Kisah Seorang Pedagang Darah

Sebaiknya membaca dulu tulisan yang ini.

Awal bulan ini saya membaca novel karangan Yu Hua yang berjudul Chronicle of a Blood Merchant. Judul bahasa Indonesianya,  Kisah Seorang Pedagang Darah. Kalau anda suka dengan drama yang nyerempet-nyerempet sejarah, atau lebih spesifiknya masa Revolusi Kebudayaan di Cina, saya yakin Anda akan suka buku ini.

Kali ini tokoh yang dikisahkan adalah seorang pria bernama Xu Sanguan. Kisah hidupnya tidak terlalu istimewa. Ayahnya meninggal saat kecil, ibunya pergi dari rumah meninggalkannya sendirian. Mungkin ibunya punya kekasih baru atau apa. Sanguan yang teringat bahwa dia masih memiliki kakek di desa, berjalan kaki menyusuri jalan pulang kampung. Beruntung, keluarganya memang masih ada dan dia diterima dan dibesarkan dengan baik. Bergulat dengan kemiskinan, tapi dia diperlakukan baik oleh kakek dan paman-pamannya. Saat besar, Sanguan bekerja di sebuah pabrik kain sutra sebagai pendorong gerobak kepompong. Di saat-saat libur, dia pulang ke desa kakeknya untuk membantu di kebun semangka.

Pada suatu hari, saat Sanguan dan salah satu pamannya bekerja di ladang di desa, datanglah seorang perempuan yang menceritakan bahwa dia tidak jadi menikahkan anak perempuannya. Sebab, si laki-laki calon mantu, badannya soak (ringkih). Buktinya, calon mantunya itu tidak pernah jual darah lagi.

Di desa ada semacam kebiasaan seorang laki-laki dewasa akan ke kota dari waktu ke waktu untuk menjual darahnya di rumah sakit. Bagi orang tersebut, selain akan mendapatkan uang 35 Yuan harga darahnya, yang setara dengan penghasilan seorang petani selama setahun, dia juga akan dipandang kuat dan sehat bagi orang lain. Salah satu bahan penilaian untuk menjadi menantu. Masuk akal juga, sih, ya.. Lah, kan kalau sakit menular, tekanan darah tinggi atau rendah, pasti juga gak boleh donor darah.

Nah, karena penasaran (akan status kesehatan calon mantunya), diundanglah si laki-laki untuk makan di rumahnya. Ingin tahu, berapa banyak nasi yang sanggup dihabiskan. Kalau si calon mantu bisa makan minimal dua mangkuk nasi, Calon Mertua akan merasa lega. Kalau sampai tiga mangkuk, sudah pastilah jadi! Karena itu berarti, calon mantunya laki-laki yang sehat dan kuat. Tapi ternyata, laki-laki ini hanya sanggup menghabiskan satu mangkuk nasi saja. Maka pertunangan anaknya dibatalkan saat itu juga.

Jadi, pelajarannya, buat laki-laki kalau diundang makan calon mertua, jangan makan dulu dari rumah. Kalo makan lo dikit, nanti dikira gak sehat.

Sanguan pun ikut-ikutan jual darahnya ke rumah sakit. Belajar bagaimana caranya, prosesnya, sampai mematuhi pendapat umum kalau ‘uang darah’ itu berbeda dengan ‘uang keringat’. ‘Uang darah’ tidak boleh dihabiskan untuk hal-hal yang tidak penting atau bahkan untuk kebutuhan sehari-hari. Karena itu bagian dari tubuhnya, kesehatannya sendiri. Maka Sanguan pun berniat untuk menggunakan uang darahnya ini sebagai biaya untuk menikah. Dan wanita yang ingin dinikahi oleh Sanguan bernama Yulan, kebetulan memiliki marga yang sama dengannya yaitu Xu.

Sembilan tahun kemudian, anggota keluarga Sanguan kini berjumlah lima orang. Selain dia dan istrinya, mereka dikaruniai tiga anak laki-laki yaitu Xu Yile (bahagia satu), Xu Erle (bahagia dua), dan Xu Sanle (bahagia tiga). Dari ketiga anaknya ini, satu orang agak berbeda perangainya yaitu anak yang pertama, Yile. Sementara kedua adiknya lebih tenang dan memecahkan persoalan dengan bicara, Yile bertindak lebih dahulu baru ngeh dengan konsekuensinya. Tapi bagaimanapun, bagi Sanguan, Yile adalah putera kesayangannya. Putera kebanggaannya. Namun, kebahagiaan keluarga ini terusik dengan rumor yang semakin berkembang bahwa Yile, bukan anak Sanguan. Tapi anaknya Xu Yulan bersama mantan pacarnya, yaitu He Xiaoyong.

Kewibawaan Sanguan tercederai, sementara itu dunia di sekelilingnya berubah. Revolusi Kebudayaan menjelang. Sebuah masa kelam di Cina yang memunculkan banyak kisah perjuangan hidup melawan dinginnya  kelaparan dan keputusasaan.

………………….

Sama dengan novel Yu Hua sebelumnya yang saya baca yaitu Hidup (To Live), buku ini juga tidak dapat saya letakkan. Sejak awal sudah megangin saya begitu eratnya. Sama-sama mengisahkan masa yang sama, namun untuk Kisah Seorang Pedagang Darah, ceritanya lebih dinamis. Tidak hanya mengisahkan ketidakberdayaan seseorang di zaman yang sungguh edan itu, tapi juga bagaimana untuk hidup dan berjuang bersama.

Jika di kisah Fugui di kisah To Live adalah seseorang yang bodoh dan nyaris tak berdaya, di kisah ini Sanguan dan keluarganya punya kemampuan untuk melawan dan beradaptasi. Istri Sanguan bukanlah perempuan ‘lemah’ seperti istrinya Fugui. Yulan seseorang yang cerdas dalam mengelola keuangan keluarga, sehingga pada saat-saat tersulit, keluarga ini masih sanggup bertahan dari kelaparan. Sejak awal, dia sudah bisa memprediksi bahwa krisis pangan akan melanda dalam waktu yang cukup lama. Sehingga pada saat barang-barang masih tersedia, dia sudah sibuk mengumpulkan jagung dan menggilingnya untuk dijadikan tepung. Sebab nanti akan ada saatnya mereka tidak akan makan nasi pada waktu yang lama, maka tepung jagung akan berguna sekali untuk mengentalkan bubur yang encer sehingga lebih mengenyangkan.

Beneran, loh. Awal-awal saya sampai mengerutkan kening dengan terlalu hematnya Yulan dalam mengatur rumah tangga. Masa iya, jatah sarung tangan sutra punya suaminya (yang kerja di pabrik kain sutra) per bulan itu dikumpulkan, lalu dibongkar untuk dijadikan kemeja? Ampe segitunyaaaa… Trus tiap hari, musti gitu mengambil segenggam beras dari jatah beras harian yang dikumpulkannya dan dimasukkan tempayan. Tapi, yah, kebiasaan ‘menabung’ Yulan lah yang ada akhirnya menyelamatkan keluarga ini dari kelaparan yang panjang.

Kita gak pernah tahu apa yang nanti terjadi, cuy. Mau dibilang ada asuransi juga, tapi kalau udah negara yang bangkrut, semua menanggung pahitnya.

Kelaparan bukanlah satu-satunya hal yang dihadapi keluarga ini. Rumor yang berkembang mengenai Yile membuat status sosial Yulan jatuh. Dia oleh masyarakat dianggap pelacur dan pada saat bangkitnya sosialisme di Cina, Yulan pun musti merasakan pahitnya dihakimi oleh masyarakat. Bukan hanya dibenci dan dikatai, Yulan pun berkali-kali musti digeret keluar, dihakimi, digunduli, dipukuli, sampai dipajang di pinggir jalan selama berhari-hari. Setelah itu, ada pula yang namanya masa kerja paksa yang memisahkan mereka.

Selain menarik untuk disimak masa-masa dalam pandangan sejarahnya, saya kira ini juga banyak memberikan pelajaran mengenai hidup berkeluarga. Keluarga yang dibangun Sanguan bersama Yulan adalah keluarga yang bahagia. Kisah cinta mereka berdua pun langgeng sampai akhir. Tentunya, gak pernah ada yang namanya kisah cinta bahagia itu seperti Romeo dan Juliet selalu romantis dari awal sampai maut memisahkan, pasti ada saat-saatnya bertemu dengan benturan dan pertengkaran. Terkadang berlangsung lama dan begitu besarnya sehingga masing-masing menyangka tidak mungkin tetap bersama. Tapi toh mereka berdua, berlima deng anak-anak juga, bisa mengatasinya  pada akhirnya.

Film

Novel ini sudah diadaptasi film oleh Korea Selatan dengan judul yang sama. Saya sungguh penasaran sekali, karena ini kan sangat berkaitan dengan kejadian sejarah di Cina, lah bagaimana diadaptasi oleh negara lain? Kayak misalnya Bumi Manusia mau diadaptasi Malaysia atau Thailand, gitu. Kan gimana? Emangnya mereka mengalami yang namanya Politik Etis?

Eh, tapi filmnya, hasilnya…bagus.

Tentu tidak se-kaya novelnya namun adaptasi filmnya sendiri menurut saya berhasil mengambil satu tema yang sangat penting di sini: keluarga. Bagaimana perjuangan ayah dan ibu demi anak-anaknya yang, yah, apapun, deh! Berusaha jual darah berkali-kali dalam satu hari, jual ginjal sekalian! Demi anak, apa sih yang tidak dilakukan oleh orangtua?

Tidak ada kisah tentang Revolusi Kebudayaan, makan di kantin sama-sama, kerja paksa, kelaparan, atau penghakiman public. Ini lebih focus kepada perjuangan keluarga ini menghadapi kemiskinan. Latar di film tentunya harus diganti. Dari yang di buku adalah Cina saat beralih menjadi negara republik (sebelumnya kerajaan) sampai Revolusi Kebudayaan berakhir, menjadi di film setingnya Korea Selatan pasca Perang Korea. Mengenai status Yile, di film lebih dibuat gamblang dengan menceritakan bahwa ayahnya sampai melakukan tes darah anaknya yang ternyata diketahui bahwa golongan darah putera sulungnya ini memang tidak sama dengan ayah ibunya. Sementara di novel, tidak ada kepastian seperti itu. Hanya menurut orang-orang, Yile tidak mirip ayah dan ibunya.

Ampun, dah. Hanya karena itu? Lah, bisa aja kan Si Yile mirip sama ayahnya Sanguan yang udah mati waktu Sanguan masih kecil.

Buat yang gak begitu suka baca, filmnya bagus. Dan bisa untuk keluarga. Saya terutama terkesan dengan Nam Da-reum yang berakting sebagai Heo Il-rak (Yile kalau di buku), anak yang sebetulnya tidak punya salah apa-apa, tapi harus terbebani dengan kenyataan bahwa dia bukan anak kandung ayahnya. Tapi tentunya lebih baik baca bukunya. Banyak hal yang dihilangkan dari buku.

Iklan

One thought on “Kisah Seorang Pedagang Darah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s