kekuasaan dan sebetulnya memiliki mimpi yang sama dengan Kapten Flint dan Eleanor: ingin hidup tenang di dalam hukum. Hanya caranya berbeda. Sementara bagi Eleanor dan Kapten Flint, harta karun Urca de Lima adalah kesempatan terbaik untuk digunakan sebagai modal dan melegalkan Nassau. Bagi Richard, cara terbaik adalah menghancurkan Nassau.

Menghancurkan seluruh jerih payah puterinya sendiri.

Continue reading →

Cerita Calon Arang

Sebelum kertas ditemukan oleh Tsai’Lun, sebelum mesin cetak ditemukan oleh Johann Gutenberg dimana keduanya menjadi medium tradisi tulis, peradaban dibangun oleh segulungan kisah dongeng (Pramoedya Ananta Toer)

Kisah di Buku

Jawa Timur, sebelum Majapahit, sebelum Singasari, munculah seorang penyihir yang paling sakti di bumi Nusantara ini. Namanya adalah Calon Arang. Dia hidup pada masa pemerintahan Prabu Airlangga (1009-1042 Masehi).

Jadi, Calon Arang ini adalah seorang janda dan sekaligus tukang sihir. Sebagai pemeluk agama Hindu, Calon Arang memuja Durga, penjelmaan amarah dari Dewi Parwati (ibunya Dewa Ganesha). Calon Arang sering melakukan ritual-ritual yang mengerikan di kuil Durga seperti pengorbanan manusia yang diambil paksa sebelumnya. Darah dari para korban ini dipergunakan Calon Arang dan para pengikutnya untuk berkeramas sehingga tambah mengerikanlah wujud Sang Penyihir yang sakti mandraguna ini.

Konon, penduduk dusun Girah, tempat tinggal Calon Arang, selalu diliputi oleh ketakutan. Salah sedikit saja, bisa menyebabkan celaka. Calon Arang tidak ambil pusing mengenai siapa korbannya. Seorang anak kecil bisa dikutuk buta dan lumpuh. Padahal anak itu tidak sengaja mengganggu saat main suaranya terlalu keras saja.

Kisah dimulai saat Calon Arang marah. Pasalnya, tidak ada seorang pun yang melamar putrinya yaitu Ratna Manggali. Walaupun Ratna Manggali adalah gadis cantik yang berbudi luhur, namun tidak ada laki-laki yang cukup waras untuk berani menjadi menantu Calon Arang.

Dalam amarahnya ini, Calon Arang mengadu kepada Dewi Durga dan memohon izin untuk menyebarkan kutukan maut ke seluruh kerajaan. Dewi Durga mengizinkan dengan satu syarat: kutukannya tidak boleh memasuki ibukota kerajaan tempat Prabu Airlangga menetap.

Maka dimulailah bencana alam dan menyakit melanda seluruh negeri. Ribuan orang menjadi korban. Mayat-mayat bergelimpangan. Setiap satu orang mati, maka seluruh anggota keluarganya pun bisa dipastikan akan sakit dan mati pula.

Prabu Airlangga dengan tunggangannya, Garuda

Prabu Airlangga dengan tunggangannya, Garuda

Prabu Airlangga sangat marah mengetahui bahwa rakyatnya menderita. Maka diutuslah satu pasukan khusus untuk menumpas Calon Arang. Namun, pasukan ini gagal. Tidak ada yang bisa berkutik melawan mantera-mantera yang dihembuskan Calon Arang. Prabu Airlangga kemudian merenung dan merenung, setelah itu dia bertapa memohon petunjuk Dewa Wisnu. Semakin banyak berita kematian dan penderitaan, semakin tertekan Prabu Airlangga.

Sang Prabu kemudian mengambil keputusan: mantera harus dilawan dengan mantera. Ini musuh yang tidak akan bisa ditaklukan dengan bala tentara. Maka dipanggilah seluruh pendeta ke istana. Raja memohon nasihat dan doa. Maka ramailah segala kuil dan tempat pemujaan. Semua orang berdoa memohon pertolongan kepada Dewa. Dan petunjuk Dewa sangat jelas; orang yang bisa mengalahkan Calon Arang adalah seorang pendeta yang, bukan hanya berilmu tinggi, tapi juga cerdik. Pendeta ini bernama Empu Baradah.

Continue reading →

Bekisar Merah

Pada diri Lasi ada janji dan gairah yang sangat menggoda. (Ahmad Tohari)

Novel ini mengisahkan tentang bagaimana kehidupan para penderas nira kelapa untuk dibuat gula. Masyarakat kelas bawah yang pada kesehariannya selalu dipenuhi oleh kekhawatiran. Mereka banting tulang seharian, bertaruh nyawa naik turun pohon kelapa. Hasil yang mereka dapatkan, sangat jarang sekali bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, mimpi para penderas ini sederhana saja: agar harga gula bisa setara dengan harga beras.

Tokoh kita adalah Lasi, seorang perempuan warga desa Karangsoga. Berbeda dengan warga desa yang lainnya, kecantikan Lasi terlihat mentereng. Mungkin karena kulitnya putih bersih sehingga dia cocok untuk berpasangan dengan seorang, minimal, kepala desa. Ya,Lasi memang sesungguhnya blasteran. Ayah kandungnya adalah serdadu Jepang yang pada saat itu banyak terdapat di desa dan seenaknya mengambil gadis-gadis di sekitar mereka. Dan Lasi adalah salah satu produk dari kejadian ini.

Suami Lasi bukan kepala desa melainkan seorang penderas nira yang bernama Darsa. Mereka berdua hidup sederhana dan tentram walau setiap harinya selalu dikhawatirkan dengan persediaan beras untuk makan mereka berdua. Pada suatu hari, sebuah kejadian yang paling buruk bagi para penderas terjadi: Darsa jatuh dari pohon kelapa. Tapi, untunglah, sahabat Darsa yang sama-sama penderas yang pertama kali menemukannya. Maka, segera, dilakukan beberapa ritual untuk menyelamatkan nyawa Darsa.

Demi membawa Darsa ke rumah sakit, Lasi harus berhutang kepada juragan pengepul. Walaupun dengan resiko harus dipotong dari penghasilannya sehari-hari.

Perlan-pelan, Darsa mulai pulih kembali. Luka-lukanya menutup walaupun nampaknya masih ada yang tidak beres pada tubuhnya. Keinginan Lasi sebenarnya ingin membawa Darsa ke rumah sakit yang lebih besar, namun biayanya tidak ada. Akhirnya Lasi hanya bisa pasrah dan membawa Darsa pulang. Di rumah, pengobatan Darsa dilanjutkan oleh seorang tukang pijit yang bernama Bunek.

Saat Darsa pulih sepenuhnya, hal yang tidak pernah disangka Lasi terjadi. Darsa ketahuan menghamili Sipah, anak Bunek. Lasi yang sakit hati langsung minggat! Dengan menumpang truk teman satu desa-nya, dia kabur ke kota.

Lasi yang pada saat didesa hidup serba pas-pasan kini harus dihadapkan dengan kehidupan yang sangat asing baginya. Di kota Lasi tinggal ditempat bu Koneng, pemilik warung remag-remang. Lasi sangat heran saat berada ditempat itu, pasalnya kehidupan di tempat tersebut sangatlah vulgar.

Dan Lasi yang cantik…. Yah, dia memang sangat cantik ditambah lugu, tidak sadar bahwa sang bekisar kini masuk ke sarang musang. Karena dengan penuh perhitungan, Bu Koneng mulai mengambil kuda-kuda untuk bisa menjual Lasi pada orang-orang berkantung tebal.

***

Ahmad Tohari

Ahmad Tohari

Tak ada pemberian yang tidak menuntut imbalan. Ya. Lasi masih ingat betul emaknya beberapa kali menekankan, tak ada pemberian tanpa menuntut imbalan. Bahkan Emak waktu itu bilang, dia sendiri merasa berhak menuntut imbalan kepatuhan Lasi karena dia telah melahirkan dan menyusuinya.

Ini buku ketiga Ahmad Tohari yang saya baca setelah sebelumnya trilogy Ronggeng Dukuh Paruk saya habiskan langsung hanya dalam tiga hari saja. Iya, memang nampaknya karya-karya Ahmad Tohari dilengkapi mantra sehingga saya, hanya dengan membaca satu kalimat saja, akan langsung terseret masuk lalu tersesat di dalamnya.

Saya suka dengan gaya bahasa yang lugas, sederhana, serta jernih yang dipilih oleh Ahmad Tohari. Kelebihan lain adalah sangat kuatnya penggambaran latar alam, sangat detil dalam mengisahkan sesuatu. Nah, bayangkan latar tersebut kemudian dilengkapi dengan tokoh-tokoh orang-orang kecil yang polos, bodoh, dan miskin. Para tokoh ini tersenyum atas apa-apa yang sepele, menangis untuk ketidakberdayaan mereka.

Continue reading →

Tentang e-Reader II: Kindle Paperwhite 3

RIP Nook

Satu hal yang musti diinget buat pemakai ebook reader adalah, bahwa layar ereader itu gampang rusak jika tertekan. Bahkan, sesuai dengan wanti-wanti penjual Nook kepada saya, sangat sering layar ereader itu rusak hanya karena gak sengaja tertekan benda-benda misalnya kunci. Nah, kalau layarnya udah rusak, hadoh males bangetlah ngebetulinnya karena harganya ya emang disitu mahalnya.

Nook saya rusak. Layarnya pecah.

Kemudian saat saya bawa ke bengkel ereader, ternyata harga untuk memperbaikinya….well, lebih baik beli yang baru kayaknya. Maka meluncurlah saya ke olshop mencari-cari Nook yang baru. Kali ini, saya mau yang ada lampunya, hehe…

Nook saya itu model gak ada lampunya. Jadi kalau keadaan gelap, yaudah gak bisa dibaca. Jadi saya siasati dengan menggunakan lampu baca. Tapi, males juga lama-lama kalau pergi-pergi musti bawa lampu baca.

Jadi, buka laptop liat liat liat….

Yaaa, sebetulnya gak bener juga kalau dibilang ‘lihat-lihat’ karena saya sih sudah tahu ebook reader mana yang tadinya mau saya beli. Sama kayak yang sebelumnya: Nook Simple Touch cuma kali ini yang versi glowlight. Kebetulan salah satu rekan kerja saya punya, jadi saya tahu, kalau itu sama aja aja kayak punya saya cuma ada tambahan lampu. Dan layarnya lebih jernih.

Tapi ujung-ujungnya, saya malah beli saingan Nook yaitu Kindle Paperwhite 3 white edition keluaran tahun 2016. Saya tertarik karena hal yang sebetulnya saya gak perlu untuk sekedar baca: ada pilihan font untuk disleksia.

Well, saya bekerja di sekolah inklusi. Saya mengajar anak-anak berkebutuhan khusus juga selain anak-anak regular. Saya pikir, yah lumayan juga buat tahu huruf seperti apa sih yang pas digunakan buat anak disleksia.

Kindle Paperwhite 2016

Kesan pertama saat menyalakan kelihatan jauh lebih terang dari Nook saya. Tentu saja, Paperwhite 3 punya 300 ppi. Layarnya juga lebih jernih dengan tingkat ketajaman tulisan yang lebih baik. Tapi, buat saya saat pertama kali memakai khususnya hari-hari pertama, justru lebih banyak kekurangannya dibanding Nook yang saya rasakan

Pengkatalogan buku
Saya harus berkali-kali mengingatkan diri sendiri kalau Nook yang saya pakai itu sudah saya root. Artinya, Nook saya itu sebenarnya sudah jadi tablet computer dengan layar e-Ink. Maka, ya, cara saya mengatur file-file di sana terserah saya sendiri. Dan Nook memang memberi fasilitas pada kita untuk me-root device-nya. Sementara Kindle itu gak bisa di root. Atau lebih tepatnya, saya gak tau caranya dan gak yakin kalaupun bisa, nanti bisa balik lagi. Akhirnya, device itu yaudah saya hanya bisa memakai saja. Agak geregetan saat mencari-cari buku karena belum apa-apa saya sudah memasukkan 350-an buku. Jadi rasanya ribet banget!

Begini, kalau anda pernah pakai iPod dan dap (digital audio player) merk lain, yah, katakanlah Sony. Kalau kita masukin lagu di Sony, yaudah kita masukin aja langsung foldernya yang udah kita susun di computer. Lalu saat mau mendengarkan, kita akan browsing lagu sesuai dengan folder yang kita susun itu. Sementara kalau iPod kan tidak. iPod akan otomatis mengorganisasikan lagu kita sesuai dengan kriterianya sendiri, sesuai artis atau judul lagu. Nah, begitu juga Kindle. Sementara pada Nook (yang sudah di root), dia akan mengikuti Folder kita.

Saya geregetan banget di situ. Kebayang dong, buku-buku yang udah susah payah saya susun berdasarkan folder yang kita bikin sendiri, eh tau-tau pas dibuka di Kindle jadi rapiiiiiiih tidak sesuai yang kita mau. Kayak meja kerja kita yang udah kita susun-susun eh pas hari Senin kita masuk kerja, itu meja tau-tau udah dirapihin OB dan kita jadi riweh nyariin kerjaan kita dimana.

Batre yang kurang tahan lama dibanding Nook.
Beneran ini berasa banget buat saya. Kalau kita baca-baca review orang-orang tentang Kindle Paperwhite mengenai batre yang tahan lama, rasanya pengen nyeletuk, ‘Elo pikir batrenya tahan lama? Belum coba Nook pastinya!’

Continue reading →

All Is Well

Istiqamah itu bagaikan tongkat Nabi Musa, penyimpangan bagaikan tipuan para tukang sihir Firaun. Jika Istiqamah datang, ia akan menelan semua tipuan. -RUMI-

Info Sastra

MENGEMBANGKAN SASTRA INDONESIA

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Fretty's Blog

A walk, a poetry, and a cup of coffee...

MI ISLAMIYAH ALWATHANIYAH

Jl. Sultan Agung 18 Mojoanyar Bareng Jombang Jawa Timur Kode Pos. 61474 Telp. (0321) 713370 email : elwathany@yahoo.co.id

Choby~net

mengisi celah, berharap berkah.

Teacher's Notebook

Warna Warni Hidupnya Guru

Wawasan Pendidikan

Semua serba pendidikan dan persaudaraan

MamaRay's Blog

Pengingat dan Penyemangat Diri

Ibu Guru Kami...

Jejaring Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan berbasis ICT

Rahma Yudhistira

“Nun, demi pena dan apa yang mereka goreskan”

Hidup Itu Harus Dinikmati...

Learning The Past, Managing The Present, Shaping The Future...

Dhea love Yovie & Nuno

Just another WordPress.com weblog