The White Queen

Sebelumnya, saya akan menuliskan sedikit tentang The Cousin’s War atau Perang Mawar

Perang Mawar adalah perang saudara yang terjadi di Inggris dalam rentang tahun 1455-1487. Masalahnya, yaa, apa lagi selain memperebutkan tahta kerajaan Inggris.

Jadi begini, ada dua keluarga yang sebenarnya sepupu karena mereka adalah keturunan dari Raja Edward III: keluarga Lancaster yang memiliki symbol mawar merah dan keluarga York yang bersimbolkan mawar putih.

Konflik dimulai pada tahun 1453 saat raja Henry VI dari keluarga Lancaster begitu terguncang karena kekalahannya atas perang ratusan tahun dengan Perancis. Konon, Henry VI ini menderita gangguan jiwa sehingga reputasinya di mata rakyat semakin turun. Lebih buruk lagi, juga karena dia memilih seorang wanita perancis, Margaret of Anjou, menjadi ratunya. Keluarga York yang sudah sangat muak dengan Henry memintanya untuk mundur dari tahta. Kemudian, perang pun pecah antara Lancaster vs York.

Pada tahun 1460, Richard of York menawarkan kesepakatan kepada sepupunya. Dia akan mengakui Henry VI sebagai rajanya, asal keluarga York yang ditunjuk sebagai pewaris tahta, dan bukan putera dari Margaret of Anjou yang jelas-jelas orang Perancis. Kesepakatan ini ditolak oleh Margaret of Anjou (karena sebenarnya memang Margaret yang mengendalikan tahta saat itu). Pada bulan Desember, Richard of York gugur.

Walaupun pimpinan keluarga York telah tewas, perang belum berakhir. Kendali keluarga secara otomatis beralih kepada Edward putera sulung Richard. Dan Perang Mawar pun memasuki periode paling berdarahnya.

Pada bulan maret 1460 terjadi pertempuran besar di desa Townson. 60 ribu pasukan Lancaster berhadapan dengan 50 ribu pasukan York. Konon saking dahsyatnya, tanah di desa tersebut sampai berselimut warna merah saking banyaknya darah tumpah disana. Pertempuran ini dimenangkan oleh keluarga York. Margaret of Anjou beserta suami dan puteranya melarikan diri ke Skotlandia lalu ke Perancis. Edward of York naik tahta dengan gelar Edward IV.

Nah, dari titik inilah kisah The White Queen dimulai

Kisah TV Seri

The White Queen

Edward IV dan Elisabeth Woodvile

Edward IV dan Elisabeth Woodvile

Serial ini lebih menitik beratkan kepada tokoh-tokoh perempuannya dibanding laki-laki. Sang tokoh utama adalah Elizabeth Woodvile, istri Edward IV.

Kisah dimulai pada saat Elizabeth Woodvile berdiri di pinggir jalan menunggu rombongan raja lewat. Sederhana namun sekaligus berani, Elizabeth ingin memohon kepada raja agar tanah suaminya dapat dikembalikan kembali kepadanya. Suaminya ini tewas dalam perang mawar. Dan karena suaminya adalah bagian dari pasukan mawar merah, maka bisa dipastikan, tanahnya akan dirampas oleh raja yang baru.

Edward IV langsung jatuh hati kepada Elizabeth Woodvile. Mereka menikah secara diam-diam di sebuah gereja di desa tersebut. Beberapa hari kemudian Edward pergi dengan hanya meninggalkan janji: bahwa suatu saat, dia akan jemput istrinya ke istana.

Prince George dan Prince Richard bersama puteri-puteri Warwick

Prince George dan Prince Richard bersama puteri-puteri Warwick

Tentunya banyak konflik seputar pengakuan Edward mengenai pernikahan rahasianya ini. Ya, dia kan raja. Seharusnya menikah baginya adalah urusan politik, bukan cinta. Edward seharusnya menikahi seorang puteri raja untuk mengukuhkan aliansi, bukan bangsawan setingkat desa. Apalagi dia janda.

Sebenarnya menurut undang-undang Inggris sih gak masalah istri raja itu janda, asal janda ditinggal mati dan bukan cerai. Sehingga pernikahan antara Edward of York dengan Elizabeth Woodvile mutlak sah secara agama maupun hukum negara. Hanyak gak elok saja karena dilakukan tanpa konsultasi pihak keluarga raja.

Elizabeth Woodvile pun pelan-pelan bertransformasi dari seorang perempuan desa yang lugu menjadi seorang ratu yang sangat haus kekuasaan. Elisabeth tidak cukup melihat seluruh keluarganya mendapatkan jabatan-jabatan yang mentereng di kerajaan Inggris, namun dia pun menginginkan agar keluarga Warwick hancur berkeping-keping.

Continue reading →

Iklan

Ranggalawe Sang Penakluk Mongol

Apa yang ada dalam pikiran dan hati para penguasa? Tak lain adalah ketakutan! Mulai bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan saat tidur. Ketakutan menjadi hantu dalam mimpi-mimpi mereka

Buku ini mengisahkan tentang periode sejarah antara proses perebutan kembali tahta Jawa Timur setelah Singasari dijatuhkan oleh Jayakatwang sampai dengan pemberontakan Ranggalawe. Yaaa, iya… Bosen banget, sih! Itu yang pertama dalam pikiran saya saat pertama kali melihat buku ini di Gunung Agung, toko buku langganan saya dari jaman masih bocah sampai saat ini. Sehingga, yaudah, saat itu langsung saja saya letakkan kembali buku tersebut di rak.

Begitu sampai di rumah, beneran ini serius, saya langsung balik lagi, cuy, ke Gunung Agung. Bukan apa-apa, saya jadi kepikiran aja. Satu hal yang menarik saya sehingga balik lagi adalah: ini ditulis berdasarkan sudut pandangnya Ranggalawe. Si pemberontak itu sendiri.

Nah, belum pernah saya baca, tuh!

Kisah pemberontakan Ranggalawe tercatat pada Pararaton dan Kidung Ranggalawe, bukan Nagarakretagama. Tentu saja, Nagarakretagama adalah pujasastra. Nampaknya Prapanca tidak menganggap bahwa kisah tentang seorang pahlawan besar yang memberontak perlu untuk dituliskan.

Kisah Menurut Kidung Ranggalawe

Dalam Kidung Ranggalawe, kisah pemberontakan Ranggalawe ini terjadi karena hasutan dari seorang tokoh bernama Mahapati (Halayudha). Konon akar permasalahannya adalah Ranggalawe tidak rela kalau jabatan Mahapatih Majapahit (nah jangan ketuker antara Mahapati dan Mahapatih ya) diberikan pada Nambi yang menurut Ranggalawe memiliki sifat pengecut. Lebih baik kalau jabatan Mahapatih itu diberikan kepada Lembu Sora saja.

Ranggalawe yang punya sifat keras dan emosional segera datang ke istana dan membuat kegaduhan. Berteriak-teriak di dalam istana, mengamuk di halaman seraya memanggil Nambi untuk diajak berkelahi. Tapi yang keluar ke halaman justru Lembu Sora yang menasihati Ranggalawe. Menerima nasihat Lembu Sora, Ranggalawe pun menurut dan pulang ke Tuban.

Mahapati yang licik itu kemudian menghasut Raden Wijaya. Memfitnah bahwa Ranggalawe sedang menyusun kekuatan untuk memberontak kepada Majapahit. Raden Wijaya yang kena hasut segera mengirimkan Nambi, Lembu Sora, dan Lembu Anabrang untuk menghukum Ranggalawe.

Terkejut karena mendadak diserang oleh Majapahit, Ranggalawe pun melawan. Terjadilah pertempuran di tepi sungai Tambak Beras. Duel maut antara Ranggalawe dan Lembu Anabrang ini berlangsung sengit dan, seingat saya, cukup berdarah-darah. Konon Lembu Anabrang sampai membanting-banting kepala Ranggalawe ke bebatuan di tepi sungai. Walaupun seorang pendekar yang pilih tanding, tapi melawan Lembu Anabrang yang merupakan pendekar sekaligus pelaut yang tangguh tentunya Ranggalawe kalah.

Saat Ranggalawe menghembuskan nafas terakhirnya, Lembu Sora yang sebenarnya paman dari Ranggalawe tidak dapat menguasai diri lagi. Lembu Sora segera mengeluarkan kerisnya dan menusuk Lembu Anabrang. Maka hari itu Majapahit kehilangan dua ksatria terbaiknya: Ranggalawe dan Lembu Anabrang hanya karena fitnah dan kesalahpahaman saja.

Kisah di Buku

Tidak mungkin mengubah sikap hanya karena ingin disukai banyak orang. Selama tidak melanggar kebaikan, hidup tidak harus menyenangkan semua orang

Continue reading →

Akhir Pekan @ Museum Nasional

Saya adalah orang yang hobi banget nongkrong di museum dan menatap lama-lama segala jenis peninggalan sejarah. Yaaa, saya juga gak tahu sih apa sebenarnya yang salah dari diri saya. Kenapa saya gak kayak perempuan yang lain yang normal demennya shoping. Sementara saya, 10 menit aja dah di toko baju, kepala langsung semrawut. Setengah jam, saya mual. Nemenin temen sampai satu jam di toko baju, pulangnya muntah-muntah malamnya demam.

Semenjak lulus SMA saya udah hepi sendiri aja kalo ada waktu luang mengunjungi museum dan seharian ngedekem di sono.

Sendiri tentunya karena emang gak punya temen. Maksudnya dalam artian gak ada temen yang nampaknya bisa berbagi hobi yang satu itu dengan saya. Sama-sama emang seneng, gitu. Kan gak enak juga kalau kita seneng sendirian sementara orang yang bareng sama saya udah luarbiasa bosan tapi nahan-nahan setengah mati.

Mendingan sendiri.

Kebanyakan museum memang asik buat yang suka sendirian. Sepi nyaris gak ada orang apalagi kalau hari libur. Kecuali museum-museum di kota tua mungkin yang terus terang saya paling gak tahan mengunjunginya. Panas, kotor, berdebu dan penuh pengunjung yang nampaknya ke sono hanya mau selfie saja. Jadi, boro-boro mau asik-asik tenang menikmati sejarah. Yang ada malah hampir gak bisa lihat apa-apa. Pengunjung selalu berdiri dan foto-foto di depan setiap benda bahkan duduk-duduk di tempat yang seharusnya gak boleh duduk.

Kesel, men. Cuma sekali saya mengunjungi kota tua lalu kapok. Ogah.

Ada dua museum yang menurut saya paling oke yaitu museum Ullen Sentalu di Kaliurang Yogyakarta dan, tentunya, museum pusat kita yaitu Museum Nasional di Jakarta. Museum Nasional adalah museum yang paling sering saya kunjungi.

Tapi biarpun paling sering dikunjungi, udah lama banget saya berkunjung ke sono. Hitungannya tahunan! Gara-garanya saya putus sama pacar di situ, hahahaa…

Errr, ya karena kesibukan juga sih jadi gak ke sono-sono lagi.

Beberapa kali pengen berkunjung, tentunya saat weekend, etapi selalu ada acara lain.

Kemarin saya akhirnya mengunjungi Museum Nasional lagi bertepatan saat ada acara Akhir Pekan @Museum Nasional. Bertepatan karena memang dari awal rencananya saya emang mau berkunjung. Saya baru ngeh ada pentas (lagi) saat sudah h-1.

Dan saya seneng sekali. Museum sekarang rame! Gak rame tapi penuh anak alay mau selfie kayak di kota tua (walaupun saya juga gak tau sih gimana kota tua saat ini), tapi rame sama orang-orang yang beneran menikmati waktu mereka di sana. Rame sama para orangtua dan anak-anaknya yang kelihatan semangat sekali ikut acara.

Maksudnya, anak-anaknya yang semangat. Orangtuanya juga semangat, tapi kalah sama anak-anaknya.

Anak-anak, ya.. Bocah-bocah usia SD. Kalo remajanya sih kayaknya pada bête.

Akhir Pekan @Museum Nasional

Continue reading →

Confession (Memoirs) of Murder(er)

Film

Confession of Murder

Kisah dimulai di tahun 2005 saat sebuah warung makan tiba-tiba diterobos oleh dua orang lelaki. Yang mengejar adalah seorang letnan polisi bernama Choi sementara yang dikejar adalah seorang serial killer.

Perkelahian dan kejar-kejaran terus berlangsung sampai akhirnya Letnan Choi harus kalah dengan mulut sobek sampai ke pipi. Macam Joker tapi Cuma sebelah gitu, lah. Adegan selanjutnya adalah hari ketika masa kadaluarsa kasus berakhir. Letnan Choi ditelfon salah seorang putra korban yang kemudian melakukan bunuh diri dihadapannya.

Dua tahun kemudian, Letnan Choi telah menjadi seorang alkoholik yang masih juga terobsesi dengan kegagalannya. Kembali ,sebuah telfon seakan-akan menjadi panggilannya untuk bangkit.  Sang Serial Killer yang dulu menyobek mulutnya, tau-tau muncul di tv.

Namanya adalah Lee Doo-seok, dan dia baru saja merilis sebuah buku autobiografi tentang pembunuhan-pembunuhan yang dilakukannya. Dan karena kasusnya sendiri sudah melewati batas kadaluarsa, maka Lee pun sudah kebal terhadap kemungkinan ditangkap dan didakwa atas kejahatannya.

Reaksi beragam semuanya digambarkan di film ini. Bagaimana jijik dan mualnya para detektif, marah tapi putus asanya para keluarga korban, sampai para cewek alay penggemar Lee. Dan nampaknya Lee ini juga senang sekali menjadi pusat perhatian bagaikan selebriti papan atas. Selain itu, bukunya memang menjadi best seller walaupun  itu artinya dia berkali-kali menjadi target pembunuhan dari orang-orang yang membencinya. Continue reading →

First They Killed My Father

“I am six years old and instead of celebrating with birthday cakes, I chew on a piece of charcoal. ”
― Loung Ung

Beberapa tahun yang lalu saya membaca sebuah buku, sebuah memoar, yang berjudul First They Killed My Father, karya Loung Un. Salah satu korban selamat dari masa berkuasanya Khmer Merah pimpinan Pol Pot (Shloth Sar) . Mungkin, saat tergelap dalam sejarah Kamboja. Kemudian saya jadi teringat kembali dengan memoar ini saat menonton filmnya semalam.

Kisah di Buku

Saat membaca judul bukunya, saya kira kisah dimulai saat ayahnya Loung Un dibunuh tentara Khmer Merah. Ternyata tidak.

Apa sih yang kita tahu mengenai Kamboja? Selain bahwa ini salah satu negara di Asia Tenggara yang terkenal dengan Angkor Wat, sebuah kuil Hindu-Buddha terbesar di dunia.

Kamboja hanyalah sebuah negara yang terdapat pada peta. Selain salah satu materi pelajaran IPS kelas 6 tentunya.

Baidewei, Loung Un adalah puteri salah satu perwira militer Kamboja. Anak keenam, dari tujuh bersaudara. Dan saat tentara Khmer Merah menang dan kemudian menguasai Kamboja, dia baru berusia 5 tahun.

Loung hanya menceritakan sedikit saja masa-masa indah keluarganya sebelum Kamboja dikuasai Khmer Merah. Baginya yang baru berusia 5 tahun, yang dia ingat hanya jalanan tiba-tiba ramai sekali dan ibunya menyuruh dia untuk segera makan karena mereka akan pergi dari Phnom Penh. Tidak dengan mobil mewah mereka, tapi dengan truk. Keluarga ini pergi karena tentara mengusir semua orang dari kota-kota di Kamboja. Dan bersama dengan ribuan orang lain, mereka meninggalkan kota. Sedikit sekali barang yang mereka bawa. Begitu juga uang. Bagaimanapun, uang ternyata sudah tidak lagi memiliki fungsi apapun selain oleh orangtuanya dipakai sebagai kertas pengelap pantat sehabis buang air besar.

Kemudian, pembunuhan mulai terjadi. Berdasarkan berita-berita yang Loung dengar, selain tentunya berdasarkan cerita-cerita yang dituturkan oleh kakak-kakaknya beberapa tahun kemudian, tentara nampaknya membunuh siapa saja yang melawan. Baik kubu lawan mereka yaitu simpatisan Lon Nol, maupun orang-orang yang dianggap membangkang karena tidak segera meninggalkan kota. Tidak peduli bahwa orang tersebut sedang sakit parah ataupun terlalu lemah untuk melakukan perjalanan. Semua ditembak mati.

Orang-orang yang kehausan dan masuk ke sumur yang sudah diduduki oleh tentara Khmer Merah, ditembakin mati.

Keluarga Loung tiba di desa tempat saudara laki-laki ayahnya tinggal. Mereka memang petani. Dan mereka harus berpura-pura jaadi petani. Perlahan, Loung mulai belajar bagaimana negaranya berubah pada masa pemerintahan yang baru ini.

Sekolah dibubarkan. Tidak ada sekolah. Sekolahan dianggap sebagai lembaga yang merusak jiwa yang mengajarkan ide-ide barat.

Pertama-tama, semua guru dan dokter dieksekusi mati oleh Khmer Merah. Mereka semua dianggap orang-orang rusak yang bisa mengobarkan pemberontakan. Kemudian semua ilmuwan, pegawai negeri, biksu, pendeta, dan aktor. Nantinya, bahkan semua orang yang berkacamata juga ikut dieksekusi dengan alasan, terlalu pintar dan dapat mengobarkan pemberontakan. Maka gak heran juga kalau orang-orang pada pura-pura gak bisa baca.

Konon, dari buku Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World, di seluruh Kamboja setelah Khmer Merah jatuh, hanya tersisa 32 dokter yang selamat. Satu diantaranya dokter gigi. Semua rumah sakit, bukan hanya ditutup, tapi juga dihancurkan. Dan begitu juga semua alat-alat kedokteran.

Salah satu dokter yang selamat berkisah bahwa saat terjadi pembantaian, beliau memang sedang berada di rumah sakit. Tapi bukan sebagai dokter, melainkan sebagai pasien yang dirawat inap. Jadi dia selamat. Hanya diusir keluar saja.

Sementara seluruh gedung sekolah di Kamboja, beralih fungsi sebagai penjara dan ruang-ruang penyiksaan.

Continue reading →

Warna Manusia Menurut Kutara Manawa

Sebenarnya, kata yang tepat dalam mengistilahkan penggolongan manusia ini adalah ‘warna’, sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab suci Veda. Penggolongan manusia berdasarkan profesi. Sementara yang saya tuliskan di sini adalah penggolongan warna sesuai dengan yang tertulis dalam Kutara Manawa (Kitab Undang Undang Majapahit) via Nagara Kretagama yang saya baca dari buku Tafsir Sejarah Nagara Kretagama karya Prof. Slamet Muljana. Dan karena saya bukan penganut agama Hindu, sementara ini sistem yang terdaapat dalam kitab suci Veda, saya mohon maaf jika terdapat kekeliruan dan mohon dikoreksi.

Warna manusia terdiri dari 4. Namun ada warna kelima (tidak disepakati oleh para dharmadyaksa) yang terdiri dari 3 golongan lagi. Jadi semuanya ada 7 golongan.

Brahmana

Warna tertinggi dalam masyarakat Majapahit adalah golongan Brahmana, sebagai golongan yang paling tidak terikat pada harta. Seorang Brahmana harus menjalankan 6 dharma sebagai berikut:

  1. Mengajar
  2. Belajar
  3. Melakukan persajian untuk dirinya sendiri
  4. Melakukan persajian untuk orang lain
  5. Membagi
  6. Menerima derma

Dalam bidang agama, para Brahmana memiliki wewenang penuh begitupun dalam kehidupan masyarakat. Dan karena Majapahit adalah negara agama (sistem undang-undangnya berdasarkan agama), maka para Brahmana ini pun diserahi kewajiban untuk berada di dalam pemerintahan baik itu pemerintahan di kerajaan daerah, maupun di pusat.

Sebelumnya di sini saya sudah menuliskan bahwa Majapahit adalah kerajaan bersatu. Sebuah kerajaan yang terdiri dari banyak kerajaan kecil di bawahnya.

Para Brahmana yang berada di dalam pemerintahan memiliki kedudukan sebagai dharmmadyaksa, atau hakim tertinggi dan duberi gelar dang acarya. Dharmadyaksa memiliki 7 bawahan yang disebut dalam jabatan upappati. Untuk agama Syiwa (Hindu) jumlah upappati ada 5, sedangkan untuk agama Buddha jumlah upappati ada 2.

Sebenarnya pada masa Singasari, Dharmadyaksa adalah hakim tertinggi, atau pejabat setingkat menteri, khusus untuk agama Hindu saja (Kasaiwan). Namun pada masa akhir kerajaan Singasari, Prabu Kertanegara memutuskan untuk menganut agama Buddha sehingga diangkatlah Dharmadyaksa Kasogatan (Buddha) yang bernama Nada. Dang Acarya Nada ini mati terbunuh berdampingan dengan prabu Kertanegara pada tahun 1292 saat pemberontakan Jayakatwang meletus.

Prabu Kertanegara sendiri walaupun menganut agama Buddha, namun beliau tidak melepas agama Syiwa. Jadi Prabu Kertanegara menganut dua agama sekaligus dan merupakan satu-satunya raja yang tercatat memeluk agama Hindu dan Buddha.

Sebagai pemimpin dalam bidang keagamaan, selain memimpin upacara, para Brahmana juga diserahi tanggungjawab untuk memelihara candi-candi beserta tanah garapannya (hasilnya untuk biaya perawatan candi), makam keluarga raja, biara, rumah pemujaan dan tanah-tanah pemberian raja. Jadi walaupun secara teori para Brahmana merupakan warna yang paling tidak mencengkram harta, kenyataannya kehidupan para Brahmana pada masa Majapahit sangat sejahtera dan dilindungi oleh negara.

Ksatria

Golongan ini adalah para abdi negara termasuk raja, pegawai pemerintahan dan para prajurit. Tugas golongan ini hanya satu: melindungi negara.

Kaum ksatria yang dilantik sesuai dengan peraturan Weda, mempunyai kewajiban untuk melindungi dunia. Sebabnya, ketika umat manusia tanpa raja, hidup dalam ketakutan buyar bercerai berai, maka Brahman menciptakan raja yang diberi tugas melindungi manusia. Oleh karena itu, raja, meski muda sekalipun, pada hakikatnya bukan sembarang orang, melainkan pengejawantahan dewata mulia. untuk membantu dalam menunaikan tugasnya, Brahman memuja kemegahannya, yang menitis  menjadi Undang-Undang yang disebut Undang-Undang Pidana, sebagai sarana melindungi dan mengatur umat manusia. Hanya undang-undang pidana, yang menguasai segala makhluk hidup, melindungi dan menjaga mereka, baik waktu berjaga maupun tidur: pidana ini adalah sama dengan huku, undang-undang.

 

Waisya (Pedagang dan Petani)

Bidang kewajiban golongan waisya adalah:

  1. Dagang
  2. Meminjamkan uang
  3. Menggarap sawah
  4. Memelihara ternak

Anggota golongan waisya dilarang berpikiran bahwa dia tidak suka memelihara ternak. Jika piara ternak itu dilakukan oleh golongan waisya, golongan lain dilarang mengerjakannya.

Jadi disini ada pembagian pekerjaan. Seorang abdi negara misalnya, yaa, tugasnya melindungi negara. Dilarang untuk melakukan pekerjaan golongan lain misalnya berdagang.

Anggota waisya harus mempunyai pengetahuan baik mutu-manikam, mutiara, merjan logam, bahan tenun, minyak wangi, dan bahan ramuan, harus tahu akan cara menabur benih, membedakan ladang subur, dan cengkar, menggunakan timbangan. Apalagi tentang baik buruknya barang dagangan, pemilihan negara yang mungkin menguntungkan pasaran, perhitungan untung-rugi dan sarana-sarana bagi piara ternak, pembayaran upah yang layak kepada buruhnya, memiliki pengetahuan berbagai bahasa, cara menyimpan barang, dan peraturan jual-beli (Kitab Undang-Undang Kutara Manawa)

Golongan ketiga ini sudah memiliki ketergantungan terhadap harta. Milik mereka adalah milik mereka, bukan milik negara. Namun golongan ini walaupun dianggap kurang terhormat (karena terikat harta) namun sangat dihargai dan sangat diperhatikan, khususnya pada masa pemerintahan Thribuwana Tunggadewi dan Hayam Wuruk. Karena bagaimanapun, golongan waisya-lah yang menjamin ketahanan pangan negara. Konon Hayam Wuruk selalu menekankan agar diperhatikannya system perairan dan ketenangan masyarakat desa karena menurutnya, jika desa tentram dan golongan waisya tenang dan bahagia, maka hasil bumi akan melimpah-limpah yang pada akhirnya akan menyejahterakan seluruh rakyat baik yang di desa maupun yang di kota.

Dan bukan hanya arahan serta pidato raja saja, tapi juga masuk ke dalam UU negara.

Barang siapa membakar padi di ladang, tidak pandang besar-kecilnya, harus membayar padi lima kali lipat kepada pemiliknya, ditambah denda sebesar duapuluh ribu. Barang siapa mengurangi penghasilan makanan misalnya dengan mempersempit sawah atau membiarkan terbengkalai segala apa yang dapat menghasilkan makanan, atau melalaikan binatang piaraan apapun, kemudian hal tersebut diketahui orang banyak, orang yang demikian itu diperlakukan sebagai pencuri dan dikenakan pidana mati. Barang siapa yang melarang saudaranya untuk turut mengerjakan tanah, dikenakan denda 160 ribu oleh Sang Amawabhumi. Orang itu dikatakan: Atulak Kadang Warga.

Sudra

Kutara Manawa

Kutara Manawa

Bidang pekerjaan warna Sundra hanya satu, yaitu mengabdi, terutama pada warna Brahmana.

Menurut Kutara Manawa, ada beberapa golongan hamba (kawula):

  1. Greharja, adalah mereka yang terlahir dalam periode perhambaan, maka otomatis menjadi hamba
  2. Dwajeharta, mereka yang menjadi hamba karena kalah perang, atau tawanan perang
  3. Bhaktadasa, mereka yang tidak mampu membayar denda.

Anak-anak yang lahir dalam masa penghambaan disebut anak besi dan dengan sendirinya akan menjadi hamba di tempat yang sama dengan orangtuanya. Seorang tuan bisa memperlakukan hamba sekehendak hati, namun dilarang oleh undang-undang untuk menjualnya jika si hamba tidak menghendakinya. Jika seorang hamba diperintah untuk bekerja dan mendapatkan upah, maka upah itu adalah milik tuannya.

Dalam hal perkawinan dengan orang bebas, maka sebagai berikut:

  1. Jika perempuan bebas menikah dengan seorang hamba, maka salah satu anaknya adalah orang bebas. Anak atau anak-anak yang lain otomatis menjadi hamba seperti ayah mereka.
  2. Jika seorang laki-laki bebas menikah dengan seorang hamba, otmatis dia pun menjadi hamba seperti istrinya. Dengan sendirinya, seluruh anak mereka menjadi hamba
  3. Jika seorang tuan menikahi hambanya, maka anak-anak mereka adalah orang bebas namun tidak berhak mewarisi harta orangtuanya yang bebas itu. Kecuali jika orangtuanya yang bebas tidak memiliki anak lain. Maka sang anak otomatis mewarisi seluruh harta orangtuanya namun wajib membayar kebebasan dari orangtuanya yang hamba.

Golongan hamba boleh membeli kebebasannya dengan harga yang ditentukan oleh pemerintah. Harga ini dihitung dari makanan selama dia menjadi hamba yaitu 1600 pertahun. Untuk yang menjadi hamba karena tawanan perang, maka harga kebebasannya adalah 8000.

Candala, Mleccha, dan Tuccha

Menurut Nagara Kretagama, tiga golongan selanjutnya tidak dianggap warna. Atau kadang disebut sebagai warna kelima. Walaupun Kutara Manawa menyebutnya sebagai Dasyu.

Continue reading →

(Freak) The Mighty

Every word is part of a picture.

Every sentence is a picture.

All you do is let your imagination connect them together.

If you have an imagination, that is.

(Kevin Dillon)

The Mighty adalah film keluarga yang dirilis pada tahun 1998. Salah satu film layar lebar pertama yang saya saksikan dan saya mengingatnya sangat jelas sampai pada kalimat-kalimat yang diutarakan oleh Max. Kalau saya menutup mata bahkan, saya dapat seakan menyaksikan kembali kisah ini di putar di benak saya. Sedalam itulah film ini meninggalkan kesan kepada saya.

Diangkat dari novel remaja karya Rodman Philbrick, Freak The Mighty mengisahkan tentang petualangan, dan tentu saja, persahabatan dua anak remaja yang nampaknya memang ditakdirkan untuk bertemu satu sama lain.

Maxwell Kane sang penutur membuka kisah dengan memperkenalkan dirinya sendiri sebagai seseorang yang kalah. Kenyataan bahwa sampai kelas 7 ini dia tidak kunjung dapat membaca sudah membuktikan bahwa dia hanyalah anak idiot. Anak idiot berbadan besar yang tidak mampu membela dirinya sendiri. Jangankan berdiri untuk melawan anak-anak lain yang sering menyakitinya, bahkan menyatakan apa yang ada di kepalanya pun dia tidak berani. Itu kalo memang ada sesuatu yang terlintas di kepalanya. Max selalu merasa bahwa hidupnya adalah tidak ada pilihan lain. Dia sekolah, hidup, dan dirawat oleh kakek dan neneknya juga karena mereka tidak punya pilihan lain. Continue reading →

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta

Kisah di Film

Kisah dibuka dengan adegan pertarungan!

Yeaaay, I like it! Gak usah lebay-lebay mulainya, langsung hajar-hajaran aja!

Okeh, ini bukan perkelahian yang sesungguhnya, namun bagian dari pendidikan di Padepokan Ki Jejer, tempat Raden Mas Rangsang, putra raja Mataram Panembahan Hanyokrowati, menuntut ilmu.

Jadi ceritanya, Mas Rangsang ini sudah dikirim secara rahasia ke Padepokan sejak usianya 10 tahun. Ia adalah anak dari istri kedua yang memang disiapkan oleh ayahnya sebagai penerus tahta.

Panembahan Hanyokrowati sempat berjanji bahwa nanti yang diangkat menjadi penerus tahta adalah Raden Martapura, puteranya dengan istri pertama, Ratu Tulungayu. Sayangnya, sang putera mahkota, Raden Martapura, menderita tuna grahita yang tentunya tidak akan mampu memimpin negara.

Raden Mas Rangsang sangat menikmati hidup sebagai santri biasa di padepokan. Dia bahkan sempat menjalin cinta dengan Lembayung, putri kepala desa setempat. Yakin bahwa dia tidak berhak atas tahta (dia bukan putera mahkota), Raden Mas Rangsang sebenarnya sudah mulai merancang masa depan untuk menetap di padepokan. Bahkan sempat mengutarakan keinginannya ini kepada sang ibunda. Namun, ibunya mengingatkan bahwa dia adalah seorang satria, bukan brahmana.

Menarik pembagian golongan saat itu masih sangat terpengaruh pada system Hindu walaupun di padepokan Islam.

Setelah sang ayah meninggal dunia, tahta Mataram segera diteruskan kepada Pangeran Martapura, sesuai janji Sultan kepada permaisurinya. Namun dengan masa kekuasaan yang hanya satu hari saja (tentu ada konflik mengenai ini dan mana ada sih ibu yang rela anaknya diturunkan dari tahta). Raden Mas Rangsang yang baru berusia 20 tahun dinobatkan sebagai raja pada hari berikutnya dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Sementara itu, VOC semakin menggurita di Nusantara. Sultan Agung sebelumnya sudah melihat bagaimana cara licik VOC ini menjatuhkan Banda dan Batavia. Selalu diawali dengan perjanjian dagang dan tahu-tahu, raja terjungkal dari tahta. Seperti Pangeran Jayakarta yang diusir dari Sunda Kelapa. Menurut Sultan Agung, cara terbaik untuk menghadapi VOC adalah dengan menyerang mereka duluan. Dan ini tidak mudah. Sebelumnya Sultan Agung harus bisa mempersatukan para Adipati yang sudah tercerai berai oleh politik adu domba Belanda.

***

Sebelumnya, saya agak sedikit trauma setelah menonton film Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Film yang menurut review-review indah, puitis, dan sangat teatrikal. Buat saya hanya ada satu kata: membosankan! Serius. Gak sampai ketiduran nontonnya kayak saya nonton Deadpool 2 (yang sebagian karena saya merasa luarbiasa bosan dengan cerita superhero tapi mungkin juga karena saya nonton itu pas bulan puasa siang-siang dari luar panaaaas trus ketemu ruangan adem yaudah tidur, hehe). Nonton Tjokroaminoto saya musti nguap-nguap dan menatap dengan rasa tidak sabarpintu exit di depan.

Astagfirullahaladzim, kapan ini selesainyaaa?

Saat itu saya sampai kepikiran, apa harus kayak gitu? Apa film yang (katanya) bagus itu musti kita gak ngerti? Kalo kayak gini ya orang males nonton.

Gara-gara trauma itu, saya jadi memutuskan untuk gak nonton Kartini di bioskop (padahal ternyata filmnya bagus). Kemudian ada film Sultan Agung ini saya baru ngeh saat salah satu putri Sultan Hamengkubuwono X, GKR Bendara komentar yang jadi viral:

Aduuuh duh duh… hancur hati ku… yg memerankan Sultan Agung kok ya pake parang yg kecil dan warna nya biru pula. Padahal yg membuat Parang Barong adalah Ibu beliau. Malah yg memerankan Abdi dalem di belakangnya yg pake Parang lbh besar. Iki piye iki piye jal. Check di FB kratonjogja aja ada loh referensinya

Continue reading →

The First Grader

Sekarang kelas, silahkan duduk. Saya datang untuk mengucapkan perpisahan. Saya mengatakan kepada kalian, seekor kambing tidak dapat membaca. Seekor kambing tidak dapat menuliskan namanya. Kamu harus belajar sungguh-sungguh, atau kamu akan seperti aku. Seorangtua..yang tak lebih baik dari kambing.
Kimani N’gan’gan Maruge

Apakah ada sebuah rumusan yang bisa berlaku di setiap tempat di atas bumi ini untuk menyelesaikan permasalah pendidikan? Ouw, tentu saja. Kalo memang ada suatu rumusan yang tepat berguna untuk setiap kondisi dan situasi dalam setiap masalah secara umum, apalah serunya hidup ini pula, ya?

Sebelumnya dalam Waiting for Superman dikisahkan bahwa, uang ternyata bukan selalu jawaban. Uang memang bisa lebih memudahkan dalam beberapa hal, tapi jangan sangka bahwa itu bisa memecahkan setiap persoalan.

Continue reading →

Stand by Me

Chris: Yeah, but you’re gonna be stupid for the rest of your life.

Saya lagi penasaran dengan film-film coming of age era 80-an yang katanya bagus-bagus. Karena itu, liburan kemarin, yang kebetulan saya terjebak di rumah saja, saya habiskanlah dengan menonton film yang kebanyakan film jadul. Dari semuanya, mungkin yang paling berkesan buat saya adalah Stand by Me.

Oke, saat menulis postingan ini saya baru ngeh ternyata Stand by Me diangkat dari bukunya Stephen King yang berjudul The Body

Kisah di Film.

Kisah dinarasikan oleh Gordie Lachance, seorang pengarang yang tiba-tiba teringat masa kecilnya saat membaca berita bahwa sahabat semasa kecilnya yang kemudian menjadi seorang pengacara, Chris Chamber, meninggal dunia.

Gordie pada saat masih kecil adalah seorang anak yang pendiam, kutu buku, tapi suka bercerita. Waktu kecil petualangan ini terjadi, orangtua Gordie sedang mengabaikannya. Pasalnya, kakak Gordie, anak kesayangan orangtuanya, meninggal dunia. Dan orangtuanya ini terlihat sekali sangat menyesali Gordie yang menurut mereka mengecewakan. Gak bisa jago olahraga seperti kakaknya, ditambah temen-temen Gordie yang semuanya looser.

Gordie bersahabat dengan Teddy yang emang sih rada-rada gak bisa ngontrol diri. Pasalnya, ayahnya Teddy ini hobi memukuli anaknya. Bahkan pernah nyaris membakarnya. Jadi, itu mungkin kenapa Teddy suka tiba-tiba histeris. Nah, tapi ribetnya, selain kenyataan bahwa dia adalah korban kekerasan ayahnya, si Teddy ini super duper bangga sama ayahnya.

Bikin kening mengernyit, kan, ya…

Selain Teddy, ada juga Vern, bocah gendut yang selalu jadi korban bully di sekolah dan dirumah. Tapi mungkin diantara mereka, yang paling bikin khawatir orangtua Gordie adalah Chris, seorang anak yang dianggap anak nakal berasal dari keluarga pecandu alcohol dan criminal. Konon, gosipnya, Chris ini adalah seorang pencuri.

Pada suatu hari, Vern gak sengaja mendengar percakapan kakaknya yang menemukan tubuh bocah yang menghilang. Vern pun mengajak teman-temannya untuk pergi menuju lokasi tempat mayat si bocah. Yaaa, biar jadi terkenal aja gitu. Dan karena mereka semua iseng liburan gak ada kerjaan, pun nampaknya gak ada satu pun dari orangtua mereka yang peduli, akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke lokasi………dengan jalan kaki!

Iya, men. Ceritanya Cuma gitu aja. Tapi keren. Tau, kan jenis-jenis film yang ceritanya sederhana kayak dihukum sama-sama di hari minggu (The Breakfast Club) atau Komreh yang ceritanya tentang kendi tempat air yang pecah. Jenis cerita yang saya sukai: sederhana, biasa aja, tapi sangat mengispirasi.

**

Continue reading →