Frequency

Sesuatu yang tidak pernah kuceritakan, tentang ayahku. Dia meninggalkan kami saat usiaku 6 tahun. Dia dalam penyamaran untuk NYPD. Terlibat terlalu dalam. Lupa pihak mana yang dia perjuangkan. Kemudian suatu malam di tahun 1996, Dia menghilang. Mereka menemukan mayatnya di East River. Dua hari setelah ulangtahunku yang ke-8. Beberapa orang mengatakan kematiannya adalah sebuah tragedi. Yang lain mengatakan dia memang pantas menerimanya.

 

Kisah dibuka pada tahun 2016, seorang detektif perempuan bernama Raimy Sulivan sedang berbicara kepada Daniel Lawrence, tunangannya, mengenai ayahnya yang tewas secara tidak terhormat. Pulang ke rumah ibunya, Raimy bermaksud untuk merayakan hari ulang tahunnya ke 28 bersama sang tunangan. Di gudang rumah ibunya ini, Daniel menemukan sebuah radio amatir. Teringat masa kecil, dia mencoba membetulkan radio amatir tersebut.

Beberapa saat kemudian, Raimy menyadari kalau radio amatir yang sudah lama mati itu kembali menyala. Dia dengan segera terlibat dengan percakapan dengan seorang pria yang kemudian disadarinya bahwa itu adalah ayahnya sendiri yang sudah lama meninggal dunia.

Frank Sullivan
Frank Sullivan

Ayah Raimy, Frank Sullivan adalah seorang polisi yang tewas saat bertugas. Sementara Raimy dikenal sebagai seorang detektif yang cemerlang, Frank justru dianggap sebagai polisi korup. Raimy yang sangat merindukan ayahnya ini berusaha untuk memperingatkan tentang kematian. Ayahnya selamat, bahkan duo ayah dan puterinya ini sempat bertugas bersama-sama sebelum Frank meninggal dunia pada tahun 2012 karena kecelakaan.

Ada tiga pendapat mengenai perubahan waktu seperti ini, secara teori. Pendapat satu , tidak akan berubah. Itu takdir. Jadi apa yang sudah terjadi, pasti terjadi seperti itu. Kalau Frank sudah ditakdirkan mati pada tahun 1996, maka walaupun anaknya sudah memperingatkan, Frank tetap akan mati. Dia bisa saja berusaha mengindar, tapi pasti gagal. Film seri Heroes season 1 (sebelum jadinya awut-awutan) nampaknya mengikuti pendapat yang ini. Hiro Nakamura kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan Charlie, namun tidak berhasil. Berapa kalipun Hiro kembali ke masa lalu, tetap saja akhirnya sama: Charlie mati. Jadi yang masih bisa kita ubah ada masa depan, bukan masa lalu.

Seperti kata Kaito Nakamura kepada Hiro, punya kekuatan Tuhan bukan berarti punya hak untuk bertindak jadi Tuhan.

Pendapat yang kedua berkaitan dengan dunia parallel. Frank tidak mati, tapi dunia Raimy di masa depan tidak akan berubah. Tidak matinya Frank akan menimbulkan kenyataan baru. Dunia yang lama tetap berjalan, namun dunia yang baru tercipta. Dua dunia akan terus berjalan. Film seri Lost mengikuti pendapat yang kedua ini.

Pendapat yang ketiga, yang paling populer dan dreamy tentunya adalah, kita bisa memperbaiki masa lalu. Dan Frequency mengambil pendapat yang ini. Hanya yang jadi masalah, saat waktu berubah, kita pun merubah sesuatu  yang mungkin berdampak besar di kemudian hari.

Raimy Sullivan
Raimy Sullivan

Jadi Frank tidak mati, dia bahkan punya kesempatan untuk membuktikan kalau dia bukan polisi korup.. Sementara bagi Frank dunia tetap seperti yang dia tahu, bagi Raimy tentunya tidak sesederhana itu. Ingatan-ingatan baru muncul beserta kenyataan-kenyataan yang baru.

Kalo kata Hiro Nakamura, Raimy udah nginjek kupu-kupu. Kalau kata orang Indonesia mah, Raimy baru aja makan buah simalakama.  Dia makan buah karena tahu, kalo gak makan ayahnya mati. Yang dia tidak tahu adalah saat dia makan buah simalakama, ibunya mati.

Kupu-kupu yang Raimy injak saat itu nampaknya berkaitan dengan nasib serial killer yang disebut Nightingale. Di dunia saat Frank meninggal, Nightingale membunuh tiga orang dan berhenti. Namun saat Frank hidup, Nightingale terus aktif sampai 20 tahun yang akan datang. Ironisnya, salah satu dari korban adalah Julie Sullivan, ibu Raimy. Dan apapun yang berkaitan dengan Julie di dunia Raimy yang baru ikut berubah. Termasuk Daniel, tunangannya, sekarang tidak lagi mengenalnya.  Sebab Raimy dan Daniel memang diperkenalkan oleh Julie.

***

Frank dan John Sullivan di Film Frequency
Frank dan John Sullivan di Film Frequency

Terus terang, saat mulai menonton, saya sebenarnya tidak berharap banyak dengan serial ini. Saya menonton hanya karena dulu, saya suka filmnya.  Yup, betul, memang TV Seri ini diangkat dari film berjudul sama yang keluar pada tahun 2000. Lucunya, sama seperti TV Serinya, saat pertama kali menonton film, saya pun tidak berharap banyak. Saya lupa menonton film ini tahun berapa (yang pasti bukan tahun 2000), tapi saya ingat menonton film ini di bioskop pasar murahan saat itu.

Saya sendiri gak tahu apa itu bioskop remang-remang atau gimana yang jelas harga tiketnya 2000 rupiah, di salah satu pasar tradisional di Bandung. Kabupaten Bandung, bukan kota Bandung, ya..

Saat itu saya bersama tiga orang kawan yang semuanya adalah mahasiswa baru UNPAD asal Jakarta nyasar di situ. Namanya juga anak baru dan kebingungan arah, kita duduk sambil minum es kelapa kepanasan menatap layar besar film yang sedang tayang. Sangat jadul! Film-filmnya juga jadul. Karena bingung mau ngapain (biasa anak kost gak ada kerjaan), kita masuklah ke bioskop tersebut memilih film yang paling rada meyakinkan yaitu Frequency. Dan, beuh, jangan ditanya keadaan di dalamnya mana kursinya bau aneh dan bikin gatel-gatel, hawanya panas boro-boro ada AC. Kayak nonton layar tancep tapi dalam ruangan yang pengap. Salah satu temen ada yang curiga dan minta keluar. Tapi karena filmnya ternyata …..bagus euy, kita pun bertahan sampai film selesai.

Kalau diinget mah, rada begidik juga sih, ya.. Empat orang cewek maba planga plongo kok masuk bioskop kayak gitu. Tapi itu pengalaman yang lucu. Kalau diinget, kita berempat masih ketawa ngakak.

Aku menjadi polisi bukan karena apa yang terjadi dengan ibu, tapi karena ayahku polisi. Ibu ingin aku menjadi astronot, tapi aku memilih untuk mengambil pisau yang disodorkan ayahku.

Film yang tahun 2000 terlalu cengeng menurut saya. Ya, soalnya ini kan cerita antara ayah dan puteranya. Nampaknya pendapat saya diamini oleh Jeremy Carver yang merubah sosok si anak yang tadinya laki-laki penjadi perempuan. Tentu, berubahnya hubungan menjadi ayah dan puterinya ikut merubah tone cerita menjadi lebih personal dan nyata kedekatannya. Raimy begitu kehilangan dan merindukan ayahnya. Karena anak perempuan, apalagi anak pertama, itu merasa dekat kepada ayah lebih dari siapapun.

Dibanding Frank, dunia Raimy lebih tergoncang. Dia merasa bersalah sebab karena dialah ibunya meninggal dunia. Karakternya pun nampaknya ikut berubah.

Raimy yang sebelumnya besar dengan ibunya. Setelah kejadian malam itu, Raimy tetap Raimy yang sama, namun buat orang lain seharusnya, dia adalah Raimy yang besar dengan ayahnya. Sahabat karibnya, Gordo, mengungkapkan keheranannya dengan perubahan karakter Raimy yang tadinya fun menjadi Raimy yang serius. Yaa, itulah seorang ibu tunggal membesarkan anaknya. Selalu penuh kekhawatiran. Tapi ayah biasanya lebih santai.

Kasus utama di sini adalah Nightingale, tapi untungnya gak muter di situ aja. Baik Raimy maupun Frank berusaha bekerja sama untuk menyelamatkan Julie, namun tentunya tidak segampang yang dibayangkan oleh mereka berdua. Saya dari terharu sampe geregetan juga dengan partnership mereka, karena berubahnya dunia dalam hitungan detik. Dua-duanya menangani kasus yang sama, jadinya sangat berhubungan.

Kebayang gak sih, pas Raimy udah dapet petunjuk dan kembali ke rumah tersangka, detik yang sama 20 tahun yang lalu ayahnya menemukan bukti keterlibatan orang yang sama itu. Dan tau-tau aja, pas Raimy ngetuk pintu, orang yang buka pintu udah beda. Atau pas tersangka tertangkap sedang digebukin sama Raimy (emang dah ni cewek), detik yang sama 20 tahun yang lalu, orang yang sama lagi dikejar-kejar sama Frank dan mati ketabrak mobil. Gondok banget gak sih tau-tau orang yang udah ditangkep eh ilang aja.

Walaupun usia Raimy lebih tua dari ayahnya, tapi ayahnya terlihat lebih sabar menghadapi anaknya yang sering meluap-luap. Tapi, yah, semakin ke sini episodenya, Raimy semakin mulai terlihat berkepala dingin. Kalau sebelumnya dia masih tergoncang setelah kematian ibunya dan 20 korban lain, dia semakin bisa menerima dan menyelidiki dengan lebih tenang

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s